Gak Nyangka! Model Rambut Mereka Kok Bisa Mirip Banget, Ya?

Table of Contents

“Saya mau ketemu Umar Patek.” Permintaan itu datang dari Khusnul Chotimah. Kami saat itu sedang berada di acara Kopi Ramu di Hedon Estate, milik drg. David Andreasmito. Umar Patek, mantan teroris yang kini katanya sudah insaf, sedang dikerumuni banyak orang di panggung.

Saya katakan padanya, “Ya sudah, temui saja. Itu dia di panggung.” Tapi Khusnul ragu, “Nggak berani ah. Tolong antar saya.” Melihat keraguannya, saya putuskan untuk menemaninya.

Saya lalu menarik tangan Khusnul Chotimah dan mengajaknya naik ke atas panggung. Di sana, Umar Patek sedang sibuk melayani wawancara dari para wartawan. Saya menghampiri Umar, menarik lengannya pelan dari kerumunan pers. Ada hal yang lebih penting saat itu.

“Umar, ini Bu Khusnul Khotimah. Beliau korban bom Bali,” kata saya memperkenalkan. “Tolong dengarkan apa yang mau disampaikan.” Wajah Khusnul Khotimah terlihat tegar meski tubuhnya penuh bekas luka bakar akibat ledakan itu.

Khusnul pun mulai berbicara, mencurahkan isi hatinya. Ia mengungkapkan rasa tidak adilnya. Ia menggugat mengapa Umar yang mantan teroris bisa mendapat begitu banyak perhatian dan peluang. Sementara dirinya, dengan luka bakar 90 persen, masih harus berjuang keras menghadapi kesulitan hidup.

Ia menceritakan bagaimana penampilannya yang penuh cacat membuatnya ditolak di banyak tempat kerja. Khusnul Chotimah adalah gambaran nyata dampak mengerikan dari aksi terorisme. Hidupnya luluh lantak secara fisik dan mental, serta terhalang secara sosial dan ekonomi.

Malam itu, Selasa, 3 Mei 2025, suasana di Hedon Estate memang terasa sedikit aneh. Umar Patek, nama yang dulu identik dengan teror, kini seolah berubah menjadi simbol transformasi. Simbol dari keyakinan ekstrem ke jalan yang lebih moderat. Bahkan ia bisa bekerja sama dengan drg. David Andreasmito, seorang tokoh Kristen.

Saya memerhatikan betul ekspresi wajah Umar Patek saat Khusnul meluapkan perasaannya. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya diam mendengarkan, penuh perhatian. Sesekali ia menunduk, ekspresinya menunjukkan kesedihan dan penyesalan. Matanya terlihat berkaca-kaca, menahan haru atau mungkin beban penyesalan yang mendalam.

Kerumunan wartawan yang tadinya mewawancarai Umar ikut terdiam, menyaksikan adegan emosional itu. Ada wartawan muda jangkung dari Selandia Baru dan wartawati Jepang berambut panjang di antara mereka. Semua mata tertuju pada interaksi yang penuh makna itu.

Tak lama kemudian, drg. David Andreasmito naik ke panggung. Ia mengakhiri momen curhat itu dengan menyampaikan pesan penting. Ia meminta agar para korban bom Bali juga bisa bersatu. Tujuannya agar suara mereka didengar dan mendapat perhatian yang layak dari masyarakat dan pemerintah.

Saya pribadi sangat menghargai sikap Umar Patek saat itu. Ia mampu menahan diri. Ia tidak membela diri atau membalas kata-kata Khusnul Khotimah. Hanya dengan diam dan mendengarkan, ia menunjukkan kematangan emosional dan penerimaan terhadap konsekuensi perbuatannya di masa lalu. Sikap itu jauh lebih bermakna daripada seribu kata.

Khusnul Khotimah, wanita asal Sidoarjo ini, rupanya sudah beberapa kali hadir di Hedon Estate. Tempat ini memang sering digunakan untuk acara-acara terkait deradikalisasi ekstremis. Ini menunjukkan komitmen drg. David dalam upaya reintegrasi mantan narapidana terorisme ke masyarakat.

Setelah momen di panggung itu selesai, Khusnul Khotimah berbisik ke telinga saya. “Antarkan saya bertemu Pak Marthinus Hukom,” katanya sambil meraih tangan saya erat. Saya menjawab, “Itu beliau ada di sana. Temui saja.” Lagi-lagi Khusnul merasa ragu, “Tidak berani,” jawabnya.

Saya pun tidak menunggu lama. “Ayo, ikut saya,” ajak saya. Kami berjalan menghampiri Komjen Marthinus Hukom yang sedang duduk di sofa, berbincang dengan beberapa tamu penting lainnya. Marthinus Hukom segera berdiri dari sofanya. Ia menghentikan pembicaraannya dan menyambut kami.

Ia langsung merangkul Khusnul Khotimah dengan hangat. Kemudian, ia mendengarkan dengan saksama semua curahan hati Khusnul. Tampak Khusnul merasa lega dan puas setelah berhasil menyampaikan uneg-unegnya langsung kepada pejabat tinggi negara yang berperan dalam penangkapan teroris. Momen itu terasa seperti penutupan babak berat dalam hidupnya.

Pertemuan Korban Bom Bali dengan Pejabat dan Mantan Napi Terorisme

Marthinus Hukom adalah seorang jenderal polisi bintang tiga. Beliau berasal dari Ambon. Istrinya sendiri berdarah Jombang namun lahir di Jakarta. Saat ini, Marthinus Hukom menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Jabatan yang sangat penting dan krusial dalam menjaga keamanan dan kesehatan bangsa.

“Sudah lama ya kita tidak jumpa, Pak,” ujar Marthinus Hukom kepada saya. Saya mengiyakan. “Iya, Pak. Hampir 15 tahun.” Waktu berlalu begitu cepat, membawa banyak perubahan dalam hidup masing-masing. Dulu kami berada dalam satu misi yang berbeda namun memiliki tujuan mulia.

Lima belas tahun lalu, Marthinus Hukom masih berpangkat Mayor. Beliau adalah bagian dari tim antiteror yang sangat mumpuni. Tim tersebut berada di bawah komando Jenderal Gories Mere, sosok legendaris dalam pemberantasan terorisme di Indonesia. Saat itu, kami tergabung dalam sebuah misi khusus ke Thailand.

Destinasi kami adalah ujung barat daya Thailand. Wilayah itu berbatasan langsung dengan Myanmar dan Laos. Daerah tersebut terkenal keji karena dijuluki ‘segitiga emas’, pusat perdagangan obat bius terbesar di Asia Tenggara. Misi kami di sana terkait dengan upaya deradikalisasi.

Saat itu, Ibu Suri kerajaan Thailand sedang menjalankan program besar untuk mengubah wilayah tersebut. Tanaman opium yang menjadi sumber mata pencaharian ilegal diubah menjadi perkebunan macadamia. Program ini adalah contoh bagaimana pendekatan komprehensif, bukan hanya keamanan, bisa mengubah sebuah wilayah. Kami melihat langsung bagaimana upaya pembangunan ekonomi bisa menjadi bagian dari strategi kontra-terorisme.

Kami pergi ke sana menggunakan pesawat pribadi milik seorang individu yang juga aktif dalam gerakan deradikalisasi. Setelah misi selesai, dalam perjalanan pulang, kami mampir sebentar di Batam. Agendanya cukup sederhana namun berkesan: menikmati martabak Har yang terkenal di Batam. Setelah puas, kami segera kembali ke Jakarta untuk melanjutkan aktivitas masing-masing. Kenangan itu masih melekat, perpaduan misi serius dengan kenikmatan kuliner lokal.

Beberapa tahun setelah kunjungan itu, saya kembali ke wilayah “segitiga emas” tersebut. Kali ini sendirian, menggunakan pesawat komersial secara estafet. Saya benar-benar terkejut melihat perubahannya. Wilayah yang dulunya identik dengan kejahatan dan kemiskinan, kini telah berubah drastis.

Daerah itu telah menjadi kawasan wisata yang sangat terkenal. Ramai dikunjungi turis, pemandangannya indah dan mempesona, dengan latar belakang pegunungan yang hijau. Program deradikalisasi melalui pembangunan ekonomi itu ternyata sangat berhasil. Ini membuktikan bahwa pendekatan multi-dimensi memang efektif.

Hari itu, saya punya dua tujuan utama dalam kunjungan pribadi tersebut. Pertama, melihat langsung hasil gemilang program deradikalisasi di pedalaman Thailand. Kedua, bertemu dengan tim sepak bola remaja yang pernah terjebak banjir di dalam goa, sebuah kisah penyelamatan yang sangat dramatis dan menyita perhatian dunia.

Anda tentu masih ingat bagaimana usaha heroik dilakukan untuk menyelamatkan mereka dari dalam goa yang terendam air. Saya merasa sangat senang melihat mereka. Hari itu, mereka sudah kembali beraktivitas normal, berlatih sepak bola dengan riang gembira di lapangan desa mereka. Melihat senyum mereka adalah bukti bahwa harapan selalu ada, bahkan setelah melewati masa-masa paling gelap.

Kembali ke kisah penangkapan teroris. Marthinus Hukom adalah salah satu sosok kunci di baliknya. Dialah yang berhasil melacak keberadaan Amrozi, salah satu tokoh utama di balik bom Bali. Keberhasilan itu dimulai dari pelacakan sebuah mobil L-300. Mobil itu digunakan para pelaku untuk mengangkut bom yang menghancurkan banyak kehidupan di Bali.

Pelacakan mengarah ke wilayah utara Lamongan, tepatnya di daerah Paciran, dekat pantai. Amrozi ternyata adalah pembeli ke-7 mobil tersebut. Nomor chassis mobil memang sudah dihapus oleh para pelaku untuk menghilangkan jejak. Namun, tim Marthinus yang jeli masih bisa mengenali nomor chassis yang samar itu. Saat membeli mobil, Amrozi menggunakan nama samaran M. Rozi.

Logat bicara Melayu Amrozi menjadi petunjuk penting bagi tim Marthinus. Amrozi memang pernah tinggal lama di Malaysia. Di sanalah, ia diduga terpapar ajaran radikal dan terlibat dalam jaringan teroris internasional. Pengalaman dan keahlian tim antiteror dalam mengenali ciri-ciri pelaku sangat krusial dalam operasi ini.

Menjelang subuh, tim Densus 88 yang dipimpin Marthinus Hukom mendatangi rumah Amrozi. Pintu depan rumah papan itu diketok. Amrozi yang menyadari kedatangan polisi mencoba melarikan diri. Ia berusaha kabur melalui pintu belakang. Namun, pelariannya sudah diantisipasi. Pintu belakang sudah ditutup dan dijaga ketat oleh Marthinus Hukom sendiri. Amrozi pun berhasil ditangkap tanpa perlawanan berarti. Keberhasilan ini adalah pukulan telak bagi jaringan teroris.

Khusnul Khotimah ternyata juga pernah melakukan perjalanan yang berat. Ia sampai ke Nusakambangan, pulau penjara super ketat, untuk menemui Amrozi di penjara di sana. Ia tidak hanya bertemu Amrozi, tetapi juga banyak tokoh teroris lainnya yang bertanggung jawab atas penderitaan yang ia alami.

Bertemu langsung dengan orang-orang yang menyebabkan tubuhnya penuh bekas luka bakar tentu bukan hal yang mudah. Itu membutuhkan kekuatan mental yang luar biasa. Khusnul ingin berhadapan langsung, mungkin untuk mencari jawaban atau sekadar meluapkan kemarahan dan kesedihan yang selama bertahun-tahun dipendamnya.

Umar Patek sendiri, menurut informasi yang beredar, sebenarnya tidak setuju dengan rencana pengeboman Bali. Alasannya, korbannya akan sangat banyak, termasuk orang Indonesia sendiri, bahkan sesama umat Islam. Namun, ia tampaknya terjebak dalam situasi tersebut. Sebagai ahli meracik bom, ia ikut terlibat dalam perakitan bom itu, meskipun ia tidak ikut serta dalam pelaksanaan aksi teror di Bali. Ini menunjukkan adanya keraguan atau penolakan internal dalam dirinya terhadap aksi brutal tersebut.

Anak Khusnul Khotimah, yang usianya sekitar 30 tahun, juga berdagang kopi di Sidoarjo. Namun, warung kopi sang anak adalah warung kopi kelas kampung biasa. Tempatnya sederhana, jauh berbeda dengan gemerlap Hedon Estate yang menjadi lokasi acara tersebut. Di dalam Hedon Estate, ada Kopi Ramu, usaha yang dijalankan oleh Umar Patek. Perbedaan itu sangat kontras, menggambarkan jurang pemisah antara nasib korban dan pelaku, meski sang pelaku kini sedang dalam proses perubahan.

Saya perhatikan penampilan Umar Patek saat itu. Ia masih memelihara jenggot dan jambang, meski tidak terlalu lebat seperti penampilannya saat menjadi buron. Rambutnya dipotong agak pendek dan terlihat keriting. Ada detail menarik pada rambutnya: ujung-ujungnya dicat warna merah samar.

“Sejak kapan rambutnya dicat, Mar?” tanya saya kepadanya. Ia menjawab, “Sejak rambut saya mulai memutih. Mungkin sudah sekitar lima tahun ini.” Kebiasaan mewarnai rambut ini cukup umum di beberapa negara.

Umar Patek, yang dulunya mungkin dipanggil dengan panggilan-panggilan lain terkait aktivitas terornya, mestinya kini punya panggilan baru: Umar si Rambut Merah. Penampilan baru ini cukup mencolok dan berbeda dari citra dirinya yang dulu.

Di Afghanistan, Pakistan, dan beberapa kawasan Timur Tengah, sangat biasa melihat pria mewarnai rambut, bahkan jenggot mereka, dengan warna merah atau oranye Henna. Dengan rambut yang dicat merah, tampilan Umar Patek memang tidak lagi identik dengan citra dirinya saat masih menjadi buronan teroris internasional. Wajahnya yang dulu dicari-cari, dengan harga kepala mencapai 10 miliar rupiah bagi siapa saja yang bisa menemukannya, kini terlihat berbeda.

Saya sendiri menemukan Umar Patek di Hedon Estate milik drg. David. Ia ada di sana, memulai hidup baru, menjalankan usaha Kopi Ramu. Tentu saja, saya menemukannya bukan dalam konteks perburuan, jadi saya tidak bisa mengklaim tebusan 10 miliar rupiah itu. Ia sudah berada di jalur yang berbeda, mencoba menata kembali hidupnya setelah melewati masa-masa gelap. Kehadirannya di acara tersebut, interaksinya dengan korban, dan penampilannya yang baru, semuanya menunjukkan sebuah babak baru dalam kisahnya.

Bagaimana pendapat Anda tentang pertemuan-pertemuan ini? Atau mungkin Anda punya pengalaman serupa terkait perubahan seseorang? Bagikan cerita Anda di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar