Indo Defence 2024 Kelar! Kemhan Borong 17 Kontrak, Apa Aja?
Pameran industri pertahanan Indo Defence 2024 di Jakarta sudah resmi kelar pada Sabtu, 14 Juni 2025 lalu. Acara empat tahunan ini selalu jadi ajang penting buat pamer teknologi militer terbaru dan pastinya, buat deal-deal strategis di sektor pertahanan. Nah, di edisi kali ini, ada kabar gembira buat industri pertahanan kita di dalam negeri. Kementerian Pertahanan (Kemhan) Indonesia ternyata sukses besar menjalin banyak kesepakatan penting.
Dari perhelatan akbar tersebut, Kemhan berhasil meneken total 17 kontrak kerja sama langsung dengan pelaku industri di Indonesia. Ini bukan angka kecil lho, dan menunjukkan komitmen serius pemerintah untuk memberdayakan kemampuan produksi dalam negeri. Kontrak-kontrak ini diharapkan bisa jadi angin segar dan suntikan semangat buat perusahaan-perusahaan lokal yang bergerak di bidang pertahanan.
Menurut Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kemhan, Laksamana Muda TNI Sri Yanto, ke-17 kontrak yang diteken itu berasal dari berbagai pihak, baik perusahaan swasta nasional maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis di sektor pertahanan. Penandatanganan kontrak di arena Indo Defence ini, kata Sri Yanto, adalah wujud nyata dari perhatian dan pembinaan negara terhadap industri pertahanan kita. Pemerintah ingin memastikan bahwa industri lokal punya porsi dan peran besar dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista).
“Salah satu bentuk pembinaan itu ya dengan memberikan porsi pengadaan di dalam negeri. Jadi, semua kontrak yang kita teken di sini (Indo Defence) itu asalnya dari perusahaan kita sendiri, perusahaan dalam negeri,” jelas Laksamana Muda Sri Yanto. Dia juga menambahkan, kontrak pembelian alutsista atau kerja sama dengan pihak luar negeri memang ada, tapi proses penandatanganannya dilakukan secara terpisah di Kemhan, bukan di pameran, dan memang tidak dipublikasikan secara detail di Indo Defence 2024 ini. Ini menunjukkan prioritas yang jelas pada penguatan basis industri pertahanan nasional terlebih dahulu.
MoU Penting Jadi Tanda Awal Kerja Sama¶
Selain 17 kontrak yang sifatnya sudah mengikat, Indo Defence 2024 juga menghasilkan banyak kesepakatan awal dalam bentuk Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Total ada 35 MoU yang berhasil diteken selama pameran berlangsung. Meskipun MoU ini belum sekuat kontrak, tapi ini jadi sinyal positif buat potensi kerja sama di masa depan.
Laksamana Muda Sri Yanto tidak merinci semua 35 MoU yang ada. Jumlahnya yang cukup banyak ini mengindikasikan adanya penjajakan dan rencana kerja sama di berbagai lini dan dengan berbagai pihak. MoU bisa mencakup banyak hal, mulai dari riset dan pengembangan bersama, produksi komponen, perawatan dan perbaikan, hingga pendidikan dan pelatihan.
Salah satu MoU yang paling ramai dibicarakan dan menarik perhatian luas adalah kesepakatan terkait rencana pengadaan jet tempur generasi kelima, KAAN, buatan Turkish Aerospace Industries (TAI) dari Turki. MoU yang sangat strategis ini bahkan disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto saat beliau membuka Indo Defence 2024 pada hari Kamis, 11 Juni 2025 lalu.
Penandatanganan MoU jet tempur KAAN ini tentu punya makna penting. Ini menunjukkan minat serius Indonesia untuk punya pesawat tempur paling canggih saat ini, yang digolongkan sebagai jet tempur generasi ke-5. Potensi kerja sama dengan Turki di proyek KAAN ini juga membuka peluang untuk transfer teknologi dan partisipasi industri pertahanan Indonesia dalam proyek internasional yang besar. Ini sejalan dengan visi membangun kemandirian pertahanan.
Indo Defence: Lebih dari Pameran, Jadi Pendorong Industri dan Diplomasi¶
Sri Yanto sangat optimis bahwa Indo Defence 2024 akan memberikan dorongan signifikan bagi kemajuan industri pertahanan Indonesia. Pameran ini, bersama dengan kontrak kerja sama yang sudah diteken, adalah bukti konkret perhatian negara terhadap sektor ini. Industri pertahanan bukan cuma soal membeli alat, tapi juga soal membangun kemampuan nasional.
“Pemberian porsi pengadaan dalam negeri, entah itu dengan swasta maupun BUMN, itu bagian dari pembinaan. Indo Defence ini juga tentunya akan men-drive kerja sama industri pertahanan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Harapannya tercipta kolaborasi yang saling menguntungkan,” kata Sri Yanto. Kolaborasi ini penting untuk mempercepat penguasaan teknologi dan meningkatkan kapasitas produksi.
Peluang kerja sama, terutama dengan pihak luar negeri, terlihat jelas dari skala pameran itu sendiri. Indo Defence 2024 diikuti oleh 1.182 peserta pameran dari 55 negara sahabat. Ini adalah jumlah yang sangat besar, menunjukkan betapa strategisnya posisi Indonesia di pasar dan diplomasi pertahanan global. Banyak negara melihat Indonesia sebagai mitra potensial.
Selain peserta pameran, hadir juga delegasi resmi dari 42 negara, dengan total 323 orang. Para delegasi ini biasanya terdiri dari pejabat tinggi militer dan kementerian pertahanan, yang datang untuk menjajaki kerja sama dan melihat langsung produk-produk yang dipamerkan. Kehadiran mereka di Jakarta menunjukkan Indonesia adalah pemain penting di kawasan.
Menurut Sri Yanto, banyaknya undangan dan peserta dari berbagai negara ini juga menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif. Indonesia tidak memihak satu blok kekuatan saja, melainkan membuka pintu kerja sama dengan semua pihak yang saling menghargai kedaulatan dan prinsip non-intervensi. Dengan begitu, Indonesia bisa mendapatkan teknologi dan dukungan terbaik dari berbagai sumber.
“Kita sebagai negara yang bebas aktif memang tidak hanya membuka kerja sama ke satu pihak saja, tetapi semua pihak. Harapannya, ada transfer teknologi yang efektif dengan terbangunnya supply chain (rantai pasok) industri pertahanan yang kuat,” papar Sri Yanto. Rantai pasok yang kuat dan mandiri ini krusial untuk menjamin kesiapsiagaan pertahanan dalam jangka panjang, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas di dalam negeri.
Antusiasme publik terhadap Indo Defence 2024 juga luar biasa. Sri Yanto menyebutkan, sampai sore di hari penutupan, total pengunjung yang datang ke pameran ini sudah melampaui angka 42.000 orang. Angka ini mencakup profesional industri, personel militer, akademisi, pelajar, dan masyarakat umum yang tertarik dengan dunia pertahanan. Tingginya angka pengunjung ini juga menunjukkan potensi pasar yang besar di Indonesia.
Melihat Masa Depan: Teknologi Nirawak Jadi Tren Utama¶
Menurut Laksamana Muda Sri Yanto, semua capaian dan peluang kerja sama dari Indo Defence 2024 ini adalah langkah fundamental dalam mengembangkan teknologi pertahanan Indonesia. Ini menjadi modal penting untuk mencapai visi besar Indonesia Emas 2045, di mana Indonesia diharapkan menjadi negara maju dan mandiri di berbagai sektor, termasuk pertahanan.
Selama pameran, banyak teknologi canggih yang dipamerkan, memberikan gambaran seperti apa wajah pertahanan di masa depan. Salah satu teknologi yang paling menyedot perhatian dan dianggap sebagai tren utama saat ini adalah teknologi nirawak. Ya, unmanned technology atau teknologi tanpa awak, dalam berbagai bentuknya.
“Tren yang paling jelas terlihat sekarang adalah teknologi unmanned, seperti drone atau kendaraan nirawak, baik itu yang beroperasi di udara, darat, maupun di air. Di berbagai konflik modern, wahana unmanned ini sudah jadi andalan dalam berbagai kegiatan pertahanan,” ungkap Sri Yanto. Keunggulan teknologi ini ada pada kemampuannya menjalankan misi berisiko tanpa membahayakan prajurit manusia, fleksibilitas operasional, dan biaya yang relatif lebih efisien dibandingkan platform berawak untuk misi tertentu. Teknologi nirawak ini bisa digunakan untuk pengintaian (ISR), pengawasan, serangan presisi, peperangan elektronik, hingga logistik.
Inovasi Lokal dan Global di Pameran¶
Industri pertahanan dalam negeri kita, PT Dirgantara Indonesia (PT DI), juga ikut memamerkan inovasi mereka di bidang teknologi nirawak. Sebagai BUMN strategis, PT DI berusaha keras untuk mengembangkan kemampuan di area yang sedang jadi tren global ini. Mereka memboyong sejumlah produk unggulan yang menjadi referensi dalam konsep perang modern, khususnya terkait drone dan sistem anti-drone.
Di area pameran, PT DI menampilkan dua pesawat nirawak andalannya: UAV (Unmanned Aerial Vehicle) Wulung dan MALE Elang Hitam. UAV Wulung adalah drone intai taktis yang sudah dikembangkan PT DI sejak tahun 2014 dan berhasil mengantongi sertifikat kelaikan udara militer dari Indonesia Defense Airworthiness Authority (IDAA) pada tahun 2016. Ini adalah pencapaian penting dalam pengembangan drone kelas medium.
Sementara itu, MALE (Medium Altitude Long Endurance) Elang Hitam adalah proyek pesawat nirawak tempur yang punya kemampuan terbang di ketinggian menengah dengan daya tahan (endurance) yang sangat lama. Elang Hitam dirancang untuk misi pengintaian, pengawasan, dan bahkan bisa dipersenjatai untuk serangan. Adi Prastowo, Manajer Komunikasi Perusahaan dan Hubungan Kelembagaan PT DI, memastikan bahwa pengembangan kedua produk strategis ini terus diakselerasi oleh PT DI untuk segera bisa memenuhi kebutuhan operasional TNI. Pengembangan drone MALE sendiri adalah langkah besar menuju kemandirian pertahanan udara.
Tidak hanya produk lokal, pemain global kelas kakap juga memamerkan kemajuan teknologi nirawak mereka di Indo Defence 2024. Salah satunya adalah Airbus, perusahaan kedirgantaraan raksasa asal Eropa. Airbus memperkenalkan produk inovatif mereka yang bernama Flextrotor. Pesawat nirawak ini punya kemampuan unik dengan beban muatan (payload) hingga 6,5 kilogram dan bisa terbang dengan durasi yang sangat lama, mencapai 14 jam. Ini membuatnya ideal untuk misi intelijen dan pengawasan di wilayah yang luas.
Keunggulan paling menarik dari Flextrotor adalah kemampuannya untuk lepas landas (take off) dan mendarat (landing) secara vertikal atau tegak lurus, mirip helikopter. Setelah lepas landas, dia akan terbang secara horizontal seperti pesawat konvensional. Teknologi vertical takeoff and landing (VTOL) ini mengurangi kebutuhan akan landasan pacu yang panjang, memberikan fleksibilitas operasional yang tinggi. Kepala Region Asia Pasifik Airbus Helikopter, Vincent Dubrule, saat presentasi di Indo Defence, menjelaskan bahwa kemampuan VTOL ini tidak hanya praktis tapi juga efisien dalam penggunaan energi saat transisi dari terbang vertikal ke horizontal.
Indo Defence 2024 memang sudah selesai, tapi dampaknya diharapkan bisa dirasakan dalam jangka panjang. Dengan 17 kontrak domestik yang diteken dan 35 MoU yang jadi fondasi kerja sama masa depan, industri pertahanan Indonesia punya modal kuat untuk terus tumbuh dan berkembang. Fokus pada teknologi masa depan seperti kendaraan nirawak juga menunjukkan kesiapan untuk menghadapi tantangan pertahanan modern.
Gimana nih pendapat kamu soal hasil Indo Defence 2024 kali ini? Ada teknologi atau kesepakatan yang paling kamu tunggu kelanjutannya? Jangan ragu share di kolom komentar ya!
Posting Komentar