Balik Lagi! Jurusan IPA, IPS, Bahasa di SMA Bakal Ada Lagi?

Table of Contents

Balik Lagi! Jurusan IPA, IPS, Bahasa di SMA Bakal Ada Lagi?

Eh, ada kabar seru nih buat kamu-kamu yang bentar lagi atau punya adik yang mau masuk SMA! Katanya, jurusan IPA, IPS, sama Bahasa yang dulu sempat hits banget itu, mau dihidupin lagi lho di SMA. Seriusan nih? Iya, beneran! Kabar ini langsung diumumin sama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Bapak Abdul Mu’ti, di kantor Kemendikdasmen, Jakarta, hari Jumat kemarin.

Jurusan SMA Mau Dihidupkan Lagi

Jadi, Pak Mendikdasmen bilang gini, “Jurusan di SMA itu bakal kita hidupkan lagi. Jadi nanti bakal ada jurusan lagi. IPA, IPS, dan Bahasa.” Wah, ini sih berita bagus banget ya buat sebagian orang. Apalagi buat yang udah punya gambaran mau kuliah atau kerja di bidang apa, adanya jurusan kayak gini pasti ngebantu banget buat fokus belajar dari awal.

Tapi, meskipun udah pasti jurusan-jurusan ini bakal balik lagi, Pak Menteri belum kasih tau nih tanggal pastinya kapan mulai diterapin di SMA. Jadi, buat kamu yang penasaran, sabar-sabar dulu ya nungguin pengumuman selanjutnya.

Katanya sih, jurusan IPA, IPS, dan Bahasa ini buat dukung pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA). TKA ini rencananya bakal jadi pengganti Ujian Nasional (UN) yang udah ditiadakan. Nah, TKA buat anak SMA ini kabarnya mulai dilaksanain November 2025 nanti. Jadi, mungkin aja jurusan-jurusan ini juga bakal mulai ada lagi tahun ini. Kita tunggu aja deh!

TKA dan Jurusan: Kok Bisa Nyambung?

Terus, apa hubungannya jurusan sama TKA ini? Jadi gini, di TKA nanti, materi yang diujiin itu pelajaran-pelajaran yang emang biasa dipelajari sama siswa SMA. Makanya, menurut pemerintah, dibutuhin lagi deh jurusan IPA, IPS, dan Bahasa, kayak zaman dulu.

Biar lebih jelas, Pak Menteri jelasin lagi nih soal TKA. “Dalam TKA itu nanti mulai itu ada tes yang wajib yaitu Bahasa Indonesia dan Matematika itu wajib. Untuk mereka yang ngambil IPA itu nanti dia boleh memilih tambahannya antara Fisika, Kimia atau Biologi,” jelas beliau.

“Untuk yang IPS juga begitu. Dia boleh ada tambahan apakah itu Ekonomi apakah itu Sejarah atau ilmu-ilmu lain yang ada dalam rumpun ilmu-ilmu,” lanjut Pak Menteri. Nah, kebayang kan sekarang kenapa jurusan ini kayaknya penting lagi? Biar materi TKA-nya lebih fokus dan sesuai sama bidang yang diminati siswa.

Sempat Dihapus, Kenapa Sekarang Balik Lagi?

Mungkin ada yang bingung, “Lho, bukannya jurusan IPA, IPS, Bahasa ini udah dihapus ya?” Nah, iya bener banget. Jurusan-jurusan ini sempat dihapus pas zaman Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) sebelumnya, Bapak Nadiem Makarim.

Kepala Badan Standar Nasional Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbud Ristek waktu itu, Bapak Anindito Aditomo, pernah jelasin kenapa jurusan ini dihapus. Katanya, salah satu alasannya karena penjurusan kayak gini tuh seringkali malah bikin nggak adil. Soalnya, rata-rata orang tua maunya anaknya masuk jurusan IPA.

IPA Jadi Primadona, Emang Kenapa?

Bapak Anindito bilang, banyak orang tua yang mikir kalau masuk IPA itu lebih prestige dan peluangnya lebih banyak. Padahal, nggak selalu gitu juga kan? Tapi, ya namanya juga persepsi, susah juga diubahnya.

“Salah satunya itu (karena orangtua rata-rata memilihkan anaknya masuk IPA). Kalau kita jurusan IPA kita bisa memilih jurusan lain,” kata Bapak Anindito waktu ngobrol sama Kompas.com tahun lalu.

Intinya, banyak orang tua yang mikir rasional aja, pengen anaknya masuk IPA biar nanti pas kuliah pilihan jurusannya lebih banyak. Padahal, sebenernya anak IPS atau Bahasa juga punya banyak pilihan jurusan kuliah yang keren-keren lho!

Selain itu, gara-gara banyak anak IPA yang juga ngambil jurusan kuliah yang sebenernya buat anak IPS dan Bahasa, kuota buat anak IPS dan Bahasa jadi makin dikit. Kasihan kan? Makanya, jurusan ini sempat dihapus dan diganti sama sistem pemilihan pelajaran sesuai minat siswa, yang ada di Kurikulum Merdeka.

Kurikulum Merdeka dan Kebebasan Memilih Pelajaran

Waktu itu, Kurikulum Merdeka nawarin solusi dengan sistem pemilihan mata pelajaran (mapel) sesuai minat dan bakat siswa. Jadi, pas kelas 11 dan 12 SMA, siswa bisa milih mapel yang lebih bebas, sesuai sama minat, bakat, kemampuan, dan cita-cita kuliah atau karirnya nanti.

Misalnya, nih, siswa yang pengen kuliah Teknik, bisa fokus ambil mapel Matematika tingkat lanjut sama Fisika, tanpa harus belajar Biologi. Atau, kalau ada yang mau jadi dokter, bisa ambil Biologi sama Kimia, tanpa harus pusing sama Matematika tingkat lanjut.

Dengan sistem kayak gini, siswa bisa lebih fokus bangun pengetahuan yang relevan buat minat dan rencana studinya nanti. Katanya sih, persiapan yang lebih fokus dan mendalam kayak gini susah dilakuin kalau siswa masih dikelompokkin ke jurusan IPA, IPS, dan Bahasa.

Soalnya, pas ada jurusan, kebanyakan siswa ujung-ujungnya milih IPA, padahal belum tentu minat, bakat, sama rencana karirnya emang di situ. Kurikulum Merdeka ini diharapkan bisa dorong siswa buat eksplorasi dan mikirin minat, bakat, dan cita-cita karirnya lebih dalam.

Dampak Negatif Penghapusan Jurusan?

Tapi, ternyata penghapusan jurusan IPA, IPS, dan Bahasa ini juga ada dampak negatifnya lho. Dosen Sosiologi Pendidikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (Unair), Ibu Tuti Budirahayu, bilang kalau penghapusan jurusan ini justru bikin masalah baru, terutama buat anak IPS dan Bahasa.

Ibu Tuti jelasin, anak jurusan IPS dan Bahasa seringkali dicap negatif sama masyarakat. Mereka kayak distratifikasi gitu, berdasarkan karakter, kecerdasan, sama perilaku yang beda.

“Mereka yang masuk ke jurusan IPS dan Bahasa cenderung mendapatkan label sebagai anak-anak nakal, bandel, dan tidak secerdas anak-anak jurusan IPA,” kata Ibu Tuti, dikutip dari laman resmi Unair. Waduh, parah juga ya label-label kayak gini.

Label negatif ini ternyata kebawa terus sampai siswa lulus dan lanjut kuliah atau kerja. Ibu Tuti juga nambahin, masalah lainnya adalah anak IPA jadi lebih bebas masuk jurusan kuliah apa aja.

Diskriminasi Jurusan?

Anak IPA bisa masuk jurusan yang emang buat anak IPA, tapi juga bisa masuk jurusan yang sebenernya buat anak IPS dan Bahasa. Nah, ini yang bikin anak IPS dan Bahasa jadi kayak terdiskriminasi.

“Terjadi diskriminasi pada siswa IPS dan Bahasa karena dianggap tidak pandai dalam berlogika, matematika atau ilmu eksakta. Inilah yang kemudian menyebabkan siswa IPS dan Bahasa berada pada strata kedua atau ketiga setelah siswa jurusan IPA,” ujar Ibu Tuti. Sedih juga ya denger cerita kayak gini.

Ibu Tuti bilang, kalau kebijakan penghapusan jurusan ini mau jalan dengan baik, implementasinya harus bener-bener matang. Semua pihak, mulai dari sekolah, pemerintah, siswa, sama orang tua, harus dukung dan ikut partisipasi.

Menurut pengamatan Ibu Tuti soal Kurikulum Merdeka, guru malah jadi kayak kebebanan lebih berat. “Sebaliknya, orangtua masih minim pengetahuan tentang kebijakan-kebijakan pendidikan baru di era Menteri Nadiem Makarim,” tandas Ibu Tuti.

Jadi, gimana nih menurut kamu soal jurusan IPA, IPS, Bahasa yang mau dihidupin lagi di SMA? Setuju nggak? Atau malah lebih suka sistem Kurikulum Merdeka yang sekarang? Coba dong kasih pendapat kamu di kolom komentar di bawah ini! Penasaran nih pengen denger suara kamu-kamu semua!

Posting Komentar