Mahfud MD Buka Suara Soal Ijazah Jokowi yang Lagi Ramai Dibahas
Isu Ijazah Palsu Jokowi Kembali Mencuat¶
Guys, inget gak sih soal isu ijazah katanya palsu milik Presiden Jokowi? Nah, ternyata isu ini belum kelar juga nih. Malah, belakangan ini makin rame lagi diomongin di media sosial. Kayaknya emang topik yang gak ada matinya ya.
Jadi, ceritanya tuh gara-gara ada mantan dosen dari Universitas Mataram, namanya Rismon Hasiholan Sianipar, yang tiba-tiba meragukan keaslian ijazah S1 Jokowi dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Dia bilang kok bisa ijazah dari UGM diragukan? Ya namanya juga isu, pasti ada aja yang nyamber. Gak heran deh kalau akhirnya banyak pihak ikut nimbrung kasih komentar, termasuk tokoh hukum tata negara, Pak Mahfud MD.
Mahfud MD: Publik Berhak Bertanya¶
Menurut Pak Mahfud MD nih, masyarakat itu punya hak banget buat mempertanyakan keaslian ijazah Presiden Jokowi. Wajar aja kalau publik jadi kepo dan pengen tau yang sebenernya. Apalagi kan kita punya Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik, jadi emang seharusnya informasi kayak gini tuh bisa diakses sama masyarakat.
Pak Mahfud bilang, di tengah ramainya isu dugaan ijazah palsu ini, ya wajar kalau publik minta kejelasan. Masyarakat cuma pengen keterbukaan informasi, itu aja kok. Hal ini diungkapkan Pak Mahfud pas lagi ngobrol santai sama Rizal Mustary di podcast Terus Terang. Kata beliau, “Enggak salah. Karena ada Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik. Di mana di situ dikatakan masyarakat berhak sepenuhnya untuk mengetahui dokumen-dokumen dan meminta dokumen-dokumen itu dibuka kepada publik demi transparansi,”. Tuh kan, jelas banget ya.
Keputusan Presiden Tetap Sah Walau Ijazah Diragukan¶
Tapi nih ya, meskipun isu ijazah ini lagi panas-panasnya, Pak Mahfud juga negasin satu hal penting. Beliau bilang, semua keputusan yang udah diambil Jokowi selama jadi presiden itu tetap sah dan berlaku secara hukum. Jadi, meskipun nanti misalnya ijazahnya terbukti palsu (amit-amit jabang bayi ya!), keputusan-keputusan presiden gak bisa serta merta dibatalin gitu aja.
Mantan Menko Polhukam ini jelasin, mungkin aja pas nyalonin diri jadi presiden di KPU dulu, syaratnya Jokowi gak terpenuhi karena ijazahnya palsu. Tapi, sekali lagi, keputusan selama menjabat itu beda cerita. Dalam hukum administrasi negara, ada yang namanya asas kepastian hukum. Asas ini penting banget buat menjaga stabilitas dan ketertiban.
Pak Mahfud kasih contoh yang lebih gamblang lagi nih. Beliau ngungkit soal zaman Presiden Soekarno dulu. Dulu kan Bung Karno pernah ngambil alih kekuasaan dari Belanda, padahal sebenernya itu melanggar konstitusi Belanda yang saat itu masih berlaku dan diakui PBB. Tapi, karena Bung Karno dapet dukungan rakyat, dan Mahkamah Agung juga bilang demi kepentingan rakyat, tindakan Bung Karno itu dianggap sah. Sama kayak Orde Baru juga, banyak kebijakannya yang kontroversial tapi tetep sah secara hukum.
Intinya, asas kepastian hukum itu bilang gini: keputusan yang udah dikeluarin secara sah, ya tetep mengikat dan gak boleh dibatalin seenaknya. Pak Mahfud bilang, “Asas kepastian hukum itu keputusan yang sudah (mengikat). Nanti ada perhitungan ganti rugi. Bukan ke orang yang misalnya ya Pak Jokowi terbukti ijazahnya tidak sah. Lalu kontrak-kontrak dengan luar negeri, dengan perusahaan-perusahaan apa itu dan sebagainya, itu batal, tidak bisa. Bisa dituntut kita secara internasional,”. Nah, jadi udah jelas ya, keputusan presiden itu gak main-main dan gak bisa dibatalin cuma gara-gara isu ijazah.
Awal Mula Isu Ijazah Palsu¶
Sebenernya, rumor soal ijazah palsu ini bukan barang baru. Udah lama banget isu ini beredar dan bahkan udah sempet diperkarakan secara hukum beberapa kali. Catatan aja nih, udah ada tiga gugatan yang dilayangkan ke pengadilan terkait isu ini, dan semuanya dimenangkan sama pihak Jokowi. Artinya, pengadilan udah menyatakan bahwa tuduhan ijazah palsu itu gak terbukti.
Tapi ya namanya juga isu, selalu aja ada celah buat dibahas lagi. Kali ini, yang jadi sorotan adalah soal perbedaan font di lembar pengesahan dan sampul skripsi Jokowi. Katanya sih, font Times New Roman yang dipake itu belum ada di era 80-an atau 90-an, masa Jokowi kuliah. Wah, detail banget ya yang merhatiin. Dari situ lah perdebatan publik makin panas. Ada yang percaya, ada juga yang skeptis.
Ditambah lagi, meskipun udah menang gugatan berkali-kali, pihak Jokowi atau kuasa hukumnya kayaknya belum pernah nunjukkin ijazah asli ke publik. Ini juga yang bikin sebagian orang jadi makin curiga dan bertanya-tanya. Kenapa sih gak ditunjukin aja ijazahnya biar semua jelas?
Bantahan dari UGM dan Kuasa Hukum Jokowi¶
Gak lama setelah isu font ini rame, pihak UGM langsung gercep kasih klarifikasi. Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Pak Sigit Sunarta, dengan tegas bilang bahwa ijazah Jokowi itu asli dan sah. Beliau bilang, teman-teman seangkatan Jokowi juga kenal baik sama sosok Jokowi waktu kuliah. Jokowi aktif di kegiatan mahasiswa, ikut banyak mata kuliah, dan ngerjain skripsi juga.
Pak Sigit juga jelasin soal font Times New Roman yang dipermasalahkan. Beliau bilang, di tahun 80-an atau 90-an itu emang udah biasa mahasiswa pake font yang mirip-mirip Times New Roman, apalagi buat cetak sampul dan lembar pengesahan di tempat percetakan. Dulu di sekitar kampus UGM juga udah banyak percetakan kayak Prima dan Sanur yang nyediain jasa cetak sampul skripsi. Jadi, menurut Pak Sigit, penggunaan font itu hal yang wajar aja.
Soal nomor seri ijazah yang cuma angka aja tanpa embel-embel lain, Pak Sigit juga kasih penjelasan. Dulu, UGM emang belum punya kebijakan penyeragaman nomor seri ijazah. Fakultas Kehutanan akhirnya punya kebijakan sendiri, nomor seri ijazah itu berdasarkan urutan nomor induk mahasiswa yang lulus dan ditambahin singkatan FKT (Fakultas Kehutanan).
Sementara itu, dari pihak kuasa hukum Jokowi juga gak tinggal diam. Mereka nantangin balik tuh para pembuat berita bohong buat ngebuktiin omongannya soal ijazah palsu. Pengacara Jokowi, Yakup Hasibuan, bilang, “Kami sampaikan dengan tegas tuduhan-tuduhan mengenai ijazah palsu Bapak Joko Widodo adalah tidak benar dan itu sangat menyesatkan. Ayo kita putar kembali kepada asas-asas hukum itu bahwa siapapun yang mendalilkan, siapapun yang menuduh, dialah yang membuktikan,”. Tuh, tegas banget kan?
Kuasa Hukum Tidak Ingin Menunjukkan Ijazah Asli¶
Tim kuasa hukum Jokowi punya alasan sendiri kenapa mereka gak mau nunjukkin ijazah asli ke publik. Mereka bilang, mereka cuma bakal nunjukkin ijazah asli kalau emang ada perintah hukum yang jelas. Pengacara Jokowi lainnya, Rivai Kusumanegara, ngungkapin bahwa tim pengacara merasa gak punya kewajiban hukum buat mempertontonkan ijazah itu ke masyarakat luas.
Apalagi, di sidang-sidang sebelumnya, hakim juga gak ngabulin permintaan pihak penggugat buat nunjukkin ijazah asli. Jadi, keputusan buat gak nunjukkin ijazah asli ini udah jadi kesepakatan tim pengacara sejak dua tahun lalu. Kata Pak Rivai, “Memang sejak 2 tahun lalu, kami tim hukum sudah mengkaji dan sepakat untuk tidak menunjukkan ijazah aslinya, sekalipun kami semua sudah melihat langsung secara fisik ijazah aslinya tersebut,”.
Tim kuasa hukum juga curiga, permintaan buat nunjukkin ijazah ini bukan buat nyari kebenaran, tapi lebih buat mojokin dan ada kepentingan-kepentingan lain. Kecurigaan ini makin kuat pas pihak rektor dan dekan UGM udah nunjukkin salinan ijazah, eh malah muncul isu baru lagi soal font dan foto di ijazah. Pak Rivai bilang, “Yang terjadi bukan selesai, tapi yang terjadi adalah muncul isu baru. Font lah, foto lah, jadi ini sudah sesuai dengan dugaan kami, sehingga kami melihat ini hanya sekadar jebakan Batman,”. Wah, istilahnya keren juga nih, jebakan Batman!
Gimana menurut kalian soal isu ijazah Jokowi ini? Apakah kalian percaya dengan penjelasan dari UGM dan kuasa hukum? Atau masih ada yang ganjil? Yuk, kasih pendapat kalian di kolom komentar di bawah ini! Jangan ragu buat diskusi ya!
Posting Komentar