Burberry Merugi Gede! 1.700 Karyawan Terancam di-PHK?

Table of Contents

Burberry Merugi Gede

Siapa sih yang nggak kenal Burberry? Merek fesyen mewah asal Inggris ini terkenal banget dengan motif kotak-kotak khas dan trench coat ikoniknya. Tapi, ada kabar kurang enak nih datang dari mereka. Burberry baru aja ngumumin rencana yang cukup bikin kaget: mereka mau melakukan pemutusan hubungan kerja alias PHK massal di perusahaannya.

Pengumuman ini keluar pada hari Rabu, 14 Mei 2025. Langkah ini diambil karena Burberry lagi merugi besar dan perlu banget memangkas biaya operasional biar bisa selamat. Ini bukan keputusan yang mudah, apalagi menyangkut nasib banyak orang.

Merugi Triliunan Rupiah!

Kondisi finansial Burberry ternyata lagi kurang baik. Dalam laporan terbarunya, mereka mencatat kerugian bersih yang cukup fantasis. Angkanya mencapai £75 juta, atau kalau dikonversi ke Rupiah kira-kira setara dengan Rp 1,6 triliun!

Angka kerugian Rp 1,6 triliun ini terjadi dalam periode 12 bulan yang berakhir di akhir Maret 2025. Bandingkan deh sama tahun sebelumnya, di periode yang sama Burberry masih mencetak laba bersih sebesar £270 juta atau sekitar Rp 5,9 triliun. Jauh banget kan bedanya? Dari laba triliunan, sekarang malah rugi triliunan. Pendapatan mereka juga ikutan anjlok 17% jadi £2,46 miliar atau sekitar Rp 54 triliun. Ini menunjukkan penurunan kinerja yang signifikan banget.

Ada Apa Sampai Rugi Gede?

Burberry sendiri bilang kerugian ini disebabkan karena sektor fesyen mewah lagi loyo. Permintaan konsumen lagi lemah banget, terutama dari pasar penting seperti China. Kita tahu kan, China itu pasar raksasa buat barang-barang mewah. Kalau permintaan di sana turun, dampaknya langsung terasa buat merek-merek global kayak Burberry.

Selain itu, kondisi ekonomi makro secara global juga lagi nggak pasti. Ada faktor-faktor geopolitik yang bikin pasar jadi seret. Misalnya, ketidakstabilan politik di beberapa wilayah, inflasi yang bikin daya beli orang (meski orang kaya sekalipun) ikut terpengaruh, dan mood pasar yang cenderung hati-hati. Ini semua bikin orang mikir dua kali buat belanja barang mewah.

PHK Besar-besaran demi Selamat

Nah, sebagai respons dari kerugian ini, Burberry mau ambil langkah drastis. Mereka nyusun rencana pemulihan buat dongkrak penjualan dan ngepras biaya operasional. Salah satu cara paling cepet dan signifikan buat motong biaya ya dengan mengurangi jumlah karyawan.

Targetnya nggak main-main. Burberry menargetkan penghematan biaya sebesar £60 juta (sekitar Rp 1,3 triliun) sampai tahun 2027. Untuk mencapai target ini, mereka siap memangkas sekitar 18% dari total jumlah karyawannya. Itu artinya, ada sekitar 1.700 orang yang terancam kena PHK. Angka ini cukup besar dan pasti berdampak banget buat ribuan keluarga.

Memutuskan nasib 1.700 karyawan tentu bukan perkara gampang. Ini adalah cerminan betapa seriusnya situasi yang dihadapi Burberry saat ini. PHK ini diharapkan bisa menyehatkan kembali keuangan perusahaan, meskipun harus dibayar mahal dengan hilangnya pekerjaan banyak orang.

Strategi Baru di Bawah Kepemimpinan Baru

Di tengah badai ini, Burberry punya nakhoda baru. Joshua Schulman baru aja diangkat jadi CEO pada Juli 2024, menggantikan Jonathan Akeroyd. Schulman langsung dihadapkan dengan tugas berat buat balikin kejayaan Burberry.

Dia janji bakal narik lebih banyak pelanggan dengan strategi yang lebih fokus. Salah satu fokus utamanya adalah menggarap lagi pakaian luar alias outerwear, termasuk trench coat ikonik yang udah jadi ciri khas Burberry sejak lama. Trench coat ini bukan cuma pakaian, tapi udah jadi simbol gaya klasik Inggris yang elegan.

Joshua Schulman optimis banget dengan masa depan Burberry. Dia bilang, “Meskipun kami beroperasi dengan latar belakang ekonomi makro yang sulit dan masih dalam tahap awal pemulihan, saya lebih optimis dari sebelumnya bahwa hari-hari terbaik Burberry akan segera tiba.” Pernyataan ini menunjukkan semangat buat bangkit, meskipun jalan di depan kayaknya masih panjang dan berliku.

Melihat ke Dalam Burberry dan Pasar Fesyen Mewah

Burberry adalah salah satu merek fesyen mewah paling tua dan terkemuka di dunia, didirikan tahun 1856. Identitas merek mereka sangat kuat, terutama dengan pola check yang dipatenkan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pasar fesyen mewah global memang menghadapi banyak tantangan. Setelah sempat booming pasca-pandemi COVID-19 karena adanya “balas dendam belanja” dari konsumen, trennya mulai melambat.

Kenapa bisa melambat? Seperti yang disebut Burberry, pelemahan ekonomi di China punya peran besar. Konsumen di China, terutama generasi muda, mulai lebih selektif dalam berbelanja. Perang dagang atau ketegangan geopolitik antara negara-negara besar juga bisa memengaruhi sentimen konsumen dan rantai pasokan. Selain itu, persaingan di industri ini juga makin ketat, dengan munculnya banyak merek baru atau strategi pemasaran yang lebih agresif dari merek-merek lama.

Strategi Schulman untuk fokus kembali ke outerwear sepertinya mencoba mengakar lagi pada kekuatan inti Burberry. Trench coat adalah produk margin tinggi dan punya nilai historis yang kuat. Dengan menonjolkan lagi produk ini, Burberry berharap bisa menarik konsumen yang mencari investasi dalam fesyen klasik dan tahan lama, bukan cuma tren sesaat. Tapi, ini butuh marketing yang jitu dan inovasi biar tetap relevan buat generasi sekarang.

Angka-angka yang Berbicara

Biar makin jelas, ini rangkuman angka finansial Burberry yang bikin mereka harus ambil langkah PHK:

Item Periode Angka (GBP) Setara (IDR) Catatan
Laba Bersih 12 bulan s/d Mar £75 juta Rp 1,6 triliun Rugi
Laba Bersih Tahun sebelumnya £270 juta Rp 5,9 triliun Laba
Target Penghematan s/d 2027 £60 juta Rp 1,3 triliun Target
Pendapatan Periode £2,46 miliar Rp 54 triliun Turun 17%

Tabel ini nunjukkin betapa parahnya pergeseran yang dialami Burberry dari profit jadi rugi. Target penghematan £60 juta itu ambisius dan butuh langkah gede kayak PHK untuk mencapainya.

Masa Depan Burberry dan Tantangan yang Menanti

Keputusan PHK 1.700 karyawan ini memang pahit, tapi ini dianggap sebagai langkah survivor biar perusahaan bisa bertahan dan bangkit lagi. Pertanyaannya sekarang, akankah strategi pemulihan Burberry berhasil? Bisakah mereka kembali mencetak keuntungan di tengah pasar yang menantang?

Tantangan buat Joshua Schulman cukup berat. Dia harus memoles lagi citra Burberry, bikin produknya relevan di pasar yang berubah cepet, sekaligus memangkas biaya tanpa bikin kualitas atau image merek jadi turun. Menyeimbangkan inovasi dengan menjaga warisan merek juga jadi kunci.

Semoga saja langkah restrukturisasi ini bisa bikin Burberry kembali berjaya dan para karyawan yang terdampak bisa dapat pekerjaan baru secepatnya. Ini jadi pengingat juga, bahwa bahkan merek sekelas Burberry pun nggak kebal dari gejolak ekonomi global.

Gimana menurut kamu? Apa Burberry bisa bangkit lagi setelah ini? Yuk, share pendapatmu di kolom komentar!

Posting Komentar