Waspada DBD Mengintai! Hujan Deras Landa Kaltim, Jaga Diri Ya!
Hai warga Berau dan sekitarnya! Musim hujan lagi nih, asyik memang hawanya sejuk, tapi jangan senang dulu! Ada kabar kurang enak dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau. Mereka lagi warning banget soal Demam Berdarah Dengue (DBD). Katanya, hujan deras yang lagi sering turun ini bikin nyamuk Aedes Aegypti makin betah berkembang biak. Wah, gawat juga ya!
Kenapa Hujan Bikin DBD Meningkat?¶
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Berau, Bapak Garna Sudarsono, sudah kasih tau nih alasannya. Hujan deras itu bikin banyak genangan air di mana-mana. Nah, genangan air inilah yang jadi tempat favorit nyamuk Aedes Aegypti buat naruh telur dan berkembang biak. Bayangin aja, air di ban bekas, pot bunga, ember yang nggak ketutup, bahkan talang air yang mampet, semua bisa jadi sarang nyamuk! Kalau nyamuknya makin banyak, risiko DBD juga ikutan naik, kan?
Nyamuk Aedes Aegypti ini memang kecil-kecil cabe rawit. Gigitannya bisa bikin kita tumbang karena DBD. Penyakit ini nggak main-main lho, bisa bikin demam tinggi, nyeri sendi dan otot, bahkan sampai muncul bintik-bintik merah di kulit. Kalau nggak cepat ditangani, bisa bahaya banget.
Gerakan 3M Plus: Senjata Ampuh Lawan DBD¶
Terus, gimana dong caranya biar kita nggak jadi korban DBD? Bapak Garna dari Dinkes Berau sudah kasih resep jitu nih, yaitu gerakan 3M Plus. Gerakan ini sebenarnya simpel banget, tapi kalau kita rutin lakuin, bisa ampuh banget buat mencegah DBD. Yuk, kita bahas satu per satu 3M Plus itu apa aja:
1. Menguras Tempat Penampungan Air¶
Yang pertama adalah Menguras. Maksudnya, kita harus rajin-rajin menguras tempat-tempat yang bisa nampung air. Contohnya bak mandi, ember, tempayan, bahkan vas bunga. Kenapa sih harus dikuras? Soalnya, telur nyamuk Aedes Aegypti itu bisa nempel di dinding tempat penampungan air. Kalau kita cuma buang airnya aja, telurnya masih bisa bertahan dan menetas jadi jentik-jentik nyamuk. Makanya, pas nguras, dinding bak mandi atau ember juga harus disikat biar telur nyamuknya ikut kebuang. Idealnya, kegiatan menguras ini dilakukan seminggu sekali. Jangan malas ya!
2. Menutup Rapat Wadah Air¶
Yang kedua adalah Menutup. Semua wadah air yang nggak mungkin dikuras, kayak drum penampungan air hujan atau tandon air, harus ditutup rapat-rapat. Tujuannya jelas, biar nyamuk nggak bisa masuk dan bertelur di dalamnya. Pastikan penutupnya benar-benar rapat ya, jangan sampai ada celah sedikitpun. Kalau perlu, kasih pemberat di atas penutupnya biar nggak gampang kebuka kena angin atau anak-anak.
3. Mendaur Ulang Barang Bekas¶
Yang ketiga adalah Mendaur Ulang. Nah, ini penting banget nih. Barang-barang bekas di sekitar rumah kita seringkali jadi tempat favorit nyamuk buat berkembang biak. Contohnya ban bekas, botol plastik, kaleng bekas, gelas plastik, bahkan kulit kelapa. Barang-barang ini kalau kena hujan bisa nampung air dan jadi sarang nyamuk. Makanya, kita harus rajin-rajin mendaur ulang atau membuang barang-barang bekas ini dengan benar. Kalau masih bisa didaur ulang, ya didaur ulang. Kalau nggak, ya dibuang ke tempat sampah yang tertutup. Jangan biarin barang bekas numpuk di sekitar rumah ya!
Plus: Langkah Tambahan Pencegahan DBD¶
Gerakan 3M itu udah bagus banget, tapi ada beberapa langkah tambahan yang bisa kita lakukan biar perlindungan dari DBD makin maksimal. Ini dia beberapa tips “Plus” dari Dinkes Berau:
-
Menaburkan Larvasida: Buat tempat-tempat yang sulit dikuras atau ditutup, kayak selokan atau kolam ikan yang nggak mungkin dikeringkan, kita bisa taburin larvasida. Larvasida ini semacam bubuk pembasmi jentik nyamuk. Tapi, penggunaannya harus hati-hati dan sesuai petunjuk ya. Biasanya larvasida ini dibagikan gratis oleh petugas kesehatan atau bisa dibeli di apotek.
-
Menggunakan Kelambu Saat Tidur: Nyamuk Aedes Aegypti ini biasanya aktif menggigit di pagi dan sore hari. Tapi, nggak ada salahnya kita tetap waspada di malam hari. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan kelambu saat tidur. Kelambu ini bisa jadi benteng perlindungan dari gigitan nyamuk saat kita lagi tidur nyenyak.
-
Menanam Tanaman Pengusir Nyamuk: Beberapa jenis tanaman ternyata ampuh mengusir nyamuk secara alami. Contohnya lavender, sereh wangi, zodia, dan geranium. Menanam tanaman-tanaman ini di sekitar rumah bisa jadi cara alami buat mengurangi populasi nyamuk. Selain itu, rumah jadi lebih asri dan segar kan?
-
Memakai Lotion Anti Nyamuk: Kalau kita lagi beraktivitas di luar rumah, terutama di pagi dan sore hari, jangan lupa pakai lotion anti nyamuk. Lotion ini bisa melindungi kita dari gigitan nyamuk selama beberapa jam. Pilih lotion anti nyamuk yang mengandung bahan aktif DEET atau Picaridin yang terbukti efektif mengusir nyamuk.
-
Fogging: Fogging atau pengasapan biasanya dilakukan saat ada kasus DBD di suatu daerah atau wilayah yang dianggap rawan. Fogging ini bertujuan untuk membunuh nyamuk dewasa pembawa virus DBD. Tapi, fogging bukan solusi utama ya. Fogging hanya efektif membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik nyamuknya masih bisa berkembang biak. Makanya, gerakan 3M Plus tetap jadi kunci utama pencegahan DBD.
Gotong Royong: Kunci Lingkungan Bebas Sarang Nyamuk¶
Membersihkan lingkungan dari sarang nyamuk itu bukan cuma tugas individu, tapi juga tugas kita bersama sebagai warga masyarakat. Gotong royong membersihkan lingkungan sekitar rumah, tempat kerja, atau tempat ibadah itu penting banget. Ajak tetangga, teman, atau keluarga buat kerja bakti membersihkan selokan, membuang sampah, dan menghilangkan genangan air di lingkungan sekitar. Dengan gotong royong, pekerjaan jadi lebih ringan dan lingkungan jadi lebih bersih dan sehat.
Jangan Ragu Periksa ke Dokter Kalau Ada Gejala DBD¶
Penting banget diingat, kalau kita atau anggota keluarga ada yang mengalami gejala DBD, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Gejala DBD itu antara lain:
- Demam tinggi mendadak: Suhu tubuh bisa naik drastis sampai 39-40 derajat Celcius.
- Nyeri otot dan sendi: Badan terasa pegal-pegal, nyeri di otot dan sendi.
- Sakit kepala: Kepala terasa pusing dan sakit, terutama di bagian belakang mata.
- Mual dan muntah: Perut terasa mual dan sering muntah.
- Bintik-bintik merah di kulit: Muncul bintik-bintik merah seperti bercak darah di kulit.
- Perdarahan: Pada kasus yang parah, bisa terjadi perdarahan seperti mimisan, gusi berdarah, atau BAB berdarah.
Kalau ada gejala-gejala di atas, jangan tunda lagi, langsung ke puskesmas, klinik, atau rumah sakit terdekat. è¯Šæ– dini dan penanganan yang cepat itu penting banget buat mencegah DBD jadi lebih parah.
Dinkes Berau Terus Bergerak Lindungi Warga¶
Dinkes Berau sendiri nggak tinggal diam lho. Mereka terus melakukan berbagai upaya pencegahan DBD. Selain sosialisasi dan penyuluhan ke masyarakat soal 3M Plus, Dinkes Berau juga aktif melakukan fogging di daerah-daerah yang dianggap rawan DBD. Mereka juga terus memantau perkembangan kasus DBD di wilayah Berau dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menekan angka kasus DBD.
Tapi ingat ya, upaya Dinkes Berau ini nggak akan maksimal kalau nggak ada dukungan dari kita semua. Pencegahan DBD itu butuh kerjasama dari semua pihak, mulai dari pemerintah, petugas kesehatan, sampai masyarakat. Yuk, kita sama-sama jaga kebersihan lingkungan, terapkan 3M Plus, dan waspada terhadap DBD. Kesehatan kita dan keluarga itu yang utama!
Gimana nih menurut kalian? Ada tips lain nggak buat mencegah DBD? Atau punya pengalaman soal DBD yang mau di-share? Yuk, komen di bawah! Kita diskusi bareng biar makin banyak yang sadar pentingnya jaga diri dari DBD!
Posting Komentar