"Geger! Penilaian OCCRP ke Jokowi Dibilang Gak Ilmiah & Bias"

Table of Contents

Wih, ada berita heboh nih! Katanya, penilaian OCCRP ke Jokowi itu gak ilmiah dan bias? Penasaran kan? Yuk, kita bedah bareng-bareng!

Geger! Penilaian OCCRP ke Jokowi Dibilang Gak Ilmiah & Bias

LSI from Geger! Penilaian OCCRP ke Jokowi Dibilang Gak Ilmiah & Bias
image just illustration

Pengamat Angkat Bicara

Teks nih, guys, jadi ceritanya pengamat komunikasi politik dari Universitas Bung Karno, Faisyal Chaniago, angkat bicara soal laporan yang bilang Presiden Jokowi termasuk salah satu pemimpin terkorup di dunia. Menurutnya, penilaian dari Organize Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) ini perlu diusut lebih lanjut karena dianggap gak valid dan gak berdasar data hukum yang jelas.

Metode Polling Google Form Dipertanyakan

Faisyal bilang metode yang dipakai OCCRP itu meragukan. Katanya, mereka malah pakai polling lewat Google Form! Wah, emangnya bisa ya, menilai korupsi pakai Google Form? Faisyal jelas gak setuju, karena menurutnya korupsi itu isu besar yang butuh analisis mendalam dan data yang kuat, bukan cuma polling biasa. Ini dia yang jadi sorotan utamanya.

Indikator Korupsi Bikin Bingung

Gak cuma itu aja, Faisyal juga kritik konsep yang dipakai OCCRP buat menilai pemimpin dunia. Dia bilang, OCCRP bikin indikator sendiri tentang korupsi tanpa data dan fakta yang jelas. “Kalau semua lembaga bebas bikin variabel, bisa-bisa jadi bias dan salah,” katanya. Menurutnya, konsep yang gak ilmiah gini bisa disalahgunakan buat tujuan politik.

Variabel Bias: Menjarah Sumber Daya Alam

Salah satu variabel yang bikin Faisyal geleng-geleng kepala adalah “menjarah sumber daya alam”. Menurutnya, kalau variabel ini dipakai, harusnya banyak pemimpin negara industri yang juga masuk kategori korup, karena mereka juga merusak lingkungan. Lah, kok malah negara lain yang disasar? Kata Faisyal, “Kenapa OCCRP gak masukin presiden negara-negara Eropa dan Amerika yang udah nyata merusak lingkungan?”

Pelanggaran HAM di Timur Tengah Ikut Disenggol

Faisyal juga menyentil soal pelanggaran HAM yang lebih besar di negara lain, terutama yang melibatkan negara besar kayak Amerika Serikat. “Presiden yang paling banyak melanggar HAM itu bukan Jokowi. Kasus perang di kawasan Timur Tengah, seperti perang Irak, misalnya,” tegasnya. Dia bilang, Amerika Serikat jadi aktor utama hilangnya hak rakyat Irak, tapi kenapa pemimpinnya gak disebut pemimpin terkorup?

Laporan OCCRP Dipakai untuk Serang Jokowi?

Faisyal juga menduga laporan OCCRP ini dimanfaatkan politisi yang gak suka Jokowi buat menyerang citra presiden. “Berita OCCRP ini digunakan oleh politisi-politisi yang tak suka dengan Jokowi sebagai senjata untuk menyudutkan Jokowi,” ujarnya.

Meski begitu, Faisyal tetap mengakui jasa-jasa Jokowi untuk bangsa ini, terutama dalam pembangunan infrastruktur yang manfaatnya sudah dirasakan masyarakat.

Kesimpulan

Intinya, Faisyal minta semua pihak buat gak langsung percaya sama penilaian OCCRP tanpa melihat konteks yang lebih luas dan fakta yang lebih objektif. Penting banget buat kita semua jadi lebih kritis dalam menerima informasi, apalagi di dunia politik yang penuh agenda tersembunyi.

Gimana menurut kalian guys? Setuju dengan pendapat pengamat ini atau punya pandangan lain? Yuk, kita diskusi di kolom komentar! Jangan lupa, kalau mau info-info menarik lainnya, mampir lagi ya!

Posting Komentar