Kenapa Data Kemiskinan Bank Dunia & BPS Beda? Ini Dia Jawabannya!

Table of Contents

penyebab beda angka kemiskinan

Belakangan ini, angka kemiskinan di Indonesia lagi jadi topik panas banget. Gimana enggak, muncul data dari Bank Dunia yang angkanya beda jauh banget sama data yang biasa dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Perbedaan ini bikin banyak orang bingung dan bertanya-tanya, kok bisa angkanya langit dan bumi gitu?

Dalam laporan terbarunya yang keluar Juni 2025, Bank Dunia nyebut angka kemiskinan di Indonesia melonjak drastis. Angkanya sampai bikin kaget, yaitu 194,6 juta jiwa! Bayangin, hampir 200 juta orang dianggap miskin versi hitungan mereka. Tentu angka ini langsung jadi sorotan.

Di sisi lain, BPS punya data yang beda jauh banget. Rilis terakhir BPS per September 2024 menunjukkan angka kemiskinan di Indonesia cuma 8,57%. Kalau dikonversi ke jumlah jiwa, itu sekitar 24,06 juta orang. Jauh banget kan bedanya antara 194,6 juta dan 24,06 juta?

Perbedaan angka yang drastis ini tentu menimbulkan kebingungan di masyarakat. Mana data yang bener? Data Bank Dunia yang nunjukin angka besar banget, atau data BPS yang nunjukin angka jauh lebih kecil? Ini penting buat dipahami, karena data kemiskinan itu jadi patokan buat bikin kebijakan dan program pengentasan kemiskinan.

Nah, buat ngejelasin perbedaan ini, Jubir Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO), Dedek Prayudi, kasih pencerahan. Menurut Dedek, perbedaan ini sebetulnya wajar aja dan nggak perlu dipertentangkan mati-matian. Kenapa? Karena tujuannya memang beda, desain pengumpulan datanya juga beda.

Dua Data, Dua Tujuan Berbeda

Dedek ngejelasin kalau pada dasarnya, dua data ini sifatnya saling melengkapi. Ibaratnya, mereka itu kayak dua kacamata yang beda buat ngelihat satu objek yang sama, yaitu kemiskinan. Kacamata Bank Dunia dan kacamata BPS punya lensa dan fokus yang nggak sama, makanya hasil lihatnya juga beda.

Tujuan utama Bank Dunia merilis data kemiskinan adalah buat keperluan komparasi internasional. Mereka pengen bisa membandingkan tingkat kemiskinan antar negara di dunia. Selain itu, data ini juga dipake buat pemeringkatan negara berdasarkan kemiskinan dan buat mengidentifikasi global extreme poverty atau kemiskinan ekstrem di tingkat global.

Bayangin kalau setiap negara punya cara hitung kemiskinan sendiri-sendiri dengan standar yang beda-beda. Pasti susah banget kan mau bandinginnya? Makanya, Bank Dunia bikin standar garis kemiskinan yang sama atau setidaknya setara, buat semua negara yang ada dalam satu grup atau kategori tertentu. Nah, dari garis kemiskinan standar global itulah, mereka hitung berapa jumlah orang miskin di suatu negara.

Garis Kemiskinan Bank Dunia: Standar Global

Garis kemiskinan yang dipake Bank Dunia itu biasanya didasarkan pada standar pendapatan per hari. Misalnya, ada garis kemiskinan internasional $2.15 per hari (ini standar buat negara berpendapatan rendah), $3.65 per hari (buat negara berpendapatan menengah ke bawah), dan $6.85 per hari (buat negara berpendapatan menengah ke atas). Angka-angka ini dikonversi ke mata uang lokal menggunakan paritas daya beli atau Purchasing Power Parity (PPP), yang mencoba menyamakan daya beli mata uang di berbagai negara.

Metode standar global ini emang bagus buat perbandingan antar negara. Kita jadi tahu posisi Indonesia dibandingkan negara lain di dunia dalam hal kemiskinan ekstrem. Ini penting buat kerja sama global atau bantuan internasional.

Tapi, kelemahan dari metode Bank Dunia ini, menurut Dedek, adalah dia nggak bisa menangkap karakteristik lokal kemiskinan di sebuah negara. Misalnya, standar garis kemiskinan global itu kan dihitung berdasarkan harga-harga rata-rata internasional yang dikonversi pakai PPP. Padahal, harga barang kebutuhan pokok, biaya transportasi, biaya sewa rumah, dan biaya hidup lainnya di Indonesia bisa beda banget sama di negara lain, bahkan beda antar daerah di Indonesia sendiri.

Standar global yang seragam itu nggak bisa mencerminkan keragaman harga dan kondisi sosial ekonomi di tiap daerah di Indonesia. Misalnya, biaya hidup di Jakarta pasti beda jauh sama biaya hidup di desa terpencil di Maluku atau Papua. Data Bank Dunia yang pakai standar global by design nggak bisa merinci perbedaan-perbedaan itu.

Garis Kemiskinan BPS: Memotret Realita Lokal

Nah, di sinilah peran data BPS jadi penting banget. Dedek menjelaskan, BPS merilis data kemiskinan dengan tujuan utama untuk menangkap profil kemiskinan di Indonesia secara lebih mendalam dan sesuai konteks lokal. Data BPS ini yang paling sering dipake sama pemerintah dan lembaga lain di Indonesia buat bikin kebijakan, nargetin program bantuan sosial, atau ngukur efektivitas program pengentasan kemiskinan di tingkat nasional maupun daerah.

Metode yang dipake BPS dalam menghitung garis kemiskinan itu lebih detail dan disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. BPS punya dua komponen utama dalam perhitungannya.

Komponen pertama adalah garis kemiskinan makanan. Ini dihitung berdasarkan kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan energi minimum per hari, yang standarnya ditetapkan sebesar 2.100 kalori per orang per hari. BPS menghitung biaya minimum yang dibutuhkan untuk mendapatkan 2.100 kalori dari paket komoditas makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia. Jadi, kalau pengeluaran seseorang untuk makanan nggak cukup buat dapetin 2.100 kalori per hari, dia masuk kategori miskin dari sisi makanan.

Komponen kedua adalah garis kemiskinan non-makanan. Komponen ini mengukur kemampuan seseorang buat mengakses kebutuhan dasar non-makanan. Apa aja yang diukur? Ini mencakup akses terhadap perumahan atau hunian yang layak, sandang (pakaian), pendidikan, kesehatan, transportasi, dan kebutuhan lain yang dianggap esensial dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. BPS juga menghitung perkiraan biaya minimum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan non-makanan ini.

Dua komponen ini – garis kemiskinan makanan dan non-makanan – kemudian digabung atau dijumlahkan. Hasil penjumlahannya adalah total garis kemiskinan dalam Rupiah per bulan per kapita. Yang paling penting, konversi ke nominal Rupiah ini menggunakan harga-harga yang berlaku di Indonesia, bahkan dibedakan per provinsi atau per daerah survei, lho! Ini yang bikin data BPS bisa lebih nendang dan relevan buat ngelihat kondisi kemiskinan di tiap wilayah di Indonesia.

Jadi, seseorang dianggap miskin versi BPS kalau total pengeluarannya (baik untuk makanan maupun non-makanan) per bulan itu berada di bawah garis kemiskinan yang sudah dihitung oleh BPS berdasarkan harga lokal. Dengan metode ini, BPS bisa keluar dengan angka kemiskinan 8,57% atau 24,06 juta jiwa seperti rilis terakhir mereka.

Bank Dunia Sendiri Paham Perbedaannya

Menariknya, Dedek juga nyebutin kalau Bank Dunia sendiri sebetulnya sudah memberikan semacam disclaimer atau peringatan di laporan resminya. Mereka tahu kok kalau data kemiskinan yang mereka rilis itu beda sama hitungan resmi tiap negara.

Bank Dunia menyatakan dengan jelas bahwa garis kemiskinan nasional suatu negara itu jauh lebih tepat dan lebih relevan untuk mendukung dialog kebijakan di tingkat nasional atau untuk menargetkan program pengentasan kemiskinan buat menjangkau masyarakat yang paling butuh.

Ini artinya, Bank Dunia mengakui bahwa data mereka itu lebih cocok buat analisis global atau perbandingan antarnegara, tapi kalau buat nentuin siapa yang dapet bantuan atau program apa yang paling pas buat daerah tertentu di Indonesia, data BPS yang pakai garis kemiskinan nasional itu yang lebih akurat dan berguna.

Mana yang “Benar”? Keduanya!

Jadi, kalau ditanya mana data yang “benar”? Jawabannya, keduanya benar, tapi dengan konteks dan tujuan yang berbeda. Data Bank Dunia benar untuk tujuan perbandingan global, sementara data BPS benar untuk tujuan memotret kondisi kemiskinan di Indonesia secara lokal dan nasional.

Perbedaan ini bukan berarti salah satu data itu bohong atau keliru. Ini murni karena perbedaan metodologi, standar, dan tujuan pengumpulan data. Penting banget buat masyarakat dan juga pengambil kebijakan untuk memahami perbedaan konteks ini supaya nggak salah tafsir atau salah kaprah dalam menggunakan data tersebut.

Memahami konteks ini juga mencegah kita terjebak dalam perdebatan nggak penting soal “angka siapa yang paling valid”. Justru, kita bisa memanfaatkan kedua data ini untuk wawasan yang lebih kaya. Data Bank Dunia kasih kita gambaran posisi Indonesia di kancah global, sementara data BPS kasih kita detail kondisi di dalam negeri, siapa mereka yang miskin, tinggal di mana, dan kenapa mereka miskin (profil kemiskinan).

Kalau kita hanya fokus pada angka Bank Dunia yang besar tanpa memahami metodologinya, kita bisa panik luar biasa dan merasa upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia itu totally failed. Sebaliknya, kalau kita hanya lihat data BPS tanpa sesekali melirik perbandingan global, kita mungkin kurang punya perspektif posisi kita di dunia.

Intinya, dua data ini punya peran masing-masing. Data Bank Dunia sebagai “kacamata global”, dan data BPS sebagai “kacamata lokal” yang lebih rinci dan pas buat kebutuhan dalam negeri. Keduanya saling melengkapi, seperti yang dikatakan Jubir PCO tadi.

Memahami perbedaan metodologi ini juga penting biar diskusi publik tentang kemiskinan jadi lebih produktif. Kita bisa diskusikan kenapa standar global Bank Dunia menghasilkan angka setinggi itu (mungkin karena standar PPP kita rendah atau memang ada isu tertentu yang tertangkap standar global), dan kita juga bisa diskusikan gimana data BPS dipakai buat menargetkan program secara efektif di lapangan.

Jadi, nggak perlu panik lihat angka beda jauh. Sekarang sudah tahu kan alasan utamanya? Perbedaan tujuan dan metodologi perhitungan adalah kunci jawabannya. Ini bukan soal benar-salah datanya, tapi soal pas atau tidaknya data itu digunakan untuk tujuan tertentu.

Buat yang pengen lebih jelas lagi, katanya ada video penjelasan soal ini. Mungkin bisa dicari tuh video yang dimaksud biar makin paham detailnya.


Gimana, sekarang udah nggak bingung lagi kan kenapa angka kemiskinan dari Bank Dunia sama BPS bisa beda jauh banget? Ternyata oh ternyata, beda tujuan, beda metode hitungnya.

Yuk, kasih tahu pendapat kalian soal perbedaan data ini di kolom komentar di bawah! Menurut kalian, data mana yang paling relevan buat kalian pahami kondisi ekonomi sekitar? Bagikan juga artikel ini biar makin banyak yang tercerahkan ya!

Posting Komentar