Rebutan Ikan Mabuk! Warga Blitar Serbu Bendungan yang Lagi Dibuka

Table of Contents

Blitar - Suasana di beberapa titik sepanjang aliran Sungai Brantas di Kabupaten Blitar mendadak ramai tak seperti biasanya. Ratusan warga tumpah ruah memadati pinggiran sungai dan area sekitar bendungan. Bukan untuk piknik atau santai-santai, tapi mereka lagi ‘berburu’ ikan! Tapi ikan yang diburu ini bukan sembarang ikan, melainkan ikan-ikan yang lagi ‘mabuk’. Kejadian seru ini muncul pas ada proses flushing di dua bendungan yang ada di wilayah tersebut.

Istilah flushing ini kadang juga dikenal warga lokal dengan sebutan pladu. Jadi, pladu itu semacam kegiatan ‘bersih-bersih’ rutin bendungan. Tujuannya biar sedimen atau lumpur yang numpuk di dasar bendungan bisa terkuras keluar. Nah, pas air bendungan dibuka besar-besaran buat ngeluarin sedimen itu, kondisi sungai di hilir jadi berubah drastis. Arus bisa jadi lebih deras, air keruh, dan ketinggian air juga fluktuatif. Perubahan kondisi mendadak inilah yang bikin ikan-ikan di sungai jadi kaget, disorientasi, atau istilah warga: ‘mabuk’. Ikan-ikan ini jadi gampang ditangkap karena gerakannya melambat atau bahkan cuma ‘pasrah’ terbawa arus di pinggiran.

Momen pladu yang bikin ikan ‘mabuk’ ini sudah jadi semacam tradisi tahunan yang ditunggu-tunggu masyarakat sekitar bendungan. Bagi sebagian warga, ini bukan cuma sekadar hobi, tapi juga kesempatan langka buat dapetin ikan segar gratis dalam jumlah banyak. Nggak heran kalau pas pladu diumumkan, warga langsung siap-siap dengan alat seadanya buat nyerbu sungai.

Lokasi perburuan ikan mabuk ini terpantau ramai banget di beberapa desa yang dilewati aliran Sungai Brantas setelah bendungan, mulai dari Desa Tumpang di Kecamatan Talun, Desa Satreyan di Kecamatan Kanigoro, sampai meluas ke wilayah Kecamatan Sutojayan. Titik-titik yang biasanya paling ramai adalah area yang arusnya agak melambat atau di cekungan-cekungan pinggir sungai tempat ikan-ikan ‘mabuk’ ini terdampar atau bergerombol. Keramaian ini nunjukkin betapa antusiasnya warga menyambut momen setahun sekali ini.

Tradisi Tahunan yang Menguntungkan

Salah satu warga yang nggak mau ketinggalan momen pladu ini adalah Susanto. Bapak berusia 37 tahun ini ngaku udah rutin banget ikutan kegiatan cari ikan pas bendungan di-flushing. Baginya, ini udah jadi agenda wajib tahunan yang sayang banget dilewatin. “Setiap tahun memang cari ikan kalau pas pladu, rutinan setahun sekali,” kata Susanto sambil membersihkan ikan hasil tangkapannya di pinggir sungai.

Susanto bilang, titik favoritnya buat nyari ikan mabuk ya di sekitar Jembatan Glondong yang menghubungkan Kanigoro dan Sutojayan. Lokasi ini dianggap strategis karena arusnya yang pas atau mungkin karena udah jadi semacam ‘spot legendaris’ buat para pemburu ikan pladu. Kumpul bareng warga lain yang punya hobi sama juga jadi nilai tambah dari kegiatan ini.

Pengalaman Susanto berburu ikan mabuk tahun ini tampaknya cukup memuaskan. Dia cerita kalau berhasil ngumpulin lumayan banyak ikan. “Totalnya mungkin sekitar 15 kilogram,” ungkapnya. Jumlah ini cukup besar lho buat ukuran tangkapan dadakan. Jenis ikan yang didapat juga campur-campur, khas ikan sungai yang hidup di bendungan dan aliran Brantas. Ada ikan bekel, ikan gurame, bahkan ikan nila. Ukurannya juga bervariasi, ada yang kecil-kecil, ada juga yang lumayan jumbo, sampai 1-1,5 kilogram per ekor!

Susanto memulai ‘petualangannya’ nyari ikan sejak sekitar pukul 11.00 WIB. Dia nggak pake alat canggih, cuma modal jaring kecil yang dipasang di ujung batang bambu. Alat sederhana ini udah cukup efektif buat nyerok atau menjaring ikan-ikan yang lagi ‘mabuk’ di pinggiran sungai atau di antara bebatuan. “Ini sudah mau pulang, sudah cukup dari sekitar pukul 11.00 WIB tadi,” ujarnya sore itu.

Meskipun hasilnya lumayan banyak, Susanto nggak bawa pulang semuanya buat dimakan sendiri. “Lumayan banyak dibandingkan tahun lalu, tapi sebagian ikan ini sudah dipesan tetangga di rumah,” jelasnya sambil tertawa. Ini nunjukkin kalau momen pladu ini juga punya dampak ekonomi kecil-kecilan bagi warga. Ikan segar hasil tangkapan langsung laku di pasaran lokal alias para tetangga yang udah ngincer.

Hasil Mencari Ikan di Bendungan
Warga Blitar Serbu Bendungan Cari Ikan Mabuk

Bukan Cuma Hobi, tapi Juga Sumber Penghasilan Tambahan

Cerita serupa datang dari Hari, warga lain yang juga ikutan berburu ikan mabuk. Pria berusia 32 tahun ini juga punya motivasi yang sama dengan Susanto, yaitu memanfaatkan momen pladu buat dapetin ikan. Bedanya, Hari emang udah niat buat ngejual sebagian besar hasil tangkapannya. “Sudah langganan dipesan tetangga, jadi cari ikan mabuk untuk dijual,” kata Hari.

Hari berhasil ngumpulin sekitar 13 kilogram ikan dari perburuan kali ini. Hasil ini cukup buat memenuhi pesanan tetangga dan mungkin menyisakan sedikit buat konsumsi pribadi. Aktivitas ini membuktikan bahwa pladu bukan cuma jadi ajang seru-seruan atau tradisi, tapi juga bisa jadi sumber penghasilan tambahan yang lumayan buat warga sekitar bendungan. Selain faktor ekonomi, Hari juga ngaku emang seneng aja ikutan kegiatan nyari ikan pas pladu gini. Ada sensasi tersendiri bisa berbaur sama warga lain, rebutan ikan (dalam artian positif berebut kesempatan dapat ikan), dan pulang bawa hasil.

Momen pladu ini bener-bener menghidupkan suasana di pinggiran Sungai Brantas. Ratusan orang berkumpul, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, semua semangat celup-celupin jaring atau alat tangkap lainnya ke air sungai yang keruh. Ada yang jalan perlahan menyusuri pinggiran, ada yang berdiri di atas batu, ada juga yang nekat nyemplung ke air setinggi lutut atau pinggang. Gelak tawa, teriakan kaget pas dapet ikan gede, dan obrolan antarwarga silih berganti terdengar. Ini adalah potret gotong royong dan keceriaan sederhana masyarakat pedesaan yang memanfaatkan karunia alam dari momen langka ini.

Proses flushing atau pladu sendiri sebetulnya punya tujuan utama untuk menjaga kelestarian dan fungsi bendungan. Sedimen yang menumpuk di dasar bendungan bisa mengurangi kapasitas tampung air dan mengganggu kinerja pintu air. Dengan dikeluarkan secara rutin, usia pakai bendungan bisa lebih panjang dan fungsinya sebagai pengatur aliran air, irigasi, atau pembangkit listrik tetap optimal. Namun, bagi masyarakat di hilir, pladu punya makna ganda: pemeliharaan bendungan dan ‘festival’ ikan mabuk gratis!

Dampak dan Risiko

Meskipun jadi berkah ikan gratis, kegiatan berburu ikan mabuk saat pladu juga punya beberapa aspek yang perlu diperhatikan. Pertama, keselamatan. Arus sungai saat flushing bisa tiba-tiba berubah atau deras di titik-titik tertentu. Permukaan dasar sungai juga nggak rata dan mungkin licin. Warga yang berburu harus ekstra hati-hati, apalagi yang membawa anak-anak. Risiko terpeleset, jatuh, atau bahkan terseret arus meskipun kecil tetap ada.

Kedua, aspek lingkungan. Kegiatan ini memang memanfaatkan kondisi ikan yang ‘mabuk’, tapi kalau dilakukan secara berlebihan atau dengan cara yang merusak (misalnya pake alat setrum, racun, atau jaring yang terlalu rapat yang bisa merusak ekosistem), tentu bisa berdampak negatif. Untungnya, kebanyakan warga di Blitar ini cuma pake alat sederhana seperti jaring serok atau tangan kosong, yang dampaknya relatif minimal.

Ketiga, isu regulasi. Sebetulnya, apakah ada aturan khusus terkait perburuan ikan saat pladu di bendungan milik pemerintah atau dikelola BUMN seperti PJT (Perum Jasa Tirta)? Umumnya kegiatan ini ditoleransi karena sudah jadi tradisi dan memanfaatkan momen khusus. Namun, pengelola bendungan biasanya memberikan peringatan atau himbauan terkait keselamatan kepada warga yang beraktivitas di sekitar area bendungan selama proses flushing. Sosialisasi tentang kapan pladu akan dilakukan juga penting agar warga tahu jadwalnya dan bisa mempersiapkan diri.

Bagi para pemburu ikan dadakan ini, hasil tangkapan mereka nggak cuma buat dimakan atau dijual. Ada juga yang mungkin mengolahnya jadi berbagai macam masakan khas, membagikannya ke sanak saudara, atau bahkan sekadar jadi cerita seru yang akan dikenang sampai pladu tahun berikutnya. Momen kebersamaan di pinggir sungai, saling bantu nyerok ikan, atau sekadar ngobrol santai sambil nunggu dapat tangkapan, itu semua adalah bagian dari kekayaan sosial yang terbangun dari tradisi pladu ini.

Kuantitas ikan yang didapat setiap tahun saat pladu juga bisa beda-beda. Susanto tadi bilang tahun ini lebih banyak dari tahun lalu. Faktornya bisa macam-macam, mulai dari seberapa efektif proses flushing ngaduk dasar bendungan, volume air yang dikeluarkan, durasi pembukaan pintu air, sampai kondisi cuaca. Mungkin tahun ini kondisi lebih optimal buat bikin ikan-ikan ‘mabuk’ dalam jumlah banyak.

Apa yang Membuat Ikan ‘Mabuk’?

Fenomena ‘ikan mabuk’ ini sebenarnya bisa dijelaskan secara ilmiah lho. Saat pintu bendungan dibuka besar, ada beberapa hal yang terjadi:

  1. Perubahan Arus Drastis: Aliran air di hilir bendungan jadi jauh lebih deras dan turbulen. Ikan yang terbiasa dengan arus tenang atau normal jadi kaget dan susah berenang melawan arus.
  2. Kekeruhan Air: Lumpur dan sedimen dari dasar bendungan ikut terhanyut. Air jadi sangat keruh. Kekeruhan ini bisa bikin ikan susah melihat, mengganggu pernapasan mereka (insang tersumbat partikel lumpur), dan bikin mereka stres.
  3. Perubahan Kadar Oksigen: Saat sedimen dasar teraduk, bahan organik yang terendap bisa ikut teroksidasi, yang bisa menurunkan kadar oksigen terlarut di air secara lokal. Kadar oksigen yang rendah bisa bikin ikan lemas.
  4. Perubahan Suhu: Air yang keluar dari dasar bendungan mungkin punya suhu yang berbeda dari air permukaan, menciptakan guncangan suhu bagi ikan.

Kombinasi faktor-faktor inilah yang bikin ikan kehilangan orientasi, keseimbangan, dan energi, sehingga terlihat seperti ‘mabuk’ dan gampang ditangkap. Mereka cenderung minggir ke tepian yang arusnya lebih tenang atau terdampar di genangan-genangan dangkal.

Tradisi berburu ikan mabuk ini jadi bukti bahwa aktivitas rutin pemeliharaan infrastruktur pun bisa menciptakan berkah tak terduga bagi masyarakat sekitar. Selama dilakukan dengan aman, bertanggung jawab, dan menggunakan alat yang tidak merusak lingkungan, kegiatan ini layak untuk terus dilestarikan sebagai bagian dari kearifan lokal yang unik.

Gimana nih pendapat kalian tentang tradisi unik ini? Seru banget kan kayaknya bisa ikutan rebutan ikan segar gratis pas bendungan lagi di-flush? Pernahkah kalian mengalami atau melihat kejadian serupa di daerah lain? Yuk, share cerita atau komentar kalian di bawah!

Posting Komentar