Geger! Mahasiswa Udayana Geruduk Kampus, Minta Stop Kerjasama dengan TNI
Jakarta, TEMPO.CO - Suasana kampus Universitas Udayana (Unud) lagi panas nih! Mahasiswa dari berbagai fakultas kompak bergerak, mereka nggak setuju sama kerjasama yang baru diteken antara pihak kampus dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unud, I Wayan Arma Surya Darmaputra, dengan tegas bilang kalau mahasiswa bakal turun aksi buat menyuarakan penolakan ini.
Aksi Sidang Akbar Mahasiswa¶
Aksi ini bukan demo biasa lho. Arma menjelaskan, mahasiswa sepakat buat ngadain Sidang Akbar. Konsepnya bakal mirip sama Mahkamah Rakyat Luar Biasa yang sempat viral beberapa waktu lalu. Sidang ini rencananya bakal digelar hari Selasa, tanggal 8 April 2025. Wah, udah deket banget ya!
“Agenda sidang akbar mahasiwa tanggal 8 April 2025,” begitu bunyi keterangan resmi dari Arma yang diterima Tempo pada Kamis, 3 April 2025. Jadi, catat tanggalnya ya buat yang penasaran sama aksi ini.
Keputusan buat ngadain Sidang Akbar ini diambil setelah mahasiswa melakukan konsolidasi pada hari Selasa, 1 April 2025. Dari hasil rembukan itu, ada dua tuntutan utama yang bakal disuarakan mahasiswa:
- Pembatalan kerjasama antara Universitas Udayana dengan Komando Daerah Militer (Kodam) IX/Udayana.
- Pembatalan Nota Kesepahaman antara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dengan TNI.
Mahasiswa pengen kampus tetap jadi tempat yang merdeka buat belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Mereka khawatir kerjasama dengan militer ini bisa mengganggu kebebasan akademik dan integritas intelektual di kampus. “Universitas Udayana harus tetap menjadi ruang yang bebas bagi pengembangan ilmu pengetahuan tanpa intervensi yang dapat menghambat kebebasan akademik dan integritas intelektual,” tegas Arma.
Penolakan Sudah Jauh Hari Disuarakan¶
Sebenarnya, rencana aksi penolakan kerjasama ini bukan barang baru. Arma udah jauh-jauh hari memastikan bahwa mahasiswa bakal turun aksi. Bahkan, seluruh organisasi mahasiswa (ormawa) di lingkup Universitas Udayana juga ikut mendukung aksi ini. Solid banget ya mahasiswa Unud!
“Aksi bakal tetep digelar sesuai dengan kesepakatan konsolidasi dan diikuti seluruh organisasi mahasiswa Universitas Udayana,” kata Arma lagi waktu dihubungi Tempo pada Senin, 31 Maret 2025. Ini nunjukkin kalau penolakan ini bukan cuma suara segelintir orang, tapi memang aspirasi dari banyak mahasiswa.
Reaksi Pihak Universitas¶
Rektor Universitas Udayana, I Ketut Sudarsana, coba meredam kekhawatiran mahasiswa. Beliau menjamin kalau kerjasama ini nggak bakal bikin kampus jadi kayak barak militer. “Kerja sama ini tidak bertujuan untuk membawa praktik militer ke dalam dunia kampus,” kata Sudarsana seperti dikutip dari keterangan resminya, Selasa, 1 April 2025.
Tapi, penjelasan rektor ini kayaknya belum cukup meyakinkan mahasiswa ya. Buktinya, mereka tetap lanjut dengan rencana aksi Sidang Akbar. Mungkin mahasiswa pengen penjelasan yang lebih detail dan meyakinkan, atau mungkin mereka punya pandangan yang berbeda soal dampak kerjasama ini.
Isi Perjanjian Kerjasama yang Bikin Heboh¶
Universitas Udayana baru aja meresmikan perjanjian kerjasama dengan Kodam IX/Udayana. Dokumen perjanjiannya punya nomor B/2134/UN14.IV/HK.07.00/2025. Ternyata, perjanjian ini udah ditandatangani dari tanggal 5 Maret 2025, tapi baru diumumkan ke publik lewat Instagram resmi kampus pada 26 Maret 2025. Agak telat juga ya pengumumannya.
Dokumen perjanjian ini lumayan tebel, ada 20 pasal! Pasal 2 nya ngebahas tentang ruang lingkup kerjasama antara Unud dan Kodam IX/Udayana. Ada enam poin kerjasama yang disebutin, mulai dari:
- Peningkatan sumber daya manusia
- Pertukaran data dan informasi
- Pelatihan bela negara
- … dan beberapa poin lainnya yang belum dirinci secara detail dalam berita ini.
Poin pelatihan bela negara ini mungkin jadi salah satu yang paling bikin mahasiswa khawatir. Bela negara memang penting, tapi mahasiswa mungkin punya pandangan sendiri soal bagaimana bela negara ini seharusnya diterapkan di lingkungan kampus. Apakah harus melibatkan militer? Atau ada cara lain yang lebih sesuai dengan nilai-nilai akademik?
Kenapa Mahasiswa Nggak Setuju Kerjasama dengan TNI?¶
Ada beberapa alasan kuat kenapa mahasiswa Unud menolak keras kerjasama dengan TNI ini:
-
Militerisme di Kampus: Mahasiswa khawatir kerjasama ini bisa membuka pintu masuk militerisme ke dalam kampus. Kampus seharusnya jadi ruang yang bebas dari tekanan dan pengaruh militer. Kehadiran militer di kampus, dalam bentuk apapun, bisa dianggap sebagai ancaman bagi kebebasan akademik dan berpikir kritis.
-
Kebebasan Akademik Terancam: Kerjasama dengan militer dikhawatirkan bisa membatasi kebebasan akademik. Mahasiswa dan dosen jadi nggak bebas lagi buatDiskusi dan riset tentang isu-isu sensitif yang mungkin nggak sejalan dengan kepentingan militer. Kampus harusnya jadi tempat di mana semua ide bisa dibahas secara terbuka dan tanpa rasa takut.
-
Trauma Sejarah: Sejarah Indonesia mencatat beberapa peristiwa kelam yang melibatkan militer di dunia pendidikan. Meskipun konteksnya berbeda, trauma ini masih membekas dan membuat sebagian orang, termasuk mahasiswa, waspada terhadap keterlibatan militer di kampus.
-
Fungsi Kampus yang Seharusnya: Kampus punya fungsi utama sebagai tempat pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Kerjasama dengan militer, apalagi yang ruang lingkupnya belum jelas, dikhawatirkan bisa menggeser fokus kampus dari fungsi utamanya ini. Mahasiswa pengen kampus tetap jadi tempat yang fokus pada pengembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan masyarakat sipil, bukan menjadi kepanjangan tangan militer.
-
Transparansi dan Akuntabilitas: Proses kerjasama ini dinilai kurang transparan dan kurang melibatkan mahasiswa. Pengumuman yang telat dan kurangnya informasi detail tentang isi perjanjian juga menambah kecurigaan mahasiswa. Mereka pengen proses pengambilan keputusan di kampus lebih terbuka dan akuntabel, terutama untuk isu-isu yang berdampak besar seperti ini.
Apa Dampak Kerjasama Ini Sebenarnya?¶
Sebenarnya, apa sih dampak nyata dari kerjasama antara universitas dan militer ini? Ini pertanyaan penting yang perlu dijawab secara jujur dan terbuka.
Potensi Dampak Positif (menurut pihak yang mendukung kerjasama):
- Peningkatan SDM: Kerjasama bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di kedua belah pihak. Misalnya, TNI bisa memberikan pelatihan kepemimpinan dan kedisiplinan kepada mahasiswa, sementara universitas bisa memberikan pelatihan teknis dan keilmuan kepada anggota TNI.
- Pertukaran Ilmu dan Teknologi: Kerjasama bisa membuka peluang pertukaran ilmu pengetahuan dan teknologi antara universitas dan TNI. Ini bisa bermanfaat untuk pengembangan riset dan inovasi di berbagai bidang.
- Penguatan Bela Negara: Kerjasama bisa menjadi wadah untuk memperkuat semangat bela negara di kalangan mahasiswa dan generasi muda. Pelatihan bela negara bisa meningkatkan rasa cinta tanah air dan kesadaran akan pentingnya pertahanan negara.
Potensi Dampak Negatif (menurut pihak yang menolak kerjasama):
- Militerisasi Kampus: Kerjasama bisa mengarah pada militerisasi kampus, di mana nilai-nilai dan budaya militer mulai mendominasi kehidupan kampus. Ini bisa membatasi kebebasan berekspresi dan berpikir kritis di kalangan mahasiswa.
- Represi dan Intimidasi: Kehadiran militer di kampus dikhawatirkan bisa menciptakan suasana represi dan intimidasi. Mahasiswa jadi takut untuk mengkritik kebijakan kampus atau pemerintah, karena khawatir berurusan dengan pihak militer.
- Pengalihan Anggaran: Kerjasama dengan militer bisa menyedot anggaran kampus yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kegiatan akademik dan penelitian. Ini bisa merugikan mahasiswa dan kualitas pendidikan di kampus.
- Legitimasi Kekerasan: Kerjasama dengan militer bisa memberikan legitimasi terhadap penggunaan kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan masalah. Ini bertentangan dengan nilai-nilai perdamaian dan penyelesaian konflik secara damai yang seharusnya dijunjung tinggi di lingkungan akademik.
Daftar di atas cuma potensi dampaknya ya. Dampak nyata dari kerjasama ini tergantung pada bagaimana kerjasama ini diimplementasikan dan diawasi nantinya. Yang pasti, perlu ada dialog yang terbuka dan jujur antara pihak kampus, mahasiswa, dan TNI untuk membahas masalah ini secara komprehensif.
Diagram Alur Aksi Mahasiswa (Mungkin Bisa Jadi Ilustrasi)¶
mermaid
graph LR
A[Konsolidasi Mahasiswa (1 April 2025)] --> B{Sepakat Aksi};
B -- Ya --> C[Sidang Akbar (8 April 2025)];
B -- Tidak --> D[Aksi Bentuk Lain?];
C --> E[Tuntutan Pembatalan Kerjasama Unud-TNI];
C --> F[Tuntutan Pembatalan Nota Kesepahaman Kemendikbudristek-TNI];
E --> G[Penyampaian Tuntutan ke Rektorat];
F --> G;
D --> H[Diskusi Lanjutan];
H --> B;
style C fill:#ccf,stroke:#333,stroke-width:2px
Diagram di atas menggambarkan alur singkat dari proses aksi mahasiswa, mulai dari konsolidasi sampai Sidang Akbar dan tuntutan yang akan disampaikan. Ini cuma gambaran sederhana ya, proses sebenarnya pasti lebih kompleks.
Video Mungkin Relevan (Cari di Youtube dengan Keyword “Demo Mahasiswa Indonesia”)¶
Mungkin bisa disisipkan video dari Youtube tentang demo mahasiswa di Indonesia (yang relevan secara konteks, bukan harus demo Unud spesifik karena belum terjadi). Cari video dengan keyword “Demo Mahasiswa Indonesia” atau “Aksi Mahasiswa Tolak Militerisme”. Pilih video yang representatif dan informatif. [Catatan: Karena saya tidak bisa langsung mencari dan menyisipkan video, ini hanya saran. Anda bisa mencari sendiri dan menyisipkannya jika relevan.]
Tabel Poin Kerjasama (Jika Ada Info Detail)¶
Kalau ada informasi lebih detail tentang pasal-pasal kerjasama (selain poin-poin di pasal 2), mungkin bisa dibuat tabel yang merangkum poin-poin pentingnya. Misalnya:
| Pasal | Ruang Lingkup Kerjasama | Detail | Potensi Dampak (Positif/Negatif) |
|---|---|---|---|
| Pasal 2 ayat 1 | Peningkatan SDM | Pelatihan kepemimpinan, seminar, workshop | Positif: SDM meningkat. Negatif: Potensi indoktrinasi? |
| Pasal 2 ayat 2 | Pertukaran Data & Informasi | … | … |
| Pasal 2 ayat 3 | Pelatihan Bela Negara | … | … |
| … | … | … | … |
[Catatan: Tabel ini contoh saja. Isi tabel harus disesuaikan dengan informasi detail dari perjanjian kerjasama jika ada.]
Kesimpulan dan Ajakan Diskusi¶
Intinya, kerjasama antara Universitas Udayana dan TNI ini memang lagi jadi sorotan. Mahasiswa punya kekhawatiran serius soal dampak kerjasama ini terhadap kebebasan akademik dan otonomi kampus. Mereka bergerak untuk menyuarakan penolakan mereka melalui aksi Sidang Akbar.
Pihak universitas sendiri berusaha meyakinkan mahasiswa bahwa kerjasama ini tidak akan membawa dampak negatif. Tapi, penjelasan ini belum cukup meredam kekhawatiran mahasiswa. Masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab dan kekhawatiran yang perlu diatasi.
Nah, menurut kalian gimana nih soal kerjasama universitas dan militer? Apakah ini langkah yang positif atau justru berbahaya buat dunia pendidikan? Yuk, diskusi di kolom komentar! Pendapat kalian penting banget buat memahami isu ini dari berbagai sudut pandang. Jangan ragu buat share artikel ini ke teman-teman kalian biar diskusinya makin rame!
Posting Komentar