Awas! Jangan Sampai Nanam 5 Pohon Ini Dekat Rumah, Bisa Bikin Boncos!
Punya rumah sendiri itu idaman banyak orang. Pastinya kita pengen bikin rumah kita nyaman, asri, dan pastinya awet. Salah satu cara bikin rumah makin asri ya dengan menanam pohon. Selain bikin sejuk dan rindang, pohon juga bisa nambah nilai estetika rumah kita.
Tapi, eits, tunggu dulu! Jangan asal pilih pohon buat ditanam di halaman rumah. Soalnya, ada beberapa jenis pohon yang kelihatannya bagus, tapi ternyata punya ‘sisi gelap’. Akar pohon-pohon ini bisa tumbuh kuat, menjalar ke mana-mana, bahkan sampai merusak struktur bangunan rumah kita. Kalau sudah begini, bukannya asri, yang ada malah bikin pusing karena harus keluar uang banyak buat perbaikan. Makanya, kita sebut bisa bikin ‘boncos’!
Nah, biar kamu nggak salah langkah dan rumah tetap aman terkendali, mendingan hindari tanam 5 jenis pohon ini terlalu dekat dengan bangunan rumah. Yuk, kita lihat daftarnya!
1. Pohon Alpukat¶
Siapa yang nggak suka alpukat? Buahnya enak, kaya manfaat. Pohonnya juga lumayan rindang. Wajar kalau banyak yang pengen menanamnya di rumah. Tapi, ternyata pohon alpukat ini punya potensi merusak bangunan di dekatnya, lho.
Menurut penelitian dari California Polytechnic State University, akar pohon alpukat itu bisa cukup invasif. Artinya, akarnya itu bisa tumbuh menyebar dengan cukup agresif di dalam tanah. Kalau ditanam terlalu dekat dengan pondasi rumah, akarnya bisa mencari celah dan mulai menekan atau bahkan masuk ke dalam struktur pondasi. Tekanan terus-menerus dari akar yang membesar bisa menyebabkan retakan pada pondasi.
Kerusakan pada pondasi ini jelas bukan masalah sepele. Bisa bikin dinding rumah retak, lantai nggak rata, bahkan pergeseran struktur. Perbaikannya? Wah, siap-siap rogoh kocek dalam-dalam! Biaya perbaikan pondasi itu mahal dan prosesnya rumit. Belum lagi kalau kerusakannya sudah parah, bisa mengancam keselamatan penghuni rumah juga.
Sebenarnya, ada cara buat mengurangi risiko kerusakan ini. Salah satunya dengan memilih bibit alpukat yang menggunakan batang bawah (rootstock) yang kurang invasif. Batang bawah ini adalah bagian bawah pohon yang ditanam, yang nanti dicangkok atau ditempel dengan varietas alpukat unggul. Beberapa jenis batang bawah memang dirancang punya sistem akar yang lebih terkendali. Selain itu, yang paling penting adalah jarak tanam. Para ahli menyarankan menanam pohon alpukat minimal 7,5 meter dari bangunan rumah. Jarak ini dianggap cukup aman agar akar nggak mencapai pondasi dalam waktu singkat.
Kalau memang terpaksa menanamnya agak dekat (meskipun sangat tidak disarankan), bisa coba pasang penghalang akar (root barrier). Ini semacam pagar khusus yang ditanam di bawah tanah untuk membelokkan arah pertumbuhan akar. Atau, tanam di dalam pot atau wadah besar khusus agar akar nggak bisa tumbuh ke sembarangan arah, tapi cara ini terbatas untuk varietas kerdil atau kalau kamu rutin memangkas akarnya. Intinya, jangan remehkan kekuatan akar si alpukat ini, ya!
2. Pohon Mangga¶
Pohon mangga juga jadi favorit banyak orang. Gampang dirawat, cepat berbuah, dan buahnya manis segar. Bayangkan betapa asyiknya punya pohon mangga sendiri di halaman. Tinggal petik kalau lagi pengen. Tapi, sama seperti alpukat, pohon mangga juga punya akar yang patut diwaspadai.
Akar pohon mangga terkenal kuat dan tumbuh dalam. Sistem perakarannya dirancang untuk menopang batang pohon yang bisa tumbuh sangat besar dan tinggi, serta mencari sumber air jauh di dalam tanah. Kekuatan inilah yang jadi masalah kalau pohon mangga ditanam terlalu dekat dengan rumah. Akar yang terus membesar dan memanjang di bawah tanah bisa memberikan tekanan luar biasa pada struktur di dekatnya, termasuk pondasi rumah.
Ketika akar ini mencapai pondasi, mereka akan terus mencoba menembusnya atau mencari jalan di sekelilingnya. Tekanan akar yang terus-menerus bisa menyebabkan retakan mikro pada awalnya, yang lama-lama bisa membesar. Selain itu, akar mangga yang dalam juga bisa mengganggu sistem drainase bawah tanah atau bahkan saluran pipa air dan limbah. Kalau pipa sampai pecah atau retak gara-gara akar, urusannya bisa makin panjang dan biaya perbaikannya pasti bikin kantong jebol.
Kerusakan yang disebabkan akar mangga bisa terlihat dari retakan pada dinding, lantai yang mulai naik atau nggak rata, bahkan pintu atau jendela yang susah ditutup karena kusennya bergeser. Semua ini indikasi adanya masalah pada pondasi akibat tekanan dari akar pohon di dekatnya. Makanya, sebelum menanam pohon mangga, pertimbangkan matangnya jarak yang aman dari bangunan. Jarak tanam yang disarankan untuk pohon mangga berukuran besar adalah minimal 10-15 meter dari bangunan vital.
Kalau sudah terlanjur punya pohon mangga besar dekat rumah, penting untuk rutin memantau kondisi pondasi dan struktur rumah. Jika ada tanda-tanda retakan, segera konsultasikan dengan ahli struktur atau kontraktor. Mungkin perlu dilakukan pemangkasan akar secara berkala oleh profesional atau pemasangan penghalang akar untuk mengelola pertumbuhannya. Jangan tunda-tunda, karena masalah akar ini semakin lama semakin sulit dan mahal penanganannya.
3. Pohon Karet¶
Mungkin nggak banyak rumah di perkotaan yang menanam pohon karet, tapi di beberapa daerah atau perumahan lama, pohon ini kadang masih ada. Pohon karet (Hevea brasiliensis) dikenal sebagai sumber lateks, tapi pohon ini juga punya karakteristik akar yang kurang cocok ditanam di dekat bangunan rumah.
Sistem perakaran pohon karet cukup agresif, terutama akarnya yang menyebar di permukaan dan sedikit di bawah permukaan tanah. Akar-akar ini tumbuh dengan cepat untuk menopang batang pohon yang bisa tumbuh besar dan tinggi, serta mencari nutrisi dan air di area yang luas. Masalahnya, akar yang menjalar dan membesar ini bisa menimbulkan masalah serius pada struktur keras di sekitarnya.
Kalau ditanam dekat rumah, akar pohon karet bisa menjalar di bawah trotoar, jalan setapak, patio, bahkan sampai ke pondasi rumah. Pertumbuhan akar yang kuat ini bisa mengangkat atau memecahkan beton dan paving block. Bayangkan halaman rumah atau garasi jadi nggak rata karena terdorong akar! Selain itu, seperti pohon lainnya, akar karet juga bisa mencari celah di pondasi dan menimbulkan tekanan yang merusak.
Kerusakan yang paling sering terlihat akibat akar pohon karet adalah retaknya lantai teras, jalan masuk rumah (driveway), atau dinding pembatas halaman. Akar juga bisa merusak saluran air di halaman atau sistem irigasi bawah tanah. Jika akarnya sudah mencapai pondasi, risikonya sama seperti pohon mangga atau alpukat: retakan dinding, lantai nggak rata, dan masalah struktural lainnya yang butuh biaya besar untuk perbaikan.
Menanam pohon karet idealnya dilakukan di area yang sangat luas dan jauh dari bangunan atau infrastruktur lainnya. Di lingkungan perumahan padat, pohon ini sebaiknya dihindari sama sekali. Jika sudah ada pohon karet di dekat rumahmu, pantau terus pertumbuhannya dan perhatikan tanda-tanda kerusakan di sekitar. Mungkin perlu dilakukan pemangkasan akar secara berkala oleh tenaga ahli. Membangun penghalang akar yang kuat juga bisa jadi solusi untuk membatasi pergerakan akarnya. Jangan biarkan akar pohon karet bikin rumahmu jadi “boncos” perbaikan!
4. Pohon Bambu¶
Pohon bambu sering dianggap sebagai tanaman yang mudah perawatannya dan bisa tumbuh cepat, cocok buat bikin suasana asri atau jadi pagar alami. Ada banyak jenis bambu, dari yang kecil hias sampai yang besar dan tinggi. Tapi, di balik kemudahan tumbuhnya, beberapa jenis bambu punya potensi sangat invasif, terutama jenis bambu yang menjalar (running bamboo).
Bambu jenis menjalar punya sistem perakaran rimpang (rhizome) yang tumbuh horizontal di bawah tanah dengan sangat cepat dan agresif. Rimpang ini bisa menjalar jauh dari rumpun induknya, bahkan bisa menyeberang ke halaman tetangga. Kalau rimpang ini bertemu dengan struktur keras seperti pondasi, trotoar, atau pagar, mereka akan terus mencoba menembus atau mencari jalan di bawahnya. Kekuatan rimpang yang tumbuh ini bisa sangat merusak.
Steve Chilton, seorang ahli perkebunan, menyebutkan bahwa bambu menjalar memang cenderung lebih invasif dibanding bambu berumpun (clumping bamboo). Bambu berumpun akarnya tumbuh rapat di satu titik, tidak menyebar agresif. Namun, bahkan bambu berumpun pun bisa jadi masalah kalau nggak dikelola dengan baik. Rimpang bambu yang agresif bisa merusak fondasi bangunan, memecahkan trotoar, menghancurkan patio, dan bahkan menyusup ke dalam sistem pipa bawah tanah, menyebabkan penyumbatan serius.
Masalah lain dengan bambu adalah betapa tangguhnya tanaman ini. Begitu rimpangnya sudah menjalar luas, sangat sulit untuk mengendalikannya atau membasminya. Membutuhkan usaha keras, berulang kali, dan kadang melibatkan penggunaan bahan kimia khusus atau penggalian yang ekstensif. Biaya untuk membersihkan atau mengendalikan bambu yang sudah invasif bisa sangat mahal.
Jika kamu tetap ingin menanam bambu di rumah, sangat disarankan untuk memilih jenis bambu berumpun (clumping bamboo) dan menanamnya di dalam wadah besar atau dengan pemasangan penghalang rimpang (rhizome barrier) yang kuat dan dalam di sekeliling area tanam. Penghalang ini harus diperiksa secara rutin untuk memastikan rimpang tidak tumbuh melampauinya. Menanam bambu langsung di tanah dekat bangunan tanpa pengamanan bisa jadi resep jitu untuk masalah struktural dan biaya perbaikan yang nggak terduga di masa depan.
5. Pohon Dedalu (Willow)¶
Pohon dedalu atau willow punya penampilan yang unik dan sering ditanam di dekat sumber air karena memang sangat suka kelembapan. Cabang-cabangnya yang menjuntai seringkali terlihat dramatis dan indah, apalagi kalau tertiup angin. Tapi, sifatnya yang sangat menyukai air inilah yang membuat pohon dedalu jadi berbahaya kalau ditanam dekat rumah atau bangunan lainnya.
Pohon dedalu punya sistem akar yang sangat agresif dan tumbuh cepat. Akar-akar ini akan aktif mencari sumber air di sekitarnya. Nah, sumber air yang paling gampang dijangkau di lingkungan perumahan itu seringkali adalah pipa air, saluran pembuangan, atau area di sekitar pondasi yang mungkin sedikit lebih lembap. Akar willow bisa menyusup ke dalam celah-celah kecil pada pipa yang retak atau sambungan yang longgar. Begitu masuk, akar ini akan tumbuh dengan cepat di dalam pipa, mencari air dan nutrisi, sampai akhirnya menyumbat total aliran air atau limbah.
Selain masalah pipa, akar dedalu juga bisa merusak pondasi rumah. Akar yang tumbuh cepat dan membesar di dekat atau di bawah pondasi bisa memberikan tekanan besar. Ditambah lagi, jika tanah di sekitar pondasi mengering akibat diserap oleh akar dedalu, tanah bisa menyusut, menyebabkan pergerakan pada pondasi. Sebaliknya, jika akarnya membuat area tertentu jadi terlalu lembap, itu juga bisa mempengaruhi stabilitas pondasi. Akar dedalu yang tumbuh dekat permukaan tanah juga bisa merusak trotoar, jalan setapak, dan patio dengan mengangkat atau memecahkannya.
Steve Schumacher, pemilik Boston Landscape Co, menyarankan beberapa cara untuk mengelola pohon willow jika terpaksa ditanam di dekat bangunan. Pertama, pasang penghalang akar yang kokoh. Kedua, lakukan pemangkasan rutin pada cabang bagian bawah. Ketiga, yang paling penting, pastikan untuk menyiram pohon willow di area yang lebih jauh dari rumah. Tujuannya agar akarnya terdorong untuk tumbuh mencari air ke arah yang aman, menjauhi pondasi.
Mengingat betapa agresifnya akar dedalu dalam mencari air dan potensi kerusakannya pada pondasi dan sistem pipa, pohon ini sebaiknya ditanam sangat jauh dari bangunan, idealnya di dekat sumber air alami seperti kolam atau sungai, dan di area yang luas di mana akarnya bisa tumbuh bebas tanpa mengancam infrastruktur buatan manusia. Jangan biarkan keindahan visual pohon dedalu menipu kamu, risikonya bikin rumah boncos perbaikan plumbing dan struktural!
Pilih Pohon yang Tepat¶
Memilih pohon untuk ditanam di halaman rumah bukan cuma soal suka atau tidak suka penampilannya, tapi juga harus mempertimbangkan bagaimana sistem perakaran pohon itu bisa berinteraksi dengan struktur bangunan di sekitarnya dalam jangka panjang. Salah pilih pohon bisa berakibat fatal dan memakan biaya sangat besar untuk perbaikan.
Sebelum menanam pohon apapun, terutama pohon yang dikenal punya sistem akar kuat atau invasif, ada baiknya melakukan riset mendalam atau konsultasi dengan ahli lanskap atau tukang kebun profesional. Mereka bisa memberikan saran jenis pohon apa yang cocok untuk ukuran halamanmu, jenis tanah, dan seberapa dekat jaraknya dengan bangunan rumah atau infrastruktur lainnya seperti selokan dan pipa.
Selain itu, pertimbangkan juga ukuran pohon saat dewasa. Pohon besar jelas butuh ruang akar yang lebih luas dibanding pohon kecil atau semak. Pertumbuhan akar biasanya sebanding dengan pertumbuhan kanopi (bagian atas pohon). Jadi, bayangkan seberapa besar pohon itu nanti, dan perkirakan seberapa jauh akarnya bisa menyebar di bawah tanah.
Menanam pohon itu investasi jangka panjang untuk keasrian rumah. Pastikan investasi ini nggak malah jadi sumber masalah di kemudian hari. Lebih baik mencegah daripada mengobati, apalagi kalau yang diobati itu pondasi rumah yang biayanya bikin nangis bombay!
Semoga informasi ini bermanfaat buat kamu yang lagi berencana menanam pohon di rumah. Jangan sampai niat baik bikin rumah asri malah bikin kantong jebol!
Bagaimana pengalamanmu dengan pohon-pohon di halaman rumah? Pernah punya masalah akar merusak bangunan? Atau punya tips lain buat mengelola akar pohon? Yuk, share di kolom komentar di bawah!
Posting Komentar