Incar Cuan di 2026? 3 Saham Dividen Jumbo Ini Bisa Jadi Pilihan!

Table of Contents

Incar Cuan di 2026? 3 Saham Dividen Jumbo Ini Bisa Jadi Pilihan!

Halo para pemburu dividen! Mikirduit, lewat rubrik Mikirsaham, baru saja merilis daftar 26 saham dividen yang dianggap menarik nih buat periode tahun buku 2025, yang nanti dividennya bakal dibagikan di tahun 2026. Nah, dari sekian banyak pilihan itu, ada beberapa saham yang kelihatan paling ngejreng dari sisi potensi dividennya.

Tahun ini, cara kita memilih dan menganalisis saham dividen agak beda lho. Kita pakai dua indikator utama: pertama, Mikirduit Score, yang menilai kondisi fundamental saham. Kedua, kita lihat potensi pembagian dividen paling gede dari segi dividend yield-nya. Kombinasi dua indikator ini bikin kita bisa nemu saham yang nggak cuma royal bagi dividen, tapi juga punya fundamental yang oke.

Mikirduit Score ini kayak rapor buat fundamental saham. Angkanya punya rentang, 21-30 itu kategori Netral, 31-40 itu Good, dan 41-50 itu Very Good. Score ini ngitung macem-macem lho, mulai dari kesehatan neraca perusahaan (liat utangnya aman apa nggak), tren laba rugi (untungnya naik terus atau nggak), sampe kondisi cashflow perusahaan (uang masuk dan keluarnya lancar nggak, termasuk tren belanja modal buat pengembangan usaha).

Dari saham-saham yang Mikirduit Score-nya masuk kategori Netral sampe Very Good tadi (kategori Netral tetap kita lirik kalau ada potensi perbaikan kinerja ke depan), kita saring lagi. Yang dicari adalah saham-saham yang diproyeksikan bakal bagiin dividen paling besar dari laba tahun buku 2025. Pembagiannya bisa aja lewat dividen interim di semester II 2025 atau dividen final di 2026.

Nah, dalam pemilihan sahamnya, kita kelompokin jadi tiga kategori biar lebih bervariasi dan bisa disesuaikan sama preferensi investor. Ada kategori large caps (saham berkapitalisasi pasar besar), middle caps (kapitalisasi menengah), dan small caps (kapitalisasi kecil). Pembagian ini penting karena karakteristik saham di tiap kategori bisa beda jauh, terutama dari sisi likuiditas dan volatilitas.

Lalu, dari hasil saringan ketat itu, siapa aja sih emiten yang berpotensi jadi juara dividen dengan yield paling yahud? Yuk, kita bedah satu per satu!

Saham TAPG (Triputra Agro Persada Tbk.)

Saham TAPG ini kita masukin kategori large caps, dan dari hasil analisis, saham ini punya potensi bagiin dividen dengan tingkat dividend yield paling gede di kelasnya buat tahun buku 2025. Kalau kita lihat proyeksi kinerja keuangannya, laba bersih TAPG di 2025 diperkirakan sih bakal stagnan aja, naik tipis sekitar 0,85 persen jadi Rp158 per saham. Angka ini mungkin nggak sefantastis pertumbuhan di 2024.

Kenapa pertumbuhannya nggak sekencang 2024? Faktor utamanya, Mikirduit lihat ada pengaruh cuaca yang diprediksi cenderung lebih basah di 2025. Cuaca yang basah, apalagi kalau sampai banjir, bisa ganggu banget proses panen dan produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Akibatnya, laju produksi bisa melambat. TAPG sendiri memproyeksikan pertumbuhan kinerjanya di 2025 cuma satu digit, beda sama 2024 yang bisa dua digit.

Di sisi lain, kinerja TAPG di 2023-2024 itu memang cemerlang banget karena didukung dua hal utama. Pertama, harga pupuk sebagai biaya operasional terbesar itu turun signifikan. Kedua, harga rata-rata penjualan (ASP) minyak sawit mentah (CPO) lagi bagus. Nah, tantangan di 2025 adalah kalau harga pupuk tiba-tiba naik lagi, ini bisa bikin margin keuntungan TAPG tergerus.

Meskipun ada tantangan cuaca dan potensi kenaikan biaya, TAPG juga punya rencana strategis buat mendorong pertumbuhan. Salah satunya adalah bangun pabrik kelapa sawit baru di Kalimantan Timur. Tujuan pembangunan pabrik ini jelas, buat neken ongkos produksi dan ningkatin produktivitas hasil kebun sawit mereka di sana. Buat siapin pabrik baru ini, TAPG udah siapin belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp940 miliar. Ini menunjukkan komitmen perusahaan buat terus berkembang dan efisien.

Selain itu, TAPG juga lagi jajaki sumber pertumbuhan baru yang cukup inovatif. Mereka bikin perusahaan patungan sama Aisin Takaoka, anak perusahaan Toyota Motor Corporation. Usaha patungan ini bakal fokus produksi biokokas dari cangkang sawit di Indonesia. Biokokas ini bahan bakar ramah lingkungan yang lagi dicari banyak industri. Ekspektasinya, perusahaan patungan ini bisa mulai produksi di semester II 2025 buat nyuplai kebutuhan biokokas global. Ini langkah diversifikasi yang menarik dan bisa jadi sumber pendapatan tambahan buat TAPG ke depan.

TAPG juga lirik potensi diversifikasi bisnis lain lho, salah satunya terkait sama kelapa. Ini menunjukkan perusahaan nggak mau terpaku sama sawit aja, tapi cari peluang di komoditas perkebunan lain yang potensial. Selain itu, TAPG juga pelan-pelan lakuin peremajaan tanaman sawit mereka. Ini penting banget buat ngejaga produktivitas kebun dalam jangka panjang. Targetnya sih sekitar 1.000 hektar per tahun, tapi ada ambisi buat ningkatin bertahap sampe 3.000-4.000 hektar per tahun. Peremajaan ini butuh investasi besar dan waktu, tapi hasilnya bakal kerasa dalam jangka panjang.

Dengan asumsi laba bersih per saham TAPG cuma naik tipis 0,85 persen, kita proyeksikan laba per saham (EPS) di 2025 sekitar Rp158. Kalau TAPG mempertahankan dividend payout ratio (DPR) moderat di angka 80 persen (realisasi 2024 malah bisa sampe 90 persen), estimasi dividen per saham (DPS) buat tahun buku 2025 bisa sekitar Rp126,4 per saham. Kalau dihitung pake harga saham TAPG per 2 Juni 2025, tingkat dividend yield-nya berpotensi nyentuh angka sekitar 14,01 persen! Angka ini lumayan gede lho buat saham sekelas large caps.

Berikut rangkuman proyeksi dividen TAPG:

Indikator Proyeksi 2025
Pertumbuhan Laba Bersih +0,85%
EPS Proyeksi Rp158
DPR Asumsi 80%
DPS Proyeksi Rp126,4
Harga Saham (02/06/25) Rp902
Potensi Dividend Yield 14,01%

Tentu saja, proyeksi ini bisa berubah tergantung realisasi kinerja perusahaan dan kondisi pasar CPO serta biaya pupuk di 2025. Tapi potensi yield 14%++ ini jelas menarik perhatian para pemburu dividen.

Saham DMAS (Puradelta Lestari Tbk.)

Selanjutnya, kita pindah ke kategori middle caps. Di sini, saham DMAS alias Puradelta Lestari muncul sebagai kandidat dengan potensi dividend yield paling gede buat tahun buku 2025. Kita proyeksikan laba bersih DMAS bisa tumbuh sekitar 4 persen menjadi Rp29 per saham di tahun 2025. Angka pertumbuhan ini kita anggap konservatif.

DMAS ini kan pengembang kawasan industri ya, khususnya di Deltamas, Cikarang. Nah, sepanjang tahun 2025, DMAS menargetkan marketing sales atau prapenjualan lahan sekitar Rp1,81 triliun. Target ini sebenernya cukup konservatif lho kalau dibandingin sama realisasi kinerja 2024 yang bisa sampe Rp1,87 triliun. Artinya, manajemen DMAS mungkin pasang target yang realistis, nggak muluk-muluk.

Tapi, target konservatif itu bukan berarti nggak ada peluang lho. Di awal 2025, DMAS udah ngantongin permintaan lahan yang lumayan gede, sekitar 90 hektar. Ini sinyal positif buat kelangsungan marketing sales mereka di tahun ini. Meskipun begitu, kinerja DMAS di kuartal I 2025 kemarin sempet mencatat penurunan laba bersih 3 persen jadi Rp355 miliar.

Penurunan laba bersih di kuartal I 2025 itu sejalan sama penurunan pendapatan mereka sebesar 7,5 persen jadi Rp508 miliar. Penyebab utamanya, periode pendapatan dari Microsoft yang sebelumnya jadi kontributor besar (sampe 46 persen pendapatan perseroan) udah berakhir. Ini menunjukkan bahwa pendapatan DMAS bisa sangat bergantung pada transaksi penjualan lahan besar.

Untungnya, DMAS berhasil dapetin beberapa pembeli lahan baru di awal tahun ini. Ada STT GDC Indonesia yang juga bergerak di segmen data center kayak Microsoft, lalu ada perusahaan real estate Templemore Real Estate And, dan pembangunan gudang oleh Kawanishi Warehouse Indonesia. Ketiga klien baru ini kontribusi gede banget, sampe 94 persen dari pendapatan DMAS di kuartal pertama tahun ini. Ini nunjukkin DMAS cepet adaptasi cari klien pengganti setelah transaksi besar sebelumnya selesai.

Dengan proyeksi laba bersih DMAS yang kita anggap konservatif, tumbuh di bawah 5 persen jadi Rp29 per saham di 2025, dan asumsi dividend payout ratio yang juga konservatif di 85 persen (realisasi 2024 bahkan di atas 100 persen lho!), estimasi dividen per saham DMAS buat tahun buku 2025 berpotensi sekitar Rp24,65 per saham. Kalau kita hitung pake harga saham DMAS per 2 Juni 2025, potensi dividend yield-nya bisa mencapai 17,48 persen! Ini angka yang fantastis di kategori middle caps, bahkan lebih tinggi dari proyeksi TAPG di large caps.

DMAS juga punya keunggulan dari sisi struktur modalnya yang kuat dan posisi kas yang besar, ini bikin mereka punya fleksibilitas buat bagiin dividen jumbo ke pemegang saham. Bisnis kawasan industri juga cenderung stabil apalagi kalau permintaan lahan dari sektor-sektor yang lagi tumbuh kayak data center terus berdatangan.

Rangkuman proyeksi dividen DMAS:

Indikator Proyeksi 2025
Pertumbuhan Laba Bersih +4%
EPS Proyeksi Rp29
DPR Asumsi 85%
DPS Proyeksi Rp24,65
Harga Saham (02/06/25) Rp141
Potensi Dividend Yield 17,48%

Potensi yield hampir 18% ini bikin DMAS jadi sangat menarik buat investor yang cari dividen gede dari saham kategori menengah. Namun, perlu diingat kinerja sangat bergantung pada kecepatan dan nilai penjualan lahan.

Saham ASDM (Asuransi Dayin Mitra Tbk.)

Terakhir, kita lirik kategori small caps. Di sini, saham ASDM alias Asuransi Dayin Mitra jadi saham dividen yang berpotensi bagiin dividend yield terbesar di kelasnya. ASDM ini bergerak di sektor asuransi umum. Kita proyeksikan laba bersih ASDM bisa tumbuh 3,1 persen jadi Rp80,88 per saham di tahun 2025.

Saham small caps kayak ASDM ini punya karakteristik unik, salah satunya dari sisi likuiditas yang cenderung rendah. Ini bisa jadi risiko karena harga sahamnya gampang banget bergerak naik atau turun drastis kalau ada aksi beli atau jual dalam jumlah lumayan. Tapi, di sisi lain, ini juga bisa jadi peluang. Kalau ada sentimen positif atau permintaan tiba-tiba naik, harga saham small caps bisa melesat lebih agresif dibanding middle atau large caps karena jumlah saham yang beredar di publik lebih sedikit. Jadi, ASDM bisa jadi komponen diversifikasi yang menarik di portofolio dividen, dengan potensi kenaikan harga yang lumayan.

Kalau kita intip kinerja ASDM di kuartal I 2025, perusahaan ini mencatat pertumbuhan laba bersih yang cukup oke lho, naik 20,25 persen jadi Rp14,37 per saham. Angka pertumbuhan kuartalan ini lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan setahun penuh, ini sinyal positif di awal tahun.

Sebagai perusahaan asuransi umum, ASDM juga ngadepin beberapa tantangan di industri. Salah satunya adalah transisi digitalisasi. Industri asuransi lagi gencar dorong layanan digital biar nasabah gampang akses produk dan layanan. Tapi kenyataannya, masih banyak juga nasabah yang bingung atau belum nyaman berinteraksi sama asuransi secara digital. Ini PR buat perusahaan asuransi, termasuk ASDM, buat edukasi dan nyediain platform digital yang user-friendly.

Tantangan lain yang dihadapi perusahaan asuransi umum adalah fluktuasi nilai mata uang. Kalau rupiah melemah tajam terhadap mata uang asing, ini bisa pengaruhin pengelolaan dana investasi yang dimiliki perusahaan asuransi. Mereka harus pinter-pinter ngatur portofolio investasinya biar nggak kena kerugian kurs.

Sejauh ini, ASDM kayaknya belum nunjukkin sinyal bakal ngelakuin pertumbuhan anorganik (akuisisi atau merger). Fokus mereka lebih ke pertumbuhan organik. Strateginya adalah terus ngembangin produk asuransi umum yang relevan sama kebutuhan pasar, nguatin branding perusahaan, dan ngoptimalkan channel penjualan tradisional. Channel tradisional ini maksudnya lewat kerjasama sama perusahaan pembiayaan (leasing), bank, agen asuransi, dan broker asuransi. Channel-channel ini masih jadi tulang punggung penjualan produk asuransi umum di Indonesia.

Dengan prospek laba bersih yang diproyeksikan tumbuh 3,1 persen jadi Rp80,88 per saham sepanjang 2025, dan potensi dividend payout ratio sekitar 70 persen dari laba bersih (ini angka yang wajar buat industri jasa finansial kayak asuransi), estimasi dividen per saham ASDM berpotensi sekitar Rp56 per saham. Kalau dihitung pake harga saham ASDM per 2 Juni 2025, tingkat dividend yield-nya bisa mencapai sekitar 10,58 persen! Angka ini lumayan menarik buat saham small caps yang juga punya potensi capital gain (kenaikan harga saham) kalau kinerjanya bagus dan likuiditasnya meningkat.

Berikut ringkasan proyeksi dividen ASDM:

Indikator Proyeksi 2025
Pertumbuhan Laba Bersih +3,1%
EPS Proyeksi Rp80,88
DPR Asumsi 70%
DPS Proyeksi Rp56
Harga Saham (02/06/25) Rp530
Potensi Dividend Yield 10,58%

Perlu diingat lagi, saham small caps punya risiko likuiditas yang lebih tinggi, jadi pastikan ukuran investasinya sesuai dengan profil risiko kamu ya.

Kesimpulan dan Strategi

Jadi, TAPG, DMAS, dan ASDM muncul sebagai tiga saham yang paling menonjol dari sisi potensi dividend yield jumbo buat tahun buku 2025. TAPG jawara di large caps, DMAS di middle caps, dan ASDM di small caps.

Yang penting diingat nih buat para pemburu dividen, strategi beli saham dividen itu paling oke kalau kita beli pas harganya lagi murah, bukan malah pas rame-rame setelah pengumuman dividen atau mepet tanggal cum-date (tanggal terakhir investor berhak dividen). Kenapa? Biar kalaupun kamu niat hold jangka pendek cuma sampe dividen dibagikan (strategi dividend capturing), kamu tetep bisa dapet dividennya tanpa harus cut loss alias rugi karena harga sahamnya keburu turun drastis setelah cum-date (ex-date).

Makanya, Mikirduit selalu nyaranin formulasi strategi beli yang bijak. Bisa pake metode lump sum bertahap, artinya beli langsung dalam jumlah agak besar tapi dicicil di beberapa titik harga setelah sahamnya bagiin dividen tahun ini (biasanya harga agak koreksi setelah ex-date). Atau bisa juga pake strategi Dollar Cost Averaging (DCA), yaitu nyicil beli rutin per bulan atau per periode tertentu, dimulai pas harganya masih oke. Cara ini bikin biaya rata-rata pembelian kamu jadi lebih rendah.

Secara umum, saham dividen, apalagi yang masuk kategori besar dan punya bisnis non-cyclical (nggak terlalu terpengaruh fluktuasi ekonomi), cocok banget buat di-hold jangka panjang, bisa 1 sampe 5 tahun atau lebih. Ini sesuai sama tren kondisi pasar dan kinerja perusahaan itu sendiri. Dengan hold lebih lama, kamu nggak cuma nikmatin dividen tahunan, tapi juga berpotensi dapet capital gain dari kenaikan harga sahamnya.

Ketiga saham ini menawarkan potensi yield yang menarik di kategorinya masing-masing, tapi jangan lupa tetap sesuaikan pilihan sama profil risiko dan tujuan investasi kamu ya!

Potensi Dividen Jumbo Berdasarkan Kategori

Berikut tabel ringkasan potensi ketiga saham tadi biar gampang liat perbandingannya:

Emiten Kategori Proyeksi Laba Bersih 2025 (per saham) Asumsi DPR Proyeksi DPS 2025 Harga Saham (02/06/25) Potensi Dividend Yield
TAPG Large Caps Rp158 80% Rp126,4 Rp902 14,01%
DMAS Middle Caps Rp29 85% Rp24,65 Rp141 17,48%
ASDM Small Caps Rp80,88 70% Rp56 Rp530 10,58%

Catatan: Proyeksi laba dan DPR bersifat asumsi dan bisa berubah tergantung realisasi kinerja dan kebijakan perusahaan.

Tertarik buat eksplorasi lebih jauh soal saham dividen ini? Atau punya jagoan saham dividen lain buat tahun 2026? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar! Diskusi biar makin banyak insight nih buat sama-sama cuan!

Posting Komentar