Di Balik Pembredelan Lukisan, Ada Soal Kedaulatan Pangan yang Terlupakan?

Table of Contents

Wih, ada drama apa nih di dunia seni? Ternyata ada pameran seni yang dibatalin, tapi malah jadi makin rame dibahas. Yuk, kita bedah bareng-bareng!

Pameran yang Gagal, Tapi Viral!

Jadi, ceritanya ada pameran tunggal karya Yos Suprapto di Galeri Nasional Jakarta, yang bertema “Kebangkitan: Tanah Untuk Kedaulatan Pangan”. Tadinya pameran ini mau digelar dari 20 Desember 2024 sampai 19 Januari 2025. Sayangnya, pameran ini batal karena ada beberapa pihak yang menilai karya-karya Yos itu vulgar, kehilangan metafora, dan malah menampilkan ketelanjangan serta caci maki. Waduh, kok bisa ya?

Lukisan Yos Suprapto
image just illustration

Kontroversi dan Pembelaan

Karya-karya Yos yang dinilai kontroversial ini mendapat tanggapan dari kurator Suwarno Wisetrotomo dan bahkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Tapi, Yos sendiri nggak terima tuh. Dia bilang, ketelanjangan dalam seni itu simbol kejujuran dan kepolosan. Dia juga mengutip Pablo Picasso, “The beauty is in the eye of the beholder,” alias keindahan itu tergantung dari mata yang melihat.

Meskipun pamerannya batal, perdebatan ini malah bikin karya-karyanya Yos makin dikenal luas di media sosial dan pemberitaan. Tapi, ada yang merasa perdebatan ini terlalu fokus pada aspek vulgar aja, lho. Menurut seniman Yogyakarta, Iwan Wijono, harusnya perdebatan ini juga ngebahas soal pangan di Indonesia. Iya juga sih, kan tema pamerannya aja soal kedaulatan pangan.

Kritik Lewat Lukisan

Karya-karya Yos ini ternyata bukan sekadar lukisan biasa, guys. Ada lima lukisan yang jadi sorotan, yaitu Konoha I, Konoha II, Niscaya, Makan Malam, dan 2019. Kelima lukisan ini adalah hasil penelitian Yos selama 15 tahun tentang persoalan pangan di Indonesia. Yos pengen nunjukkin kalau lahan pertanian itu nggak bisa dipisahin dari kekuasaan.

Salah satu lukisannya, Konoha II, menampilkan kritik tajam terhadap kekuasaan. Ada gambaran raja yang menikmati buah-buahan dan wine, sementara di bawahnya ada orang-orang yang saling menjilat, dan petani yang berteriak-teriak. Lukisan ini nyindir banget relasi kekuasaan, eksploitasi, dan keterpinggiran petani. Lukisan Konoha I juga nggak kalah nampol, menggambarkan raja yang menginjak manusia, dikawal orang bersenjata.

Kekuasaan dan Keterkaitan dengan Pangan

Seniman Bambang Adyatmata atau Yayak Yatmaka juga setuju kalau kekuasaan dan pangan itu nggak bisa dipisahin. Dia bilang tema karya Yos relevan banget sama kegagalan pemerintah, khususnya dalam proyek food estate. Menurut WALHI, proyek food estate malah bikin penggusuran paksa, kriminalisasi petani, dan perusakan lingkungan. Duh, parah juga ya!

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid juga punya pendapat yang sama. Dia bilang, karya Yos ini bukan cuma soal keindahan, tapi juga kritik terhadap kebijakan negara dalam mengelola tanah untuk masyarakat. Karya Yos ini juga kritik terhadap negara yang dianggap nggak beretika dalam mengelola tanah.

Intinya…

Jadi, pembatalan pameran Yos ini kayaknya bukan cuma soal vulgar atau nggaknya karya seni. Ada isu yang lebih besar di baliknya, yaitu soal kedaulatan pangan, kekuasaan, dan pengelolaan tanah di Indonesia. Nah, gimana pendapat kamu tentang hal ini? Apakah seni memang bisa jadi media kritik sosial? Yuk, tulis di kolom komentar! Jangan lupa untuk kembali lagi jika ingin mendapatkan info menarik lainnya.

Posting Komentar