Keren! Lilin Aromaterapi Bojonggede Go Internasional, Bahannya Alami Lho!

Table of Contents

Rumah-rumah biasanya pakai lilin pas mati lampu atau buat ritual keagamaan, ya kan? Tapi, beda cerita nih sama Ibu Yulianah. Buat dia, lilin itu bukan cuma penerang, tapi juga sumber rezeki!

Dari Dapur Rumah, Merambah Pasar Internasional

Di rumah produksinya yang sederhana, Ibu Yulianah ini jago banget bikin lilin sampai ribuan batang! Omzetnya? Jangan kaget, bisa sampai 700 juta Rupiah setahun! Gokil, ya?

Keren Banget! Lilin Aromaterapi Bojonggede Mendunia

Bersama suaminya, Pak Dhanu, Ibu Yulianah mendirikan Jakarta Candle di tahun 2011. Modal awalnya cuma 5 juta Rupiah. Tiga tahun pertama jualan lilin, jujur aja, belum terlalu sukses. Tapi, mereka nggak nyerah gitu aja dong. Mereka terus berinovasi, bikin lilin yang makin menarik. Hasilnya? Sekarang lilin buatan mereka udah go international!

Awal Mula yang Penuh Tantangan

“Dulu tahun 2011, kita coba-coba bikin lilin. Bahan-bahannya beli di toko kimia, alat-alatnya cari di Glodok,” cerita Ibu Yulianah waktu ditemui di rumah produksinya di Bojonggede, Bogor. “Tahun 2011 sampai 2013, orderan lilin tuh cuma 3-5 batang. Tapi, saya coba bikin titik di Google Maps, waktu itu e-commerce juga belum booming. Pas sosial media mulai ramai tahun 2016 ke atas, baru deh ketemu jalan. Malah sampai pengusaha wedding jadi langganan.”

Buat naikin penjualan, Ibu Yulianah aktif banget promosi di media sosial. Dia juga nggak ragu buat jualan lewat e-commerce. Dengan cara ini, Jakarta Candle makin dikenal dan dapat banyak relasi serta pembeli baru.

Inovasi Produk Biar Nggak Ketinggalan Zaman

Jakarta Candle nggak cuma bikin lilin yang itu-itu aja. Mereka terus upgrade jenis lilinnya biar sesuai tren pasar. Sekarang, Ibu Yulianah udah bikin berbagai macam lilin, mulai dari pillar candle, glass candle, taper candle, sampai polish. Macam-macam banget, deh!

Jenis Lilin Aromaterapi Bojonggede

Pillar candle itu lilin yang bentuknya silinder tebal, biasanya buat dekorasi. Kalau glass candle itu lilin yang ditaruh di dalam gelas cantik, cocok buat hadiah atau dipakai sendiri biar ruangan makin wangi. Taper candle itu lilin panjang dan ramping yang biasa dipakai di meja makan romantis. Nah, kalau polish ini mungkin maksudnya candle polish, semacam cairan buat membersihkan lilin biar tetap kinclong.

Beralih ke Bahan Alami, Permintaan Ekspor Meningkat

Ternyata, tembus pasar global itu banyak pelajarannya. Permintaan dari luar negeri sekarang lebih banyak yang cari bahan organik, kayak beeswax (lilin lebah) dan bahan nabati, daripada bahan kimia kayak parafin.

“Awalnya kita masih pakai parafin impor. Tapi, lama-lama dapat masukan dari klien, katanya lebih bagus lagi kalau pakai bahan organik. Parafin itu kan dari minyak bumi, lebih banyak unsur kimianya. Kalau yang nabati ini lebih sehat. Orang-orang luar negeri lebih peduli sama kesehatan, makanya mereka cari lilin kita. Itu yang bikin beda,” jelas Ibu Yulianah.

Bahan Alami Lilin Aromaterapi Bojonggede

Dengan bahan-bahan yang lebih sehat, lilin Jakarta Candle makin diminati pelanggan dari luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, sampai Australia. Bahkan, lilin mereka juga sering dipakai di acara pernikahan artis terkenal yang wedding organizer-nya pakai produk JC. Wah, keren banget!

Memberdayakan Masyarakat Sekitar

Kalau lagi banyak pesanan, Ibu Yulianah nggak segan buat ngajak tetangga sekitar buat bantu kerja di bagian finishing. Dalam sebulan, Jakarta Candle bisa terima order sampai 5000 batang lilin! Omzetnya rata-rata antara 50 sampai 60 juta Rupiah per bulan. Lumayan banget, kan?

“Omzet rata-rata 50-60 juta, kapasitas produksi sebulan bisa 5.000 buah,” kata Ibu Yulianah.

14 Tahun Berbisnis, Hasilnya Mantap!

Setelah 14 tahun berkecimpung di bisnis lilin, Ibu Yulianah sekarang udah bisa punya rumah sendiri, beliin rumah dan kebun buat mertua, sampai punya kendaraan. Tapi, cita-citanya nggak berhenti di situ. Dia pengen banget naik haji, rukun Islam yang terakhir. Mulia banget, ya!

“14 tahun bisnis lilin ini, ini, ini,” sambil nunjukin motor dan mobilnya, “aku juga udah punya rumah, ada tabungan juga. Rumah di daerah Sasak Panjang, rumah kecil buat mertua sama kebun sedikit. Pengen umroh, pengen haji, belum kesampaian,” ucap Ibu Yulianah dengan nada penuh harap.

Dukungan KUR dari BRI Membantu Pengembangan Usaha

Buat modal usaha, Ibu Yulianah juga sempat memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank BRI. Mulai dari pinjaman 10 juta, 15 juta, sampai 25 juta Rupiah, semua didapat dari BRI Unit Bojonggede. Menurutnya, karena catatan penjualan bagus dan usahanya jelas, pengajuan KUR-nya lancar jaya.

“Aku udah jadi nasabah tahun 2015 atau 2016. Sempat ambil KUR tahun 2018 selesai, sampai sekarang belum ambil lagi. Terakhir paling gede Rp25 juta. Mudah karena kita udah dilihat usaha udah lama, pencatatan jualan juga bagus. KUR kemarin buat perputaran bahan baku dan suntikan dana aja,” terang Ibu Yulianah.

KUR BRI untuk UMKM

Ikut Pameran UMKM EXPO(RT) BRI, Makin Mendunia!

Nggak cuma dapat KUR, Ibu Yulianah juga diajak ikut pameran BRI UMKM EKSPO(RT) di bulan Januari 2025. Dia jadi salah satu dari 1000 UMKM yang ikut pameran bergengsi ini. Bahkan, Jakarta Candle masuk dalam 200 UMKM yang dapat pendampingan usaha setelah pameran. Wah, makin keren aja nih Jakarta Candle!

BRI Mendukung UMKM Lokal

Kepala Unit BRI Bojonggede, Bapak Abdul Ghopur, juga cerita kalau Ibu Yulianah memang nasabah lama BRI Unit Bojonggede yang udah memanfaatkan KUR sejak awal merintis usaha.

“Bu Yulianah memang nasabah lama kami di BRI Bojonggede, beliau dari mulai merintis usahanya menggunakan fasilitas KUR. Memang produk fasilitas pinjaman UMKM yang suku bunganya sangat ringan dibandingkan di fasilitas produk lain, baik itu sesama BRI atau perusahaan lain, karena 0 persen per tahun bunganya per bulannya 0,275 makanya masyarakat itu memanfaatkan untuk modal usaha,” jelas Bapak Ghopur.

BRI nggak cuma kasih pinjaman, tapi juga dorong UMKM buat terus berkembang. Salah satunya dengan ngajak UMKM ikut berbagai pameran dan acara yang diadakan BRI. Produk Jakarta Candle juga ikut mejeng di acara tahunan BRI UMKM EXPO(RT).

Selain pameran, Bapak Ghopur juga bilang kalau UMKM sering diajak ikut bazar dan pelatihan buat nambah ilmu dan penjualan. Sekarang, BRI juga punya program revitalisasi dengan menerjunkan 1 mantri 1 desa, biar makin dekat sama UMKM. Mantri ini kayak petugas BRI yang khusus ngurusin UMKM di desa-desa.

“BRI sering mengadakan Panen Hadiah Simpedes dari dulu membagikan undian, di dalam itu ada acara panggung dan kita sertakan bazar setiap BRI unit paling sedikit 3 UMKM itu pasti setahun 2 kali. Nah nanti yang setahun sekali kita ikuti lagi nah kalau expo acara Kanwil sehingga kita lihat mana UMKM yang sudah pantas. Jadi dia juga merasa tak hanya meminjam di BRI tapi kita beri ruang,” lanjut Bapak Ghopur.

UMKM Andalan Desa, Bermanfaat Bagi Lingkungan

Sekarang, usaha Ibu Yulianah ini jadi UMKM andalan di desanya. Selain usahanya maju, dia juga sering nyerap tenaga kerja dari lingkungan sekitar, jadi ngebantu nyiptain lapangan kerja dan peluang usaha. Ibu Yulianah juga sering berbagi ilmu ke UMKM lain kalau diminta jadi pembicara di acara pertemuan UMKM di desanya. Inspiratif banget, ya!

UMKM Andalan Desa

Gimana, keren banget kan kisah sukses Ibu Yulianah dengan lilin aromaterapinya? Dari usaha rumahan kecil, sekarang udah bisa tembus pasar internasional dan bantu ekonomi masyarakat sekitar. Salut banget sama kegigihan dan inovasinya!

Yuk, kasih pendapatmu di kolom komentar! Kamu punya pengalaman pakai lilin aromaterapi? Atau punya ide bisnis lain yang bisa go international kayak Jakarta Candle? Share dong!

Posting Komentar