Tentara 'Nongkrong' di Kampus Lagi: Nostalgia Orba Atau...? Cari Tahu!
Fenomena tentara terlihat lagi di lingkungan kampus bikin banyak orang bertanya-tanya. Kok bisa ya, TNI jadi sering kelihatan di kampus belakangan ini? Beberapa pengamat dan akademisi bilang, situasi ini agak bikin khawatir. Mereka bilang, jangan-jangan ini tanda kemunduran demokrasi dan malah jadi kayak zaman Orde Baru dulu.
Fenomena TNI di Kampus: Dejavu Orde Baru?¶
Di era Orde Baru, atau yang sering disebut Orba, militer punya peran besar banget dalam segala aspek kehidupan sipil. Termasuk juga di dunia pendidikan. Dulu, kampus itu seringkali jadi tempat yang ‘panas’ karena isu-isu politik dan mahasiswa seringkali jadi garda depan perubahan. Nah, kehadiran militer di kampus pada masa itu, menurut sejarah, punya konteksnya sendiri yang cukup kompleks dan seringkali diperdebatkan.
Sekarang, kok kayaknya kejadian lagi? Beberapa waktu belakangan ini, ada beberapa laporan tentang kegiatan atau kehadiran TNI di lingkungan kampus. Ini yang bikin beberapa pihak jadi mikir, “Wah, ini jangan-jangan kayak dulu lagi?” Pertanyaan besarnya, apakah ini cuma kebetulan, atau memang ada pola tertentu?
Al Araf, peneliti senior dari Imparsial dan Ketua Centra Initiative, angkat bicara soal ini. Beliau bilang, fenomena tentara masuk kampus ini bukan barang baru. Dulu, di era 70-80an, hal serupa juga pernah terjadi. Waktu itu, kampus ITB jadi salah satu contohnya. Menurut Araf, kejadian sekarang ini bisa jadi sinyal kemunduran demokrasi. Apalagi kalau dilihat dari tata kelola pertahanan negara kita. “Ini preseden buruk dan kita jadi mundur lagi dalam tata kelola pertahanan, di mana militer balik lagi ke kampus,” ujarnya.
Senada dengan Araf, Khairul Fahmi, Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) yang juga pengamat militer, punya pandangan lain. Beliau melihat fenomena ini sebagai inisiatif yang “kebablasan” di lapangan. “Saya lihat ini lebih ke inisiatif lapangan yang kebablasan, bukan kebijakan sistemik,” kata Khairul. Maksudnya, mungkin ada anggota TNI di lapangan yang bertindak atas inisiatif sendiri, tanpa arahan jelas dari atas atau tanpa paham batasan wewenang mereka. Untuk mengatasi hal ini, Khairul menyarankan agar pimpinan TNI turun tangan, kasih penjelasan, dan meluruskan isu yang berkembang di masyarakat.
5 Kejadian TNI ‘Mampir’ Kampus Belakangan Ini¶
Biar lebih jelas, kita lihat beberapa kejadian TNI yang tercatat masuk kampus sejak Maret 2025:
1. Banyumas (24 Maret 2025): Ketemu BEM Gara-gara Protes RUU TNI¶
Awalnya, mahasiswa dari berbagai kampus di Banyumas melakukan aksi protes terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) TNI pada tanggal 21 Maret 2025. Nah, tiga hari kemudian, tanggal 24 Maret, perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai kampus di Banyumas diundang bertemu dengan Komando Distrik Militer (Kodim) 0701 Banyumas. Pertemuan ini yang kemudian jadi sorotan. Pertanyaannya, kenapa habis demo RUU TNI, malah ada pertemuan dengan Kodim? Apa hubungannya? Ini yang bikin sebagian mahasiswa dan pengamat jadi bertanya-tanya.
2. Merauke (25 Maret 2025): Data Mahasiswa Papua Diminta Kodim¶
Sehari setelah kejadian di Banyumas, muncul lagi kabar dari Merauke, Papua. Mahasiswa Papua di sana merasa terancam karena beredar surat dari Komando Distrik Militer (Kodim) 1707/Merauke. Surat itu ditujukan ke Sekretariat Daerah Merauke, isinya permintaan data mahasiswa. Alasan permintaan data ini, menurut surat tersebut, adalah untuk program kerja bidang intelijen/pengamanan dan pertimbangan komando serta staf Kodim 1707/Merauke. Permintaan data mahasiswa oleh pihak militer ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran. Data mahasiswa kan data pribadi, kenapa harus diminta oleh Kodim? Apa tujuannya? Ini yang bikin mahasiswa Papua merasa tidak nyaman dan terancam.
3. Universitas Udayana (26 Maret 2025, Penandatanganan 5 Maret): Kerja Sama TNI dan Kampus¶
Di Bali, tepatnya di Universitas Udayana (Unud), ada pengumuman kerja sama antara TNI dan kampus. Perjanjian kerja sama ini ternyata sudah diteken tanggal 5 Maret 2025 antara Rektor Unud, I Ketut Sudarsana, dan Panglima Kodam IX/Udayana, Muhammad Zamroni, yang mewakili Kepala Staf Angkatan Darat. Tapi, informasinya baru ramai dibicarakan tanggal 26 Maret. Kerja sama antara TNI dan kampus memang bukan hal baru. Tapi, konteks dan isi kerja sama ini yang perlu diperhatikan. Apakah kerja sama ini murni untuk kepentingan pendidikan dan penelitian, atau ada agenda lain? Ini yang perlu dikaji lebih dalam.
4. UIN Walisongo Semarang (14 April 2025): Diskusi “Fasisme Mengancam Kampus” Didatangi TNI¶
Di Semarang, tepatnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, ada diskusi yang temanya cukup ‘berat’: “Fasisme Mengancam Kampus: Bayang-Bayang Militer bagi Kebebasan Akademik.” Diskusi yang diadakan tanggal 14 April 2025 ini tiba-tiba didatangi oleh anggota TNI. Menurut laporan dari Amnesty Internasional Indonesia, anggota TNI yang datang itu menanyakan identitas pribadi panitia diskusi secara detail. Mulai dari nama lengkap, tempat tinggal, sampai semester berapa. Kedatangan TNI ke acara diskusi dengan tema sensitif seperti ini tentu saja menimbulkan pertanyaan besar. Apakah ini bentuk pengawasan atau bahkan intimidasi terhadap kebebasan akademik di kampus?
5. Universitas Indonesia (16 April 2025): TNI Muncul Saat Konsolidasi Mahasiswa¶
Terakhir, yang paling viral di media sosial adalah kejadian di Universitas Indonesia (UI) tanggal 16 April 2025. Kabar yang beredar luas, TNI masuk kampus UI saat ada kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Pihak rektorat UI sendiri menyatakan tidak mengundang TNI untuk hadir di acara tersebut. Kehadiran sejumlah anggota TNI ini terpantau di area Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa) UI, Depok, sekitar jam 11 malam. Malam itu, mahasiswa dari berbagai kampus dan organisasi mahasiswa seluruh Indonesia lagi kumpul di Pusgiwa UI untuk Konsolidasi Nasional Mahasiswa. Mereka membahas isu-isu kebangsaan. Kehadiran TNI di tengah acara konsolidasi mahasiswa lintas kampus ini tentu saja jadi perhatian. Apa maksud kedatangan TNI malam-malam ke acara mahasiswa?
Kata TNI: Bukan Intimidasi, Kok!¶
Menanggapi berbagai sorotan dan pertanyaan publik, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Brigjen Kristomei Sianturi, angkat bicara. Beliau menegaskan bahwa TNI tidak melakukan intimidasi terhadap mahasiswa saat datang ke kampus. Justru, menurut beliau, anggapan intimidasi itu adalah bentuk “rongrongan kekuasaan”. “Nah ini menurut saya ada pihak yang pengin merongrong pemerintah dengan memojokkan TNI dan mahasiswa,” kata Kristomei.
Pernyataan ini disampaikan untuk menanggapi narasi yang muncul di media sosial soal kedatangan TNI di kampus UI saat acara Konsolidasi Nasional Mahasiswa. Kristomei menyoroti unggahan dari akun Instagram @pantauaparat yang menyebut kehadiran TNI di kampus sebagai bentuk intimidasi dan pelanggaran kebebasan akademik. Di akun Instagram itu, ada foto kejadian TNI di UI tanggal 16 April. “Intimidasinya di mana?” tanya Kristomei, seolah membantah tuduhan tersebut.
Kristomei menjelaskan lebih lanjut bahwa kedatangan tentara ke UI itu karena diundang oleh mahasiswa yang sudah jadi sahabat TNI. “Cuma narasi yang dibuat seolah-olah TNI mengawasi diskusi. Itu tak ada kaitannya,” tepis Kristomei. Beliau juga menegaskan bahwa fenomena tentara masuk kampus ini bukan upaya untuk mengembalikan dwifungsi ABRI seperti zaman Orba. “Kalau ketakutan terhadap TNI akan balik dwifungsi ABRI seperti dulu zaman Orba, ini menurut saya ketakutan yang berlebihan,” ujarnya.
Jadi, menurut TNI, kehadiran mereka di kampus itu bukan untuk menakut-nakuti atau mengawasi mahasiswa, tapi lebih sebagai bentuk silaturahmi dan memenuhi undangan dari mahasiswa. Namun, penjelasan ini tentu saja tidak serta merta menghilangkan semua pertanyaan dan kekhawatiran yang sudah muncul di masyarakat.
Jadi, Gimana Menurutmu?¶
Fenomena TNI yang kembali sering terlihat di kampus ini memang memunculkan berbagai interpretasi. Ada yang melihatnya sebagai dejavu Orde Baru, ada yang bilang cuma inisiatif lapangan yang kebablasan, dan ada juga yang berpendapat ini bukan masalah besar. TNI sendiri sudah memberikan penjelasan dan membantah adanya intimidasi.
Tapi, yang jelas, kejadian ini menjadi topik yang menarik untuk didiskusikan lebih lanjut. Apakah kehadiran TNI di kampus ini wajar? Apakah ada potensi dampak negatif terhadap kebebasan akademik dan demokrasi? Atau justru ini bentuk sinergi positif antara TNI dan mahasiswa?
Bagaimana pendapatmu tentang fenomena ini? Yuk, tulis komentarmu di bawah! Kita diskusi bareng!
Posting Komentar