Banyak CASN Mundur? Kata Kepala BKN, Ini Alasannya!

Table of Contents

Ribuan CASN Mundur Setelah Lolos Seleksi

Badan Kepegawaian Negara (BKN) baru-baru ini bikin kaget banyak orang. Gimana enggak, mereka mengumumkan ada ribuan calon aparatur sipil negara (CASN) yang ternyata memutuskan mundur setelah dinyatakan lolos seleksi. Angkanya lumayan bikin melongo, sampai menyentuh 1.967 orang, loh! Padahal, persaingan buat jadi ASN kan ketat banget.

Para CASN yang mundur ini bukan sembarangan mundur. Mereka adalah hasil dari kebijakan pemerintah yang disebut “optimalisasi”. Jadi, kebijakan ini tuh dibuat biar formasi-formasi kosong yang udah dibuka tapi nggak ada pelamarnya itu bisa terisi. Pemerintah nggak mau kan ada posisi penting di instansi pemerintah yang malah kosong melompong?

Apa Sih Optimalisasi CASN Itu?

Kepala BKN, Pak Zudan Arif Fakrulloh, menjelaskan kalau optimalisasi itu intinya menawarkan kesempatan kedua buat para pelamar. Jadi, kalau kamu nggak lolos di formasi yang kamu lamar pertama kali, tapi nilai kamu sebenernya bagus dan ada formasi lain di tempat lain yang sepi peminat atau bahkan nggak ada pelamarnya, kamu bisa ditawarin untuk mengisi formasi yang itu. Ini tujuannya mulia sih, yaitu memastikan setiap formasi yang dibutuhkan pemerintah bisa terisi oleh sumber daya manusia yang kompeten.

Bayangin aja gini, ada pelamar yang ngincer banget jadi dosen sosiologi di Universitas A di kota kelahirannya. Dia udah belajar mati-matian, ikut semua tes, tapi ternyata nilainya kalah saing sama pelamar lain. Dia nggak lolos di formasi impiannya itu. Tapi, di sisi lain, ada Universitas B di kota lain yang juga butuh dosen sosiologi, bahkan mungkin nggak ada yang melamar sama sekali. Nah, di sinilah peran optimalisasi. BKN akan melihat data, melihat nilai pelamar yang nggak lolos di formasi A tadi, dan jika nilainya memenuhi kriteria untuk formasi B, mereka akan ditawarin kesempatan itu.

Pak Zudan ngasih contoh yang lebih spesifik lagi. Misalnya di lingkungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Banyak formasi dosen kan di sana. Ada pelamar yang daftar formasi dosen sosiologi di Universitas Negeri Jember. Formasinya cuma butuh dua orang, sementara dia ranking 3 atau 4. Otomatis dia nggak lulus di situ. Tapi, di Universitas Nusa Cendana, ada formasi dosen sosiologi juga, dan kebetulan nggak ada sama sekali yang melamar. Nah, dua orang dengan nilai terbaik (yang nggak lulus di formasi awalnya tadi) secara sistem akan dikirim datanya dan ditawarkan untuk mengisi formasi di Universitas Nusa Cendana itu.

Alasan CASN Menolak Optimalisasi

Ternyata, nggak semua CASN yang ditawarin optimalisasi itu mau menerima, loh. Ada banyak banget alasannya kenapa mereka akhirnya menolak tawaran itu dan milih mundur aja. Alasan yang paling sering sih katanya karena lokasi penempatan yang ditawarkan itu jauh banget dari domisili mereka sekarang. Bayangin, kalau tadinya ngarep ditempatin di kota sendiri atau kota yang dekat, eh malah ditawarin di provinsi lain yang jaraknya ratusan atau bahkan ribuan kilometer. Ini kan jadi pertimbangan berat banget.

Selain jarak, ada juga yang punya kendala kesehatan. Mungkin ada kondisi medis yang nggak memungkinkan mereka untuk pindah atau bekerja di lokasi yang ditawarkan. Ada juga alasan-alasan personal lain yang mungkin nggak disebutkan secara detail, misalnya pertimbangan keluarga, pasangan, anak-anak, atau bahkan pekerjaan lain yang sudah dijalani sekarang. Menerima tawaran optimalisasi ini memang butuh komitmen besar untuk pindah dan memulai hidup baru di tempat yang sama sekali asing.

Totalnya, ada 16.167 CASN yang masuk kategori hasil optimalisasi ini. Dari jumlah itu, sebanyak 1.967 orang menolak untuk dioptimalisasi dan akhirnya memilih untuk mengundurkan diri. Ini artinya sekitar 12% dari total CASN hasil optimalisasi memilih untuk tidak mengambil kesempatan tersebut. Angka ini cukup signifikan dan menunjukkan bahwa keputusan pindah tugas ke lokasi yang jauh bukanlah hal sepele bagi para calon abdi negara.

Reaksi Pemerintah: “Mundur Berarti Malas!”

Fenomena mundurnya ribuan calon ASN ini tentu saja mengundang berbagai reaksi dari pemerintah. Salah satunya datang dari Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer. Beliau punya pandangan yang cukup tegas soal ini. Menurut Pak Wamenaker, setiap calon pekerja, termasuk calon ASN, itu seharusnya siap menerima penempatan dan penugasan di mana pun.

Beliau juga menepis anggapan atau narasi yang bilang kalau kondisi lapangan pekerjaan di Indonesia itu sulit. Menurutnya, lapangan pekerjaan itu sebenarnya masih banyak dan terbuka lebar di mana-mana. Syaratnya cuma satu: para calon pekerjanya harus punya semangat buat bekerja dan siap untuk ditempatkan di lokasi mana pun yang membutuhkan.

“Pas di mau ditaruh (malah) mundur. Berarti ada budaya yang tidak baik. Lapangan pekerjaan itu terbuka di mana-mana. Budaya malas begitu enggak bisa dong, kalau mau kerja (ya) kerja dong, mau ditempatin di mana pun kan butuh pekerjaan mereka. Jangan teriak-teriak juga apa melegitimasi narasi yang sesat. Industrial kita banyak membuka lapangan pekerjaan,” begitu kata Immanuel Ebenezer, dikutip dari salah satu media.

Pernyataan Pak Wamenaker ini memang cukup keras dan langsung menyorot ke soal mentalitas dan budaya kerja. Menurutnya, kalau sudah niat mau bekerja dan butuh pekerjaan, seharusnya siap ditempatkan di mana saja. Menolak penempatan justru dianggap sebagai tanda kemalasan atau ketidaksiapan menghadapi realita kerja yang memang menuntut fleksibilitas dan komitmen. Beliau menekankan bahwa sektor industri di Indonesia itu terus berkembang dan membutuhkan banyak tenaga kerja, jadi kalau ada yang bilang susah cari kerja, itu mungkin karena mereka yang kurang mau berusaha atau pilih-pilih lokasi.

Memahami Perspektif yang Berbeda

Di satu sisi, pandangan pemerintah dan BKN soal perlunya mengisi formasi kosong melalui optimalisasi dan pentingnya kesiapan ditempatkan memang masuk akal. Negara membutuhkan ASN yang bisa bekerja di seluruh pelosok negeri, bukan hanya di kota-kota besar. Merekrut ASN itu prosesnya panjang, mahal, dan memakan waktu. Kalau sudah dapat bibit unggul tapi formasinya nggak terisi, itu kan sayang banget. Optimalisasi adalah solusi praktis untuk masalah ini.

Namun, di sisi lain, menjadi calon ASN juga bukan perkara mudah. Proses seleksi mulai dari Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) sampai Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) itu butuh persiapan fisik dan mental yang luar biasa. Ratusan ribu, bahkan jutaan orang bersaing untuk mendapatkan satu formasi. Mereka yang lolos sampai tahap optimalisasi ini adalah orang-orang terbaik di antara para pelamar.

Keputusan untuk mengundurkan diri setelah berjuang keras sampai tahap akhir tentu bukan tanpa alasan yang kuat bagi mereka. Selain jarak dan kesehatan, ada banyak faktor lain yang mungkin mereka pertimbangkan matang-matang. Misalnya, biaya hidup di lokasi baru, adaptasi dengan lingkungan yang sama sekali baru, keberadaan keluarga inti (orang tua, pasangan, anak) yang mungkin membutuhkan kehadiran mereka, atau bahkan jenjang karier yang mungkin terasa kurang sesuai dengan passion mereka di formasi yang ditawarkan.

Mari kita coba lihat dari sudut pandang para calon ASN ini. Mereka melamar suatu formasi di lokasi tertentu dengan harapan dan ekspektasi tertentu. Misalnya, melamar di kementerian pusat di Jakarta karena ingin berkontribusi di tingkat nasional dan memiliki akses ke berbagai program. Atau melamar di pemerintah daerah di kota asalnya agar bisa dekat dengan orang tua yang sudah sepuh. Ketika ternyata tidak lolos di formasi yang diinginkan dan ditawarkan formasi lain yang jauh berbeda, keputusan untuk menerima atau menolak menjadi sangat dilematis.

Kadang, tawaran optimalisasi itu bisa jadi kesempatan emas, tapi kadang juga bisa terasa seperti mengorbankan banyak hal dalam hidup mereka. Mungkin ada yang sudah punya pekerjaan mapan di swasta atau BUMN dengan gaji yang lumayan dan fleksibilitas yang lebih tinggi, tapi tertarik menjadi ASN karena ingin mengabdi. Ketika ditawari penempatan di lokasi yang jauh dan mungkin dengan kondisi kerja yang berbeda dari ekspektasi awal, mereka mungkin membandingkan kembali mana yang terbaik untuk masa depan mereka secara keseluruhan, bukan hanya dari sisi pekerjaan ASN-nya.

Contoh Skenario:

Bayangkan seorang calon ASN yang tinggal di Surabaya dan melamar formasi di instansi pusat di Jakarta. Dia lulus SKD dan SKB dengan nilai tinggi, tapi di formasi Jakarta dia kalah saing. Lalu dia ditawari optimalisasi untuk formasi yang sama di kantor cabang instansi tersebut di Jayapura, Papua.

  • Perspektif Pemerintah/BKN: Bagus, ada formasi kosong di Jayapura bisa terisi oleh orang berkualitas dari Surabaya. Ini efisien.
  • Perspektif Wamenaker: Kalau memang niat kerja dan butuh kerja, ya harusnya siap ditempatkan di mana saja, termasuk Jayapura. Jangan malas.
  • Perspektif Calon ASN: Pindah dari Surabaya ke Jayapura itu bukan perkara mudah. Butuh biaya pindah yang tidak sedikit, adaptasi dengan budaya yang berbeda, mencari tempat tinggal, meninggalkan keluarga di Surabaya, dan mungkin juga pasangannya punya pekerjaan di Surabaya. Apakah kompensasi (gaji, tunjangan, dll.) sepadan dengan semua pengorbanan itu? Apakah dia siap tinggal jauh dari keluarga selama bertahun-tahun? Ini bukan hanya soal “mau kerja” atau “malas”, tapi juga soal manajemen kehidupan dan prioritas personal.

Memang benar bahwa menjadi abdi negara itu butuh komitmen dan kesiapan ditempatkan di mana saja sesuai kebutuhan negara. Ini adalah salah satu risiko dan tanggung jawab yang melekat pada profesi ASN. Namun, keputusan untuk menolak atau menerima tawaran optimalisasi adalah hak masing-masing individu. Mereka sudah melewati proses seleksi yang ketat, dan mereka juga berhak mempertimbangkan kondisi pribadi dan masa depan mereka sebelum membuat keputusan besar seperti menerima penempatan yang mungkin sangat jauh dari rencana awal.

Mungkin ada baiknya jika proses optimalisasi ini bisa diiringi dengan informasi yang lebih komprehensif tentang kondisi di lokasi penempatan, termasuk informasi tentang biaya hidup, fasilitas, dan dukungan yang mungkin bisa diberikan pemerintah untuk membantu proses adaptasi. Komunikasi yang lebih baik antara BKN, instansi terkait, dan calon ASN juga bisa mengurangi angka penolakan ini.

Di sisi lain, penting juga bagi para calon pelamar untuk really memahami risiko dan kemungkinan ini sejak awal mereka memutuskan mendaftar sebagai CASN. Jabatan ASN itu bukan seperti pekerjaan di sektor swasta yang kadang lebih fleksibel soal lokasi atau mutasi. ASN terikat pada penugasan negara yang bisa saja menempatkan mereka di mana saja di wilayah Indonesia. Memiliki pemahaman yang utuh tentang profesi ini sejak awal bisa membentuk ekspektasi yang lebih realistis dan mengurangi risiko pengunduran diri di kemudian hari.

Jadi, fenomena mundurnya ribuan CASN ini sebenarnya kompleks. Bukan sekadar soal malas atau tidak mau, tapi melibatkan berbagai faktor mulai dari kebijakan pemerintah, proses seleksi, hingga pertimbangan personal dan kondisi hidup masing-masing individu. Optimalisasi adalah upaya baik untuk mengisi formasi, namun realita di lapangan menunjukkan ada tantangan dalam pelaksanaannya yang membuat banyak calon ASN berpikir ulang.

Mari kita lihat data jumlah CASN hasil optimalisasi dan yang menolak dalam tabel sederhana berikut:

Kategori Jumlah
Total CASN Hasil Optimalisasi 16.167
Menolak dan Mundur 1.967
Menerima Optimalisasi 14.200

Angka 1.967 yang mundur ini memang cukup besar dan menjadi sorotan. Ini jadi PR (Pekerjaan Rumah) bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali proses optimalisasi ini ke depannya. Apakah perlu ada kriteria tambahan dalam optimalisasi? Apakah informasi yang diberikan ke calon ASN soal lokasi penempatan sudah cukup jelas sejak awal? Atau apakah ada cara lain yang lebih efektif untuk mengisi formasi kosong tanpa harus “memaksa” penempatan di lokasi yang sangat jauh dari domisili pelamar?

Proses optimalisasi ini bisa divisualisasikan seperti ini:

mermaid graph LR A[Pelamar CASN] --> B{Lulus SKD & SKB di Formasi A?}; B -- Ya --> C[Diterima di Formasi A]; B -- Tidak --> D{Nilai Memenuhi Syarat Optimalisasi?}; D -- Ya --> E[Ditawarkan Optimalisasi ke Formasi B (Lokasi Lain)]; D -- Tidak --> F[Tidak Lulus]; E --> G{Terima Tawaran Optimalisasi?}; G -- Ya --> H[Diterima di Formasi B]; G -- Tidak --> I[Mengundurkan Diri];

Diagram di atas menunjukkan alur sederhana bagaimana proses optimalisasi ini terjadi. Para pelamar yang tidak lolos di formasi awal mereka, jika nilainya memenuhi kriteria, akan masuk ke tahap penawaran optimalisasi. Di sinilah terjadi “bottleneck” atau titik krusial di mana banyak yang akhirnya memilih untuk mengundurkan diri (langkah G ke I).

Pernyataan Wamenaker Immanuel Ebenezer tentang “malas” ini memang memicu perdebatan. Di satu sisi, ada semangat untuk mendorong etos kerja dan kesiapan abdi negara. Di sisi lain, ada realita kompleks yang dihadapi individu dalam membuat keputusan hidup. Menjadi ASN adalah sebuah pilihan karier dan pengabdian, tetapi juga harus realistis dengan kondisi pribadi dan keluarga. Menemukan titik tengah antara kebutuhan negara dan kondisi individu adalah kunci untuk mengurangi angka pengunduran diri di masa depan.

Bagaimanapun, fenomena ini menjadi catatan penting bagi pemerintah dan juga calon pelamar ASN di masa mendatang. Bagi pemerintah, ini adalah masukan berharga untuk terus memperbaiki sistem rekrutmen dan penempatan ASN. Bagi calon pelamar, ini adalah peringatan bahwa menjadi ASN itu membutuhkan komitmen yang kuat, termasuk kesiapan untuk ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia.

Nah, itu dia guys, penjelasan kenapa banyak banget CASN yang memutuskan mundur. Ternyata ada kebijakan optimalisasi di baliknya, dan banyak faktor yang bikin mereka nolak tawaran penempatan yang diberikan.

Gimana nih menurut kamu, keputusan para CASN yang mundur ini? Setuju sama pandangan Kepala BKN dan Wamenaker, atau kamu bisa memahami alasan mereka menolak penempatan yang jauh? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar di bawah! Jangan lupa juga kasih tahu, kira-kira apa yang harus dilakukan pemerintah atau calon ASN sendiri supaya kejadian kayak gini nggak terulang lagi?

Posting Komentar