Dari Gajah Mada ke 'Elephent Mada': Alumni Ikut Nimbrung Guyonan Viral!

Table of Contents

Dari Gajah Mada ke 'Elephent Mada': Alumni Ikut Nimbrung Guyonan Viral!

Belakangan ini, jagat media sosial diramaikan dengan guyonan seputar salah satu universitas paling beken di Indonesia, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM). Nama besar kampus yang berlokasi di Yogyakarta ini tiba-tiba saja ‘berubah’ nama menjadi sesuatu yang bikin dahi berkerut sekaligus mengundang tawa. Ya, UGM diplesetkan secara harfiah ke dalam bahasa Inggris menjadi “University Elephant Mada”. Plesetan yang terkesan konyol ini ternyata berasal dari kejadian yang tak terduga.

Awalnya, guyonan ini menyebar gegara ada insiden minor tapi viral. Seorang mahasiswa dari program studi Ilmu Komputer UGM mengalami momen yang lumayan bikin kaget. Saat bersiap mengikuti ujian, ia menemukan ada kejanggalan pada kop kertas soal ujiannya. Di bagian kop kertas tersebut, tercetak nama kampusnya dalam bahasa Inggris, namun bukan “Gadjah Mada University” seperti seharusnya, melainkan “University Elephant Mada”. Sontak, mahasiswa ini merasa hal tersebut unik dan membagikannya di media sosial, tepatnya di Instagram.

Dari Kop Soal Jadi Bahan Candaan

Cerita bermula dari kertas ujian yang tampaknya dibuat terburu-buru atau mungkin ada kesalahan input data yang fatal. Nama “Gadjah Mada” yang merupakan nama tokoh sejarah, diterjemahkan mentah-mentah kata per kata ke dalam bahasa Inggris. “Gadjah” menjadi “Elephant”, sedangkan “Mada” tetap “Mada”. Jadilah “University Elephant Mada”. Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya kesalahan kecil, tapi di era media sosial yang serba cepat ini, hal seperti itu bisa langsung jadi bola salju viral.

Mahasiswa yang menemukan kejanggalan ini pun memotret kop soal tersebut dan mengunggahnya ke akun Instagram-nya. Siapa sangka, unggahan sederhana itu langsung menarik perhatian netizen. Dalam waktu singkat, tangkapan layar dari unggahan tersebut menyebar luas, bahkan di-repost oleh banyak akun lain, memicu berbagai komentar dan respons dari warganet.

Mengapa ‘Elephant Mada’ Lucu?

Kelucuan dari plesetan “University Elephant Mada” ini terletak pada penerjemahan yang too literal. Nama “Gadjah Mada” bukanlah kata benda umum yang bisa seenaknya diterjemahkan seperti ‘rumah’ jadi ‘house’ atau ‘mobil’ jadi ‘car’. Gadjah Mada adalah nama diri, nama seorang tokoh sejarah yang sangat penting bagi bangsa ini. Beliau adalah Mahapatih dari Kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya.

Memberi nama universitas dengan nama tokoh besar adalah bentuk penghormatan dan upaya untuk mewarisi semangat perjuangannya. Sama seperti universitas lain yang dinamai tokoh nasional (misalnya Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro), nama tersebut adalah proper noun yang tidak diterjemahkan. Menerjemahkannya menjadi “Elephant Mada” sama lucunya dengan menerjemahkan “Washington University” menjadi “Cuci Negara University” atau “Oxford University” menjadi “Lembu Jantan Universitas” (Ox = lembu jantan, Ford = penyeberangan dangkal).

Guyonan ini juga menunjukkan bagaimana terkadang ada celah kecil dalam sistem yang bisa memicu hal-hal di luar dugaan. Siapa pun yang bertanggung jawab mencetak kop soal itu mungkin tidak teliti atau menggunakan alat terjemahan otomatis tanpa pengecekan ulang. Kesalahan manusiawi semacam ini, ketika terekspos di media sosial, bisa berubah jadi fenomena yang menghibur sekaligus menggelitik.

Respon Netizen dan Kampus

Setelah unggahan mahasiswa itu viral, berbagai komentar pun muncul. Ada yang merasa itu lucu banget dan ikutan ngakak, ada yang heran kok bisa sampai ada kesalahan sekonyol itu di institusi pendidikan sekelas UGM. Ada juga yang bersimpati pada mahasiswanya, membayangkan bagaimana perasaannya saat pertama kali melihat kop soal itu. Bahkan, ada yang mulai membuat plesetan-plesetan lain atau guyonan terkait situasi tersebut.

Namun, seiring dengan viral-nya unggahan itu, muncul juga kabar bahwa mahasiswa yang bersangkutan mendapatkan teguran dari pihak kampus atau dosennya. Hal ini wajar terjadi. Pihak universitas mungkin merasa nama institusi mereka menjadi bahan tertawaan karena kesalahan internal. Meski niat si mahasiswa mungkin hanya sekadar berbagi momen unik, dampaknya bisa dianggap mencoreng citra atau wibawa kampus oleh pihak tertentu. Akibatnya, unggahan tersebut pun akhirnya dihapus oleh si mahasiswa. Ini menunjukkan sisi lain dari viral-nya konten di media sosial: bisa menyenangkan, tapi juga bisa membawa konsekuensi yang tidak diinginkan.

Alumni Ikut ‘Turun Gunung’ dengan Plesetan KAEMA

Kehebohan “University Elephant Mada” ternyata tidak berhenti di situ. Guyonan ini merambah sampai ke kalangan alumni UGM yang tergabung dalam Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama). Bukannya baper atau marah, beberapa alumni justru ikut “nimbrung” dan meramaikan guyonan tersebut.

Salah satu contohnya terlihat dari postingan di media sosial yang dikutip, di mana akun @bon_nugroho memperluas plesetan tersebut. Jika UGM berubah jadi UEM (University Elephant Mada), maka Kagama pun ikut ‘diplesetkan’. “KAEMA : Keluarga Alumni Elephant Mada,” tulisnya. Ini adalah contoh bagus bagaimana komunitas yang solid seperti alumni bisa menanggapi hal viral dengan santai dan humor, bahkan ikut menciptakan variasi dari guyonan yang ada.

Ini menunjukkan bahwa ikatan alumni UGM tidak hanya tentang kegiatan formal atau jejaring profesional, tetapi juga mencakup kemampuan untuk berbagi selera humor, bahkan menertawakan diri sendiri atau hal-hal terkait almamater mereka. Plesetan KAEMA ini jadi semacam kode guyonan internal di antara para alumni dan mereka yang mengikuti perkembangan viral ini.

Plesetan Lain yang Mungkin Muncul

Kalau sudah begini, kreativitas netizen dan alumni kadang suka kebablasan (dalam artian positif, lho!). Mungkin akan muncul plesetan-plesetan lain yang lebih absurd atau random. Misalnya:

  • Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UGM -> “Faculty of Social Science and Political Science University Elephant Mada”
  • Asrama Mahasiswa UGM -> “Elephant Mada Student Hostel”
  • Bahkan nama-nama gedung atau fasilitas di UGM bisa jadi sasaran plesetan terjemahan harfiah.

Ini semua adalah bagian dari euphoria viral yang seringkali memunculkan banyak variasi dan pengembangan dari ide awalnya. Guyonan ini menjadi semacam inside joke yang dipahami oleh mereka yang mengikuti perkembangan ceritanya.

Pelajaran dari ‘Typo’ yang Viral

Di balik guyonan “University Elephant Mada”, ada beberapa pelajaran menarik yang bisa kita ambil. Pertama, betapa kuatnya efek media sosial dalam menyebarkan informasi, bahkan typo atau kesalahan kecil sekalipun. Sesuatu yang mungkin awalnya hanya diketahui segelintir orang bisa langsung jadi perhatian nasional bahkan internasional dalam hitungan jam atau hari.

Kedua, pentingnya ketelitian, terutama dalam hal-hal formal seperti dokumen resmi atau kertas ujian di institusi pendidikan. Kesalahan kecil dalam penulisan nama saja bisa memicu kegaduhan (meski dalam konteks ini lebih ke keguyonan) dan bahkan berujung pada teguran bagi yang mempublikasikannya. Ini jadi pengingat bagi siapa pun yang bekerja dengan dokumen publik atau konten online.

Ketiga, bagaimana internet dan media sosial menjadi ruang ekspresi, baik untuk berbagi informasi, meluapkan emosi, atau sekadar bercanda. Dalam kasus “Elephant Mada”, internet menjadi panggung bagi guyonan yang melibatkan sebuah universitas besar dan komunitas alumninya.

Keempat, reaksi dari komunitas alumni yang ikut meramaikan guyonan ini menunjukkan sisi positif dari ikatan alumni. Mereka tidak kaku atau defensif, melainkan bisa fleksibel dan berpartisipasi dalam tren yang sedang hangat, bahkan jika tren itu menertawakan almamater mereka sendiri (secara ringan, tentu saja). Ini bisa mempererat rasa kebersamaan di antara mereka.

Menjelajahi Lebih Jauh: Identitas dan Nama

Nama sebuah institusi, apalagi universitas sekelas UGM, membawa identitas dan sejarah yang kuat. Nama “Gadjah Mada” sendiri sarat makna historis dan kebanggaan. Ketika nama ini diplesetkan, meskipun secara tidak sengaja, hal itu menyentuh inti dari identitas tersebut. Reaksi yang muncul, mulai dari tawa hingga teguran, mencerminkan berbagai cara orang memandang dan berinteraksi dengan identitas institusi.

Di satu sisi, ada pandangan bahwa nama adalah sakral dan harus dijaga keasliannya. Di sisi lain, ada budaya internet yang santai, yang seringkali membongkar hal-hal formal menjadi bahan candaan. Kasus “University Elephant Mada” ini menjadi titik temu menarik antara formalitas institusi pendidikan tinggi dan kebebasan berekspresi di ruang digital. Ini juga bisa menjadi refleksi tentang bagaimana generasi muda saat ini berinteraksi dengan simbol-simbol kelembagaan dan sejarah.

Mungkin bagi sebagian pengamat budaya internet, guyonan ini adalah bentuk demokratisasi humor, di mana bahkan nama universitas bergengsi pun bisa menjadi objek lelucon. Bagi pihak universitas, mungkin ini adalah pengingat bahwa mereka perlu lebih berhati-hati dalam mengelola citra mereka di era digital, termasuk hal-hal kecil seperti kop kertas ujian.

Akhir Kisah ‘Elephant Mada’?

Meski unggahan asli mahasiswa yang memicu viral-nya cerita ini sudah dihapus, jejak digital dari guyonan “University Elephant Mada” dan plesetan “KAEMA” kemungkinan akan tetap ada dan menjadi inside joke yang dikenang, setidaknya oleh komunitas UGM dan netizen yang mengikutinya. Kejadian ini menjadi contoh kecil namun menarik tentang bagaimana sebuah kesalahan typo bisa berkembang menjadi fenomena viral yang melibatkan banyak pihak, dari mahasiswa, netizen, hingga alumni.

Ini menunjukkan bahwa di era digital, hal-hal tak terduga bisa muncul kapan saja, dan cara kita meresponnya (dengan tawa, teguran, atau partisipasi dalam guyonan) mencerminkan banyak hal tentang budaya kita saat ini.

Nah, gimana pendapat kalian soal guyonan “University Elephant Mada” ini? Pernah nemu plesetan nama institusi lain yang gak kalah lucu? Bagikan cerita atau komentar kalian di bawah, ya!

Posting Komentar