Ekonomi Israel Lagi Gini? Kupas Tuntas Ketangguhannya di Tengah Gejolak!

Table of Contents

Perang memang selalu membawa dampak besar, bukan cuma kerugian nyawa dan kerusakan fisik, tapi juga biaya yang sangat mahal. Urusan pengadaan alat perang dan mengerahkan pasukan butuh duit gede. Selain itu, perang juga menyedot banyak tenaga kerja produktif. Ini persis yang lagi dirasain sama ekonomi Israel belakangan ini.

Sejak serangan mendadak Hamas pada 7 Oktober 2023, Israel langsung melancarkan serangan besar-besaran ke Jalur Gaza. Gak cuma itu, serangan udara juga nyasar ke Lebanon, sebagai balasan atas serangan rudal dan drone dari Hezbollah. Situasi makin panas dengan serangan ke target di Iran buat katanya sih, melumpuhkan program nuklir mereka.

Perang Bikin Ekonomi Puyeng

Bayangin aja, negara sekecil Israel kena imbas langsung dari eskalasi konflik yang non-stop kayak gini. Banyak tentara cadangan yang dipanggil buat tugas tempur, mau gak mau harus ninggalin pekerjaan mereka sementara waktu. Ini langsung bikin shock di sektor tenaga kerja.

Selain itu, izin kerja buat warga Palestina juga banyak yang dibatalin. Akses lintas perbatasan jadi super sulit. Akibatnya? Israel makin kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor krusial. Mengisi lowongan pekerjaan jadi tantangan tersendiri di tengah situasi kayak gini.

Angka pengangguran Israel sendiri sempat turun. Pada April lalu, tercatat di angka 3%, jauh lebih rendah dibanding 4,8% di tahun 2021. Angka ini mungkin terlihat bagus di atas kertas, tapi sebenarnya mencerminkan ketatnya pasar tenaga kerja akibat banyak yang ditarik ke militer atau terkendala akses.

Sementara itu, pemerintah Israel harus gandakan belanja pertahanan mereka. Menurut laporan Stockholm International Peace Research Institute, anggaran militer tahun 2024 naik 65% jadi USD 46,5 miliar. Angka ini luar biasa besar buat negara seukuran Israel.

Jumlah segede itu setara dengan 8,8% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) mereka. Ini menjadikan persentase belanja militer terhadap PDB Israel tertinggi kedua di dunia, cuma kalah dari Ukraina yang memang lagi berperang langsung. Prioritas anggaran jelas bergeser drastis.

Untuk tahun 2025 nanti, Israel bahkan sudah mengesahkan anggaran negara terbesar dalam sejarahnya. Totalnya mencapai USD 215 miliar. Angka ini naik 21% dibanding anggaran tahun 2024. Dari jumlah fantastis itu, sekitar USD 38,6 miliar dialokasikan khusus buat pertahanan, seperti dilaporkan The Times of Israel. Ini menunjukkan betapa besar beban biaya militer yang harus ditanggung negara ini.

Ekonomi Israel Gejolak

Masa Depan Ekonomi Penuh Ketidakpastian

Situasi perang ini menciptakan “ketidakpastian besar dalam jangka pendek dan panjang” buat ekonomi Israel. Begitu kata Profesor ekonomi dari Coller School of Management, Universitas Tel Aviv, Itai Ater. Menurutnya, biaya militer, baik buat serangan maupun pertahanan, itu sangat tinggi.

Biaya militer yang membengkak ini pasti bakal berdampak langsung ke berbagai indikator ekonomi penting. Anggaran negara bakal makin tertekan, defisit bisa melebar, pertumbuhan PDB bisa melambat, dan utang negara kemungkinan besar bakal meningkat. Ini jadi beban fiskal yang gak main-main.

Selama hampir dua tahun terakhir, banyak banget warga sipil Israel yang harus menjalani tugas militer berbulan-bulan. Gak sedikit juga yang terpaksa dievakuasi dari rumah mereka yang dekat daerah perbatasan, bikin hidup mereka jadi berantakan. Bisnis dan pekerjaan jadi terganggu.

Setelah serangan terbaru pekan lalu, Profesor Ater menambahkan, banyak pekerja di berbagai sektor yang nganggur. Terutama di manufaktur, perdagangan, teknologi, bahkan pendidikan ikut kena getahnya. Aktivitas ekonomi jadi gak normal karena situasi keamanan.

Sektor pariwisata juga terpukul parah. Penerbangan komersial dari dan ke Israel masih banyak yang ditangguhkan. Mayoritas maskapai internasional udah mindahin armada pesawat mereka, dan wilayah udara di nyaris seluruh Timur Tengah juga sempat ditutup. Ini jelas menghantam sektor yang sangat bergantung pada pergerakan orang.

Pajak Naik Buat Nombok Biaya Perang

Buat ngurangin tekanan fiskal akibat belanja militer yang gila-gilaan tadi, pemerintah Israel ambil langkah berat. Mereka akhirnya naikin pajak. Udah kerasa nih dampaknya di awal tahun ini.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) buat kebanyakan barang dan jasa naik dari 17% jadi 18%. Selain itu, pajak kesehatan yang dipotong dari gaji karyawan juga ikut naik. Gak ketinggalan, iuran asuransi nasional juga ikut disesuaikan naik. Semua ini dilakukan buat menambah pemasukan negara yang lagi boncos buat perang.

Terpukul Tapi Tetap Tangguh?

Meskipun diterpa badai konflik, Profesor Emeritus Ekonomi dari Universitas Haifa, Benjamin Bental, bilang ekonomi Israel sebenarnya “menunjukkan ketahanan yang mengejutkan” dalam satu setengah tahun terakhir. Ekonomi memang kena pukulan, tapi gak langsung ambruk.

Dia jelasin, meskipun sektor pariwisata, konstruksi, dan pertanian lagi lesu dan tertekan, sektor lain justru tetap kuat. Industri teknologi tinggi, pertahanan (jelas kuat karena lagi perang), dan bahkan ritel makanan masih bisa bertahan atau bahkan tumbuh. Ini yang bikin ekonomi Israel gak langsung kolaps.

Pada tahun 2024, PDB Israel diperkirakan masih bisa mencapai lebih dari USD 540 miliar. Angka ini bahkan melampaui PDB tahun-tahun sebelumnya. Ini menunjukkan ada kekuatan tersembunyi atau sektor yang jadi penopang utama di tengah gejolak yang ada.

Profesor Bental juga nyorotin betapa pentingnya keberhasilan sektor teknologi tinggi Israel dan ketatnya pasar tenaga kerja (walau ketatnya karena shortage). Faktor lain yang bikin ekonomi gak completely lumpuh adalah kekhawatiran serangan besar ke infrastruktur energi dan internet oleh Hezbollah atau Iran sejauh ini belum terbukti jadi kenyataan. Jadi, aktivitas bisnis yang mengandalkan infrastruktur ini masih bisa berjalan, meskipun terganggu.

Ketangguhan Ekonomi Israel

Sang Andalan: Industri Teknologi Tinggi

Israel emang dikenal sebagai negara startup nation alias pusat industri teknologi tinggi. Sektor ini super penting buat ekonomi mereka. Bayangin aja, sektor teknologi tinggi ini mempekerjakan sekitar 12% dari total tenaga kerja di Israel.

Gak cuma itu, sektor ini juga nyumbang porsi yang gede banget buat pemasukan negara dari pajak penghasilan. Sekitar 25% total penerimaan pajak datang dari sektor ini, berkat upah rata-rata yang tinggi di sana. Produk dan layanan teknologi tinggi bahkan mencakup 64% dari total ekspor Israel dan sekitar 20% dari PDB mereka. Ketergantungan ekonomi pada sektor ini memang sangat tinggi.

Namun, ada kabar kurang baik dari sektor ini juga. Jumlah pekerja di sektor teknologi di Israel sendiri stagnan sejak tahun 2022. Ini pertama kalinya dalam satu dekade terakhir, jumlah tenaga kerja lokal di sektor teknologi malah menurun. Sementara itu, semakin banyak pekerja yang memilih pindah ke luar negeri buat jangka panjang.

Saat ini, ada sekitar 390 ribu pekerja teknologi di Israel, tapi ada 440 ribu lainnya yang bermukim di luar negeri. Ini mengkhawatirkan banget karena naiknya pajak di dalam negeri ditakutkan malah mendorong lebih banyak perusahaan atau talenta teknologi yang fleksibel buat pindah ke luar negeri yang tawaran pajaknya lebih ringan atau kondisinya lebih stabil.

Bayangan Risiko Jangka Panjang

Ketidakpastian situasi di Israel dan sekitarnya jelas jadi faktor utama yang mempengaruhi pasar tenaga kerja, pelaku usaha, dan juga investor. Mereka lagi wait and see banget mau ambil keputusan ekonomi.

Tapi, yang menarik, kalau kita lihat pergerakan pasar saham dan nilai tukar mata uang Israel, investor kelihatan cukup optimistis. Kata Profesor Ater, mungkin mereka berharap perang ini bakal cepet kelar, atau ancaman nuklir Iran bisa dinetralisir, dan ekonomi Israel bakal pulih lagi seperti sedia kala. Harapan ini yang mungkin menahan pasar dari penurunan drastis.

Meskipun risiko jangka pendek lagi tinggi-tingginya, risiko buat investor nantinya bakal sangat bergantung pada berapa lama konflik ini berlangsung dan gimana akhirnya. Kalau skenario terburuk yang kejadian, misalnya perang skala besar jangka panjang dengan Iran, nah itu baru bakal bikin perekonomian Israel super sulit buat berkembang.

Ke depan, tantangan jangka panjang buat perekonomian Israel tetap ada di persoalan keamanan, terutama konflik Israel-Palestina yang belum ada ujungnya. Ini butuh solusi politik, bukan cuma ekonomi.

Selain itu, Profesor Ater juga nyorot pentingnya mencermati perpecahan sosial di dalam negeri Israel sendiri. Gak ketinggalan, isu reformasi yudisial yang kontroversial juga bisa berdampak ke institusi demokrasi. Kalau institusi demokrasi goyah, kepercayaan investor dan stabilitas ekonomi juga bisa ikut kena getahnya.

Jadi, ekonomi Israel saat ini memang lagi diuji ketangguhannya. Terpukul telak di beberapa sektor, tapi masih bisa bertahan berkat sektor lain, terutama teknologi. Namun, biaya perang yang masif dan ketidakpastian jangka panjang, ditambah isu-isu internal, tetap jadi PR besar yang harus mereka hadapi.

Nonton Juga: Video Terkait

Mau tau kayak apa salah satu insiden serangan yang sempat panas? Cek video ini:

Gimana menurut kalian? Ekonomi Israel ini benar-benar tangguh atau cuma lagi nahan napas aja? Apa yang harus mereka lakuin biar ekonominya stabil lagi? Yuk, bagi pendapat kalian di kolom komentar!

Posting Komentar