Visa & Mastercard Ketar-ketir QRIS? Ini Alasan Mereka!

Table of Contents

Visa & Mastercard Ketar-ketir QRIS? Ini Alasannya!

Quick Response Indonesian Standard (QRIS) dan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) lagi jadi sorotan nih. Pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui United States Trade Representative (USTR) malah menganggapnya sebagai hambatan buat perdagangan. Wah, kok bisa ya? Katanya sih, kebijakan ini bikin perusahaan pembayaran dari AS jadi susah masuk ke Indonesia. Tapi, beneran gitu alasannya? Yuk, kita bahas lebih dalam!

Kekhawatiran AS Terhadap QRIS dan GPN

Jadi, ceritanya AS merasa QRIS dan GPN ini bikin ribet buat perusahaan mereka yang mau berbisnis di Indonesia. Mereka bilang ini jadi semacam tembok penghalang perdagangan. Padahal, kalau dilihat-lihat, sebenernya gimana sih kondisi di lapangan? Apakah Visa dan Mastercard beneran jadi gak berdaya gara-gara QRIS?

Ketua Umum Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), Bapak Santoso Liem, punya pandangan yang menarik nih. Menurut beliau, sebenernya perusahaan switching dari AS itu gak ada masalah kok sama bisnis kartu kredit di Indonesia. Malah katanya, Visa dan Mastercard itu masih raja di bisnis kartu kredit kita. Perusahaan switching dari negara lain juga masih banyak yang kuat di sini. Jadi, kalau dibilang terhambat, kayaknya kurang pas deh.

Santoso Liem Ketua Umum ASPI

Bahkan, Pak Santoso memperkirakan pangsa pasar kartu kredit di Indonesia itu masih dikuasai banget sama Visa dan Mastercard, sekitar 75% sampai 80%! Gede banget kan? Kalau semua international principle digabungin, bisa sampai 95% pangsa pasar kartu kredit di Indonesia! Artinya, kartu kredit internasional masih sangat dominan di negara kita. Jadi, kekhawatiran AS ini sebenarnya lebih ke arah mana ya?

QRIS untuk Penggunaan Domestik dan Pemberdayaan UMKM

Nah, tapi memang ada satu area yang agak beda, yaitu kartu debit. Pak Santoso bilang, keberadaan QRIS ini memang punya pengaruh besar di kartu debit. Kenapa bisa gitu? Jadi, QRIS ini awalnya dibuat sebagai solusi biar pedagang dan masyarakat Indonesia lebih gampang transaksi. Dulu kan, gak semua Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mampu punya mesin Electronic Data Capture (EDC) yang mahal dan harus selalu online. Mesin EDC ini juga butuh biaya perawatan dan koneksi internet yang gak murah.

QRIS untuk UMKM

Makanya, Bank Indonesia (BI) bareng ASPI bikin QRIS yang lebih simple. Bentuknya cuma stiker atau kode QR statis aja. Sekarang malah ada QRIS tap yang makin canggih karena contactless. Simpel banget kan? Cuma modal handphone, semua orang bisa bayar pakai QRIS. Gak heran kalau penggunanya langsung meledak. Jumlah merchant yang pakai QRIS sekarang udah hampir 40 juta, dan penggunanya hampir 60 juta orang! Ini bukti nyata kalau QRIS diterima banget sama masyarakat.

Keunggulan QRIS ini memang terletak pada kemudahan dan biayanya yang lebih murah. UMKM gak perlu lagi mikirin biaya sewa mesin EDC, biaya transaksi yang mahal, atau ribetnya instalasi. Cukup daftar QRIS, tempel stiker, langsung bisa terima pembayaran digital. Ini bener-bener ngebantu UMKM buat berkembang dan naik kelas. Bayangin aja, pedagang kaki lima atau warung kecil pun sekarang bisa terima pembayaran non-tunai dengan mudah. Ini adalah lompatan besar buat inklusi keuangan di Indonesia.

Selain itu, QRIS juga interoperable. Maksudnya, satu kode QR bisa dipindai oleh berbagai aplikasi pembayaran yang berbeda. Jadi, konsumen gak perlu bingung lagi aplikasi mana yang harus dipakai. Pedagang juga gak perlu punya banyak mesin atau kode QR dari berbagai penyedia jasa pembayaran. Cukup satu QRIS, semua beres! Ini efisien banget dan memudahkan semua pihak.

QRIS Lintas Negara (Cross Border)

Meskipun QRIS berkembang pesat di dalam negeri, Pak Santoso juga cerita kalau Indonesia lagi mengembangkan QRIS cross border atau lintas negara. Tujuannya buat mendukung pariwisata. Jadi, turis dari negara tetangga bisa bayar pakai aplikasi pembayaran negara mereka di merchant Indonesia yang punya QRIS, begitu juga sebaliknya. Negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura udah ikutan kerjasama QRIS cross border ini.

QRIS Cross Border ASEAN

Tapi, Pak Santoso bilang transaksi QRIS cross border ini masih kecil banget volumenya. Penggunaan QRIS mayoritas masih domestik. Jadi, kalau dibilang QRIS ini jadi ancaman besar buat Visa dan Mastercard secara global, kayaknya masih jauh panggang dari api. Fokus utama QRIS memang untuk mempermudah transaksi di dalam negeri, terutama buat masyarakat dan UMKM.

Keunggulan QRIS yang lebih mudah, murah, dan interoperable inilah yang mungkin jadi perhatian perusahaan-perusahaan switching dari AS. Mereka mungkin merasa agak “ketinggalan” dengan perkembangan QRIS ini. Tapi, Pak Santoso menegaskan kalau Indonesia gak menutup kemungkinan buat kerjasama dengan pihak lain di masa depan. Artinya, ruang untuk kolaborasi masih terbuka lebar, dan QRIS bukan berarti anti terhadap sistem pembayaran internasional.

Persaingan Bisnis dan Kemandirian Sistem Pembayaran

Direktur Eksekutif Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI), Bapak Steve Marta, juga punya pendapat senada. Beliau menilai sorotan pemerintah AS terhadap QRIS dan GPN ini lebih terasa sebagai persaingan bisnis aja. Kebijakan sistem pembayaran setiap negara itu kan memang dibuat untuk kepentingan dalam negeri masing-masing. Setiap negara punya kondisi dan kebutuhan yang berbeda, jadi wajar kalau sistem pembayarannya juga beda-beda.

Steve Marta Direktur Eksekutif AKKI

Menurut Pak Steve, keberadaan Visa dan Mastercard memang mulai dapat tekanan. Ini karena banyak negara yang mulai pengen punya kemandirian dalam mengelola sistem pembayaran mereka sendiri, sesuai dengan kondisi dan kepentingan masing-masing negara. Dari sinilah negara-negara mulai membangun sistem pembayaran domestik, seperti GPN dan QRIS di Indonesia. India punya UPI, China punya UnionPay, dan negara-negara lain juga punya inisiatif serupa.

Fenomena ini sebenarnya adalah tren global. Negara-negara gak mau lagi terlalu bergantung sama sistem pembayaran internasional yang dikuasai segelintir perusahaan besar. Mereka pengen punya kendali lebih besar atas infrastruktur pembayaran mereka sendiri. Ini bukan cuma soal ekonomi, tapi juga soal kedaulatan dan keamanan data. Dengan punya sistem pembayaran domestik, negara bisa lebih leluasa mengatur kebijakan, menjaga data transaksi warganya, dan mengurangi ketergantungan pada pihak asing.

Jadi, kalau dibilang Visa dan Mastercard ketar-ketir gara-gara QRIS, mungkin ada benarnya juga. Tapi, bukan berarti QRIS ini mau “membunuh” Visa dan Mastercard. Lebih tepatnya, QRIS ini adalah bagian dari upaya Indonesia untuk membangun sistem pembayaran yang lebih inklusif, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Persaingan di bisnis pembayaran memang makin ketat, dan inovasi seperti QRIS ini justru bagus buat konsumen karena memberikan lebih banyak pilihan dan kemudahan.

Gimana menurut kamu soal QRIS dan persaingan sistem pembayaran ini? Apakah QRIS ini beneran jadi ancaman buat Visa dan Mastercard? Atau justru ini adalah perkembangan positif buat Indonesia? Yuk, kita diskusi di kolom komentar!

Posting Komentar