Obat Langka Bikin Cemas Pasien Ginjal Transplantasi? Ini Kata Kemenkes!

Table of Contents

Obat Langka Bikin Cemas Pasien Ginjal Transplantasi? Kemenkes Kasih Penjelasan!

Jakarta - Kabar kurang enak datang dari teman-teman pasien transplantasi ginjal. Mereka lagi pada resah banget nih karena stok obat penting buat mereka kosong melompong selama berbulan-bulan! Bayangin deh, lagi butuh-butuhnya obat, eh malah nggak ada. Nggak sedikit dari mereka yang akhirnya terpaksa putar otak, pinjam sana pinjam sini obat dari sesama pasien, sambil harap-harap cemas nungguin pasokan obatnya datang lagi.

Hal kayak gini ternyata dialami banyak anggota dari Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI). Ketua KPCDI, Bapak Tony Samosir, sampai khawatir banget lho. Beliau bilang, kalau obat sampai kosong gini terus, bisa bahaya buat harapan hidup pasien setelah transplantasi. Kita semua pasti ngerti kan, obat itu penting banget buat menjaga kondisi pasien setelah transplantasi ginjal.

Keluhan Soal Pergantian Obat Juga Mencuat

Nggak cuma soal obat langka aja nih masalahnya. KPCDI juga lagi kurang sreg sama kebijakan pergantian obat yang tadinya tacrolimus originator jadi non originator. Obat tacrolimus ini penting banget buat pasien transplantasi ginjal biar tubuh mereka nggak nolak ginjal barunya. Nah, yang bikin bingung, obat yang tadinya originator dan ditanggung penuh BPJS Kesehatan, kok malah diganti jadi yang non originator?

KPCDI sampai bikin survei kecil-kecilan lho, melibatkan 23 pasien. Hasilnya lumayan bikin kaget. Ternyata, 39 persen pasien ngalamin peningkatan kadar kreatinin setelah ganti obat. Kreatinin itu zat sisa metabolisme di tubuh, dan kadar yang tinggi bisa jadi tanda ginjal lagi nggak beres. Lebih parah lagi, 13 persen dari pasien itu kadar kreatininnya naik sampai melebihi batas normal! Ini kan serem banget ya.

Terus, ada juga keluhan soal efek samping. Sebanyak 52 persen pasien ngerasain efek samping setelah minum tacrolimus non originator. Bahkan, ada satu pasien yang sampai harus dirawat intensif di rumah sakit gara-gara reaksi alergi! Waduh, ini bener-bener bikin khawatir ya.

Bapak Tony dari KPCDI sampai bertanya-tanya, “Apakah ini semua gara-gara mau efisiensi anggaran?” Pertanyaan ini beliau lontarkan di acara diskusi publik Hari Ginjal Sedunia 2025, hari Selasa (11/2/2025) kemarin. Wajar sih beliau bertanya kayak gitu, soalnya kesehatan pasien kan seharusnya jadi prioritas utama, bukan cuma urusan anggaran aja.

Kata Kemenkes: Obat Baru Sudah Teruji Klinis!

Nah, dari pihak pemerintah, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Ibu Lucia Rizka Andalucia, juga ikut hadir di acara diskusi itu. Beliau coba kasih penjelasan soal kegelisahan pasien ini.

Ibu Rizka bilang, obat-obat baru yang masuk ke Formularium Nasional (Fornas) itu nggak asal-asalan. Semua obat itu udah diuji klinis dulu sebelum dapat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. Jadi, menurut beliau, sebenernya obat-obat itu aman dan efektif kok.

Buat yang belum tau, Fornas itu daftar obat-obatan terpilih yang jadi acuan dokter buat nulis resep, khususnya buat pasien yang pakai BPJS Kesehatan. Jadi, obat-obatan yang ada di Fornas ini yang bakal dijamin sama BPJS.

Ibu Rizka juga menegaskan, proses pengajuan izin edar obat baru itu ketat banget. Ada kajian keamanan dan efektivitas obatnya. Jadi, pemerintah nggak mau main-main soal kualitas obat yang beredar.

Bukan Efisiensi Anggaran, Tapi Maksimalkan Biaya!

Trus, soal penambahan obat baru yang ditanggung BPJS Kesehatan, Ibu Rizka bilang ini bukan karena pemerintah mau hemat anggaran. Justru, tujuannya biar pembiayaan obat dan perawatan pasien BPJS itu lebih cost effective. Maksudnya, pemerintah pengen dapat hasil yang maksimal dengan biaya yang efisien.

Beliau juga menambahkan, “Sebenarnya kita cover semua [obat], tapi kalau dia memilih obat dengan merek yang lebih mahal, silakan cost sharing, bisa dengan asuransi swasta dan mandiri.” Jadi, intinya, kalau pasien mau pakai obat merek originator yang lebih mahal, boleh aja, tapi ada selisih harga yang harus ditanggung sendiri.

Pemerintah, kata Ibu Rizka, lagi berusaha cari harga obat yang paling efisien. Soalnya, anggaran kesehatan itu juga harus dibagi-bagi buat penyakit lain, kayak jantung dan kanker, yang juga butuh biaya besar. “Jadi kita mencari harga paling cost effective, kalau mau harga originator-nya suruh turunin, menyesuaikan,” tandas beliau. Ibu Rizka juga menyinggung soal selisih harga obat tacrolimus yang katanya bisa sampai Rp 2 juta. Wah, lumayan juga ya selisihnya.

Lonjakan Permintaan Obat di 2024

Soal stok obat yang kosong, Ibu Rizka mengakui memang sempat ada lonjakan permintaan obat tacrolimus di tahun 2024. “Terjadi lonjakan yang tinggi akan kebutuhan tacrolimus tersebut, tapi tidak ada yang terjadi karena masalah efisiensi anggaran,” lanjut beliau. Beliau memastikan, ketersediaan obat baru nggak berarti obat tacrolimus originator jadi dikesampingkan.

Pasien, kata Ibu Rizka, masih bisa kok dapat tacrolimus originator. Solusinya, pasien harus nambah biaya sendiri buat nutup selisih harganya. “Kalau ada pilihan preferensi terhadap merek dagang, itu boleh-boleh saja tetapi selisihnya menjadi tanggung jawab pasien, bisa cost sharing,” jelasnya lagi.

Sebagai gambaran, pasien transplantasi ginjal di RSCM aja udah sampai 1.131 orang di tahun 2024. Di rumah sakit swasta kayak Siloam Asri juga ada 345 pasien. Nah, terkait riset KPCDI yang melibatkan 23 pasien, Ibu Rizka menilai jumlah sampel itu masih terlalu kecil buat mewakili kondisi yang sebenarnya di lapangan. Artinya, temuan KPCDI itu perlu dikaji lebih lanjut dengan data yang lebih banyak.

Imbauan untuk Lapor ke BPOM Kalau Ada Efek Samping

Terus, gimana kalau ternyata ada efek samping yang nggak diinginkan dari obat-obatan yang beredar? Ibu Rizka mengimbau pasien buat melapor ke BPOM RI. Laporan ini penting banget buat BPOM melakukan peninjauan kembali soal peredaran obat tersebut.

Tapi, laporan itu juga harus ada buktinya ya, nggak cuma testimoni aja. “Pelaporan dibuktikan dengan bukti yang objektif, hasil lab, tetapi selama data tersebut hanya testimoni, belum cukup. Dibutuhkan uji klinik yang memadai, jumlah case yang representatif untuk membuktikan antara obat A dan B terhadap khasiat keamanan tersebut,” kata beliau. Jadi, emang perlu data yang kuat dan valid buat membuktikan adanya masalah dengan obat tertentu.

Terakhir, Ibu Rizka menegaskan lagi, efisiensi anggaran di Kemenkes itu nggak terkait sama pengobatan pasien. Efisiensi itu lebih ke urusan perjalanan dinas, rapat-rapat, dan biaya operasional lainnya. Jadi, anggaran buat obat-obatan pasien seharusnya nggak terpengaruh sama urusan efisiensi ini.


Intinya, pemerintah lewat Kemenkes sudah kasih penjelasan soal keresahan pasien transplantasi ginjal ini. Obat baru yang masuk Fornas diklaim sudah teruji klinis, dan pergantian obat bukan semata-mata karena efisiensi anggaran. Tapi, kalau pasien masih pengen pakai obat merek originator, tetap bisa kok, asal mau cost sharing. Dan yang paling penting, kalau ada efek samping obat, jangan ragu buat lapor ke BPOM ya!

Semoga penjelasan ini bisa sedikit meredakan kecemasan teman-teman pasien transplantasi ginjal. Gimana menurut kalian soal masalah ini? Yuk, diskusi di kolom komentar!

Posting Komentar