Kisah Pemancing Citanduy: Dulu Hobi, Sekarang Jadi Sumber Rezeki!

Table of Contents

Kisah Pemancing Citanduy

“Boys will be boys,” mungkin benar ya pepatah dari Inggris ini. Cowok itu katanya memang nggak pernah benar-benar dewasa, apalagi kalau soal hobi. Yang namanya kegemaran, kayaknya susah banget buat ditinggalin, meskipun umur terus bertambah.

Nah, ini juga nih yang dialami sama para penggemar mancing. Buat banyak pria, kegiatan berburu ikan ini bukan cuma sekadar mengisi waktu luang, tapi sudah jadi bagian dari hidup. Rasanya ada yang kurang kalau nggak pegang joran dan merasakan sensasi tarikan ikan.

Maman, Si Pemancing Senior dari Ciamis

Kenalan yuk sama Pak Maman Suparman. Beliau ini kelahiran tahun 1953 dan sudah jatuh cinta sama mancing sejak masih muda. Warga Gunungcupu, Ciamis ini, kami temui di Leuwi Tonjong, salah satu spot favorit buat mancing di Sungai Citanduy. Lokasinya ada di Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya. Waktu itu hari Kamis, tanggal 6 Maret 2025.

mermaid graph LR A[Sungai Citanduy] --> B(Leuwi Tonjong) A --> C(Spot Lain 1) A --> D(Spot Lain 2) B --> E[Maman Suparman] style B fill:#f9f,stroke:#333,stroke-width:2px

Beberapa spot memancing di Sungai Citanduy, salah satunya Leuwi Tonjong yang jadi favorit Pak Maman.

Pak Maman cerita, mancing itu baginya bukan cuma hobi biasa. Ada kepuasan tersendiri setiap kali berhasil narik ikan dari sungai. Walaupun kadang ada aja yang bilang hobi mancing itu “pangedulan” alias kerjaannya orang malas, Pak Maman punya pembelaan sendiri.

“Dulu mah sering dimarahin orang tua kalau keseringan mancing, katanya ‘pangedulan’. Tapi kalau saya bilang sih, semua juga asal jangan berlebihan, tahu waktu. Mending hobi mancing daripada hobi ‘beger’,” katanya sambil tertawa. “Beger” ini bahasa Sunda buat selingkuh ya. Wah, ada benarnya juga nih kata Pak Maman.

Apalagi, Pak Maman ini lebih suka mancing di sungai. Katanya sih lebih hemat biaya daripada mancing di kolam pemancingan. “Ini mah hobi murah meriah. Umpannya juga cuma goreng tempe,” ujarnya sambil menunjukkan umpan sederhananya. “Beda sama kalau mancing di kolam, sekali mancing bisa habis Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu.” Mancing di sungai memang asyik ya, bisa lebih dekat dengan alam dan nggak bikin kantong bolong.

Pengalaman Mancing di Citanduy: Dari Ikan Biasa Sampai Ikan Khas

Sudah puluhan tahun malang melintang di dunia permancingan sungai, khususnya Sungai Citanduy, Pak Maman sudah khatam banget seluk beluk sungai ini. Katanya, hampir semua jenis ikan di Citanduy pernah ia dapatkan. Termasuk ikan-ikan khas Citanduy yang namanya mungkin jarang kita dengar.

Meskipun populasi ikan khas Citanduy katanya sudah mulai berkurang, tapi Pak Maman optimis ikan-ikan ini belum punah. “Jarang memang iya, tapi kalau punah kayaknya enggak. Masih banyak, kayak ikan balar, kampal, bebeong, cili-cili, kancra,” sebut Pak Maman. “Ikan-ikan macam itu memang hidupnya di sini, beranak pinak di Citanduy. Nggak ada yang budidaya.”

Video tentang Sungai Citanduy (video ilustrasi dari Youtube)

Menurut Pak Maman, munculnya ikan-ikan khas ini tergantung sama kondisi air sungai. Contohnya ikan bebeong, biasanya muncul kalau air sungai lagi keruh dan keluarnya sore sampai malam hari. Ada juga ikan-ikan tertentu yang sifatnya musiman.

“Kayak balar itu biasanya musiman. Mungkin dia lagi pindah dari hilir ke hulu, tiba-tiba saja kita dapat balar terus-terusan. Tergantung kondisi air,” jelas Pak Maman. Wah, ternyata mancing di sungai itu butuh pengetahuan juga ya, nggak cuma asal lempar umpan.

Walaupun tujuan utama mancing itu menangkap ikan, tapi Pak Maman punya prinsip sendiri. Ikan-ikan khas Citanduy yang masih kecil atau ukurannya belum layak konsumsi, biasanya dilepasin lagi ke sungai. Tujuannya biar ikannya bisa tumbuh besar dulu dan berkembang biak.

“Pernah tiba-tiba dapat beberapa ekor bebeong sebesar jempol, ah saya lepas lagi. Ya soalnya dimakan juga tanggung, mendingan dilepas lagi biar besar dulu. Kecuali kalau dapatnya ikan yang memang kecil, misalnya beunteur atau ikan-ikan budidaya,” kata Pak Maman. Salut deh sama Pak Maman, hobinya tetap memperhatikan kelestarian alam.

Pak Maman juga bersyukur banget Sungai Citanduy masih banyak ikannya. Sungai ini jadi perantara rezeki buat dirinya. “Melak henteu, diuseupan unggal poe, tapi teu beak-beak. Eta pan kersaning Gusti Allah,” ucap Pak Maman dengan nada syukur. Artinya, “Menanam ikan tidak, dipancing tiap hari, tapi ikan tak ada habisnya. Jelas itu kuasa Allah SWT.” Rezeki memang datang dari arah yang tak terduga ya.

Tudi, Hiburan di Tepi Sungai Berujung Rezeki

Selain Pak Maman, ada juga Pak Tudi (44) yang punya cerita menarik soal mancing di Citanduy. Buat Pak Tudi, nongkrong berjam-jam di tepi sungai itu jadi cara dia buat cari hiburan. Momen yang paling ditunggu-tunggu tentu saja saat strike, yaitu saat ikan menyambar umpan dan joran melengkung.

“Sensasi strike ikan nilem ukuran 2 jari di sungai, sama strike ikan mas sekilo di kolam, menurut saya lebih nikmat di sungai. Soalnya perjuangannya kan beda,” kata Pak Tudi. Memang beda ya rasanya mancing di alam bebas sama di kolam buatan. Ada tantangan dan sensasi yang lebih естественный.

Mancing di sungai itu juga butuh mental yang kuat dan kesabaran ekstra. Soalnya, potensi nggak dapat ikan alias “zonk” itu gede banget. “Mancing di sungai di-zonk itu sudah biasa, nggak jadi beban dan nggak kapok. Beda kalau mancing di kolam, nggak dapat ikan itu jadi beban, malu di-bully teman,” jelas Pak Tudi. Betul juga ya, tekanan di kolam pemancingan pasti beda.

Tapi, kalau lagi mujur, mancing di sungai bisa kasih rezeki nomplok. Misalnya, strike ikan caung atau bebeong ukuran jumbo. Ikan-ikan besar ini bisa dijual dengan harga lumayan tinggi. “Dapat bebeong sebesar lengan aja, ditenteng sambil pulang, itu pasti banyak yang nawar. Setidaknya Rp 75 ribu bisa laku, karena ikan itu jarang dan tidak ada di pasar,” kata Pak Tudi. Wah, lumayan banget ya buat tambahan uang jajan.

Jenis Ikan Keterangan
Balar Ikan khas Citanduy, musiman, ukuran bisa cukup besar.
Kampal Ikan khas Citanduy, habitat di sungai, bentuk pipih.
Bebeong Ikan khas Citanduy, muncul saat air keruh, aktif sore-malam.
Cili-cili Ikan khas Citanduy, ukuran kecil, hidup berkelompok.
Kancra Ikan khas Citanduy, bentuk unik, ada yang menyebut mirip ikan mas.
Nilem Ikan sungai umum, ukuran sedang, sering jadi target mancing.
Caung Ikan sungai predator, ukuran besar, harga jual tinggi.
Beunteur Ikan kecil, sering jadi umpan atau lauk konsumsi sederhana.
Beberapa jenis ikan yang disebutkan Pak Maman dan Pak Tudi di Sungai Citanduy.

Kisah Pak Maman dan Pak Tudi ini bukti nyata ya, hobi yang ditekuni dengan serius bisa jadi sumber rezeki. Dari sekadar mengisi waktu luang, mancing di Sungai Citanduy ternyata bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Yang penting tetap semangat, sabar, dan jangan lupa jaga kelestarian alam sekitar.

Bagaimana pengalaman memancing Anda? Spot mancing favoritmu di mana nih? Share cerita seru kalian di kolom komentar ya!

Posting Komentar