Obat Generik China Diragukan? Dokter Bilang Gak Ampuh, Warga Ogah Beli!
Kabar kurang sedap datang dari negeri tirai bambu, China. Para dokter di sana lagi pada khawatir nih soal obat generik. Katanya sih, obat-obatan ini nggak seefektif yang diharapkan, terutama di rumah sakit umum. Wah, jelas aja ini bikin masyarakat jadi bertanya-tanya dan khawatir.
Para dokter ini punya pendapat bahwa sistem pengadaan obat generik yang sekarang berlaku itu, meskipun tujuannya buat menekan biaya, malah jadi bumerang. Mereka khawatir keselamatan pasien jadi taruhannya karena obatnya jadi kurang manjur. Padahal kan, kesehatan itu nomor satu ya?
Pihak pemerintah China sendiri, lewat beberapa media pemerintah, mencoba menenangkan situasi. Mereka bilang ini cuma masalah perbedaan persepsi aja. Tapi ya namanya juga di lapangan, masalahnya tetap aja kerasa kan?
Awal Mula Polemik Obat Generik di China¶
Semua keributan ini sebenernya udah mulai sejak Desember 2024 lalu. Waktu itu, pemerintah China ngumumin daftar perusahaan yang menang tender buat nyuplai obat ke rumah sakit pemerintah. Hampir semua pemenangnya itu produsen obat generik lokal. Nah, dari situ deh mulai rame diperbincangkan.
Puncaknya pas Januari 2025. Ada video wawancara sama seorang direktur rumah sakit di Shanghai, namanya Zheng Hua, yang viral banget. Di video itu, dr. Zheng nyeritain kekhawatirannya soal sistem pengadaan obat ini.
Dr. Zheng Minhua (mungkin maksudnya Zheng Hua ya?) ini blak-blakan soal berbagai masalah yang dia temuin. Mulai dari antibiotik yang malah bikin alergi, obat darah tinggi yang nggak nurunin tekanan darah, pasien yang masih sadar padahal udah dibius, sampai obat pencahar yang nggak mempan. Waduh, serem juga ya?
Omongan dr. Zheng ini langsung jadi sorotan. Bahkan jadi slogan di media sosial dan udah dilihat jutaan orang. Walaupun sebenernya, banyak juga pembahasan soal ini yang kena sensor di Weibo. Kayaknya pemerintah China juga nggak mau isu ini jadi terlalu besar.
Meskipun begitu, banyak masyarakat yang akhirnya ikut curhat soal pengalaman buruk mereka pakai obat-obatan yang diduga kualitasnya kurang oke. Ada yang bilang obat pencaharnya nggak ngaruh sama sekali, padahal udah dosis dobel. Akhirnya malah minum kopi biar ususnya bersih. Repot juga ya kalau gini.
Kekhawatiran Masyarakat: Obat Generik Kurang Tokcer?¶
Gara-gara isu ini, banyak masyarakat jadi nggak percaya sama obat generik. Mereka jadi ragu buat pakai obat yang diresepkan dokter kalau ternyata obatnya generik. Padahal kan, obat generik itu seharusnya sama aja kandungannya sama obat paten, cuma beda merek aja.
Ada cerita dari pengguna Xiaohongshu (semacam Instagram-nya China). Dia bilang, pas dokter rumah sakit ngasih resep antibiotik generik, dia langsung beli obat yang merek paten secara online. Alasannya, obat generik itu “rasanya beda”. Hmm, rasa obat kok jadi patokan ya? Tapi mungkin maksudnya efeknya kali ya yang beda dirasa.
Pengguna Xiaohongshu ini juga ngingetin teman-temannya buat selalu cek merek obat sebelum beli, apalagi lagi musim flu kayak sekarang. Wah, lumayan juga nih infonya, jadi lebih hati-hati.
Beberapa postingan populer yang bahas soal kontroversi obat generik ini malah dihapus. Nggak jelas juga siapa yang ngehapus, tapi ya gitu deh, internet di China kan emang diawasin ketat. Budaya sensornya kuat banget.
Seorang podcaster terkenal, Meng Chang, juga sempat nyindir soal kurangnya obat impor di rumah sakit pemerintah. Katanya, “Kalau ini bukan tujuan akhirnya, saya nggak tahu lagi apa tujuan akhirnya.” Wah, sindirannya lumayan pedas juga nih.
Kemarahan masyarakat juga makin menjadi karena mereka jadi susah akses obat impor yang dianggap lebih berkualitas. Padahal kan, kalau ada pilihan yang lebih baik, kenapa nggak dikasih ya?
Menanggapi semua kekhawatiran ini, pemerintah China berusaha meyakinkan masyarakat soal kualitas obat generik. Tapi ya, tanggapannya kayaknya nggak terlalu ngefek. Malah ada pengguna Weibo yang nyeletuk, “Selama kita diizinkan beli obat bermerek, saya nggak ada keluhan lain.” Tuh kan, masyarakat maunya yang pasti-pasti aja.
Sistem Pengadaan Obat di China: Kok Bisa Harga Obat Jadi Semurah Itu?¶
Sistem pengadaan obat di China ini sebenernya udah ada sejak 2018. Tujuannya bagus sih, buat nurunin pengeluaran negara untuk obat-obatan. Pemerintah pusat ngajak pemerintah daerah buat ikutan tender, buat nyediain 70% kebutuhan obat tahunan rumah sakit negara.
Nah, para produsen obat ini jadi berlomba-lomba nawarin harga terendah biar menang kontrak. Otomatis, obat generik yang diproduksi di dalam negeri jadi lebih diuntungkan. Soalnya, obat generik ini kandungannya sama kayak obat paten, tapi harganya bisa lebih murah karena nggak perlu biaya riset dan pengembangan yang mahal.
China emang udah jadi pemain besar di pasar farmasi generik global. Mereka ekspor produk jadi ke luar negeri dan bahan baku obat ke perusahaan asing. Di dalam negeri juga, ribuan produsen obat generik saling bersaing buat jual produk mereka di pasar domestik yang terus berkembang.
Biar obat generik bisa ikut tender di China, syaratnya harus diuji dulu dan dipastikan mirip sama obat paten. Pemerintah China bangga banget sama sistem pengadaan obat ini, katanya udah hemat sampai 50 miliar dollar AS dalam lima tahun pertama. Wow, gede juga ya penghematannya.
Tapi, ya namanya juga tender, persaingannya jadi ketat banget. Beberapa produsen bahkan nawarin obat dengan harga murah banget. Contohnya, ada tablet aspirin yang menang tender dengan harga kurang dari satu sen! Busyet, murah amat!
“Tablet obat yang harganya kurang dari satu sen bisa dikonsumsi?” Pertanyaan ini sempat jadi trending topic di Weibo. Ya iyalah, orang jadi mikir, kok bisa semurah itu?
Profesor Stacy Zhang dari NYU Langone Health bilang, produsen yang menang tender dengan harga murah seringkali kesulitan buat bikin obat berkualitas tinggi dengan bahan yang tepat. Akibatnya, obatnya bisa jadi nggak efektif. Masuk akal juga sih, harga murah banget, kualitasnya jadi tanda tanya.
Profesor Zhang juga nambahin, sistem pengadaan ini sebenernya nggak melarang akses ke obat paten impor. Tapi, mungkin aja sistem ini mempengaruhi ketersediaannya. Kayaknya sih, rumah sakit jadi lebih milih obat generik yang lebih murah daripada obat paten impor yang mahal.
Efektivitas Obat Generik: Beneran Ampuh Nggak Sih?¶
Sebuah proposal dari 20 dokter, termasuk dr. Zheng, ke pemerintah Shanghai, bilang gini, “Ada kekhawatiran luas di industri bahwa harga pengadaan terlalu rendah, yang mendorong perusahaan secara tidak etis mengambil jalan pintas untuk mengurangi biaya, yang dapat mempengaruhi kemanjuran obat.” Wah, ini alarm bahaya nih.
Para dokter ini merasa nggak berdaya karena nggak punya pilihan dan nggak ada saluran buat ngasih masukan. Mereka kayak cuma bisa pasrah aja nerima obat generik yang dikasih pemerintah.
Seorang dokter lain dari Hangzhou, Xia Zhimin, juga ikut komentar soal pengadaan obat generik ini. Dia nulis artikel yang nyoroti data uji coba obat generik yang dipake buat daftar pengadaan. Katanya, datanya identik sama data obat paten yang jadi dasar produksi obat generik itu. Wah, kok bisa sama persis gitu ya?
Dr. Xia menduga ini bisa jadi indikasi penipuan. Parah juga ya kalau sampai ada penipuan data gini. Badan Pengawas Produk Medis Nasional China sih udah nanggapi artikel dr. Xia dan bilang ada “kesalahan editorial”. Artikel dr. Xia juga akhirnya dihapus. Hmm, kok malah dihapus ya? Jadi makin curiga kan.
Masalah kualitas obat juga makin runyam karena peredaran obat palsu. Obat palsu ini udah nyebar luas di pasar obat generik dan paten di seluruh dunia dan susah banget dideteksi. WHO bahkan bilang ini masalah kesehatan global. Gawat juga ya, obat palsu bisa merugikan banyak orang.
Profesor Kevin Lu dari South Carolina University bilang, buat ningkatin keterjangkauan obat, obat generik yang hemat biaya emang penting. Tapi, proses pengadaan juga butuh penguatan kontrol kualitas dan perbaikan standar perizinan obat dan manufaktur. Setuju banget! Jangan cuma murah aja, kualitas juga harus dijamin.
Sektor Kesehatan China Lagi Krisis?¶
Kontroversi obat generik ini muncul pas sistem kesehatan China lagi ketar-ketir. Populasi yang menua dengan cepat bikin pengeluaran kesehatan negara melonjak drastis. Dalam 20 tahun terakhir, naik hampir 20 kali lipat! Tahun 2023 aja udah 9 triliun yuan (sekitar Rp20 ribu triliun). Angka yang fantastis!
Dana asuransi kesehatan publik di seluruh negeri juga lagi menipis. Beberapa provinsi bahkan udah defisit. Pemerintah daerah yang biasanya ngandelin penjualan tanah buat pendapatan, sekarang lagi kesulitan utang gara-gara krisis properti. Duh, masalahnya kompleks banget ya.
Di saat yang sama, sistem pelayanan kesehatan China juga lagi krisis kepercayaan. Kekerasan terhadap staf medis meningkat sejak tahun 2000-an. Masyarakat marah karena sumber daya kesehatan kurang dan kepercayaan ke dokter juga terkikis. Kasihan juga tenaga medis jadi korban.
Kontroversi soal pengadaan obat ini setidaknya diakui pemerintah sebagai masalah yang perlu diatasi. Isu ini juga nggak dianggap terlalu sensitif secara politik, beda sama isu penganiayaan aktivis politik atau penindasan etnis Uighur. Mungkin karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak ya.
Badan Keamanan Kesehatan Nasional China bilang mereka “sangat mementingkan” masalah keselamatan obat ini dan bakal minta masukan soal kebijakan pengadaan obat. Semoga aja beneran didengerin ya masukan dari para ahli dan masyarakat.
Seorang pakar kesehatan masyarakat bilang sistem pengadaan terpusat ini masih “dalam tahap awal”. Masih banyak perusahaan farmasi dengan kualitas produksi yang beragam. Pakar lain juga nyaranin standar evaluasi obat harus ditingkatkan.
Pemerintah China kayaknya lagi berusaha memperbaiki citra sistem pengadaan obat generik ini. Caranya, dengan fokus ke pengawasan. Katanya sih, sistem ini tetap dirancang buat nyelametin warga dan hemat uang negara. Ya semoga aja tujuannya tercapai ya.
Tapi, ada juga pengguna Weibo yang bilang penghematan dari harga obat murah itu cuma “setetes air dalam ember” dari total biaya perawatan kesehatan nasional China. Di sisi lain, kalau obat yang berpotensi cacat dibiarin beredar luas, sama aja kayak “minum racun untuk menghilangkan dahaga”. Wah, perumpamaannya ngeri juga ya.
Gimana menurut kalian soal polemik obat generik di China ini? Yuk, kita diskusi di kolom komentar!
Posting Komentar