Ribut-Ribut Bagi MBG Mentah di Tangsel: BGN vs. SPPG, Siapa yang Bener?

Table of Contents

Awal Mula Ramainya MBG Mentah di Tangsel

Beberapa waktu lalu, jagat media sosial dihebohkan dengan unggahan yang menampilkan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tangerang Selatan (Tangsel) yang dibagikan dalam bentuk bahan mentah. Beda banget dari biasanya yang langsung siap santap, paket ini bikin netizen bertanya-tanya.

Unggahan di akun @indotoday Instagram memperlihatkan isi paket MBG yang bikin kaget. Ada beberapa buah jeruk dan pisang. Selain itu, terlihat juga kantong-kantong plastik berisi beras, ikan asin, telur puyuh, dan kacang tanah. Yap, bahan-bahan yang ini jelas butuh dimasak dulu sebelum bisa disantap.

Ribut-Ribut Bagi MBG Mentah di Tangsel

Situasi ini langsung memancing diskusi. Program MBG kan tujuannya buat memastikan anak-anak dapat asupan gizi yang cukup, biasanya diberikan dalam bentuk makanan matang di sekolah. Nah, kalau dikasih bahan mentah begini, bagaimana nasibnya? Apakah benar-benar sampai jadi makanan bergizi di piring anak-anak? Ini yang kemudian jadi ramai diperbincangkan.

Kata BGN: Belum Ada Kebijakan Bahan Mentah!

Menanggapi kehebohan ini, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, angkat bicara. Kata dia, sampai saat ini, belum ada kebijakan resmi dari BGN terkait pembagian MBG berupa bahan mentah ke siswa, apalagi ini kan lagi momen libur sekolah.

“Belum ada kebijakan BGN seperti itu (memberikan menu MBG bahan mentah),” tegas Dadan dalam keterangan resminya pada Rabu (18/6/2025). Pernyataan ini seolah membantah praktik yang terjadi di Tangsel tersebut.

Dadan menjelaskan, BGN selalu berpegang pada prinsip pemerataan gizi, efektivitas penyaluran, dan keberlanjutan manfaat dalam setiap pengambilan kebijakan program. Intinya, program ini harus dipastikan benar-benar sampai dan memberi manfaat maksimal buat penerima.

Saat ini, BGN sendiri sedang sibuk menyusun petunjuk teknis (juknis) untuk pelaksanaan program MBG selama masa libur sekolah. Penyusunan juknis ini lumayan kompleks karena harus mempertimbangkan banyak hal, termasuk pola kehadiran peserta didik selama liburan.

BGN sudah meminta Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah untuk melakukan survei intensitas kehadiran siswa. Jika nanti ternyata banyak siswa yang masih bisa datang ke sekolah, BGN kemungkinan akan membekali mereka dengan fresh food (makanan siap santap) dan makanan yang lebih tahan lama seperti telur, buah, dan susu. Namun, jika mayoritas siswa tidak hadir, BGN punya rencana lain.

“Kami akan fokus terhadap kelompok rentan lainnya, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita agar manfaat gizi tetap tersalurkan secara optimal,” ujar Dadan. Ini menunjukkan BGN sedang memikirkan skema alternatif penyaluran yang paling pas saat sekolah libur.

Penjelasan dari SPPG Tangsel

Di sisi lain, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertugas di lapangan, khususnya SPPG Yayasan Mualaf Indonesia Timur (Yasmit) Ciputat Timur di Tangsel, punya penjelasan tersendiri. Mereka mengakui memang benar membagikan MBG dalam bentuk bahan mentah.

Menurut Kepala SPPG Yasmit Ciputat Timur, A Basiro, pembagian MBG bahan mentah itu dilakukan untuk 18 sekolah di wilayahnya. Total ada 4.075 siswa yang jadi penerima pada saat itu.

Basiro menjelaskan, alasan mereka memberikan MBG dalam bentuk bahan mentah adalah karena siswa sedang libur sekolah, atau mungkin ada yang sedang menjalani class meeting, atau ujian. Intinya, kegiatan belajar mengajar (KBM) sedang tidak berjalan normal.

Meskipun KBM tidak seperti biasa, paket MBG ini tetap harus disampaikan. Nah, di sinilah muncul interpretasi dan kreativitas dari pihak pelaksana di lapangan.

“Terkait menu MBG di SPPG Kota Tangerang Selatan-Cempaka Putih yang viral, beras diberikan dalam bentuk mentah agar dapat dibawa pulang dan disimpan lebih lama,” kata Basiro kepada Kompas.com. Ini jadi pertimbangan logistik bagi mereka.

Yang menarik, Basiro juga mengutip “arahan dari pusat” untuk tetap memberikan paket makanan selama periode seperti Ramadan kemarin, dengan catatan ada kreativitas masing-masing Kepala SPPG dan ahli gizi. Arahan inilah yang mungkin jadi dasar mereka membagikan bahan mentah.

Jadi, Siapa yang Bener? Beda Persepsi Pusat dan Pelaksana Lapangan

Dari dua keterangan di atas, terlihat ada gap atau perbedaan antara pernyataan Badan Gizi Nasional (BGN) di tingkat pusat dan praktik di lapangan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Tangsel. BGN bilang belum ada kebijakan pembagian bahan mentah, sementara SPPG berdalih ada arahan dari pusat untuk tetap menyalurkan paket MBG dengan kreativitas.

Inilah inti dari “ribut-ribut” yang terjadi. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini kan intinya bertujuan meningkatkan status gizi anak-anak sekolah, terutama di jenjang PAUD, SD, dan SMP. Biasanya, makanan disajikan matang di sekolah agar anak bisa langsung makan dan asupan gizinya terjamin. Makanan matang juga meminimalkan beban orang tua dalam menyiapkan makanan tambahan.

Nah, ketika dibagikan dalam bentuk bahan mentah, beberapa isu langsung muncul:
1. Beban Orang Tua: Tidak semua orang tua punya waktu, sumber daya (kompor, gas, bumbu), atau kemampuan memasak bahan-bahan tersebut. Ini bisa jadi merepotkan, terutama bagi keluarga yang kurang mampu.
2. Potensi Tidak Terkonsumsi Anak: Bahan mentah bisa saja tidak dimasak atau digunakan untuk keperluan lain di luar konsumsi anak yang seharusnya jadi target program.
3. Jaminan Gizi: Saat disajikan matang oleh penyedia katering/dapur sekolah, komposisi gizi biasanya sudah dihitung oleh ahli gizi. Kalau diserahkan bahan mentah, belum tentu diolah menjadi menu yang seimbang gizinya.
4. Immediate Benefit: Manfaat langsung dari makanan siap santap (anak langsung kenyang dan dapat energi) tidak didapat jika harus menunggu proses memasak.

Di sisi lain, argumen SPPG soal libur sekolah dan penyimpanan lebih lama juga masuk akal dari sisi logistik dan kondisi lapangan. Memasak ribuan porsi setiap hari dan mendistribusikannya saat siswa tidak rutin datang ke sekolah tentu bukan hal mudah. Memberikan bahan pokok seperti beras mentah memang lebih tahan lama dan bisa disimpan keluarga. Ikan asin, telur puyuh, dan kacang tanah juga relatif lebih tahan dibanding sayur segar atau lauk siap saji.

Perbedaan ini mungkin muncul karena komunikasi dan panduan yang belum sepenuhnya jelas, terutama untuk situasi khusus seperti libur sekolah. BGN sedang menyiapkan juknis baru, tapi kejadian di Tangsel ini terjadi sebelum juknis itu selesai. SPPG mungkin merasa harus tetap menjalankan program berdasarkan arahan umum sebelumnya (“tetap berikan paket”) dan menafsirkannya dengan cara yang paling memungkinkan secara logistik di lapangan (“bahan mentah dan kreativitas”).

Tantangan mendistribusikan makanan selama libur memang nyata. Jadwal siswa tidak seragam, ada yang libur total, ada yang masih ada kegiatan singkat. Memberikan makanan matang berisiko basi jika tidak segera diambil atau disantap. Memberikan bahan mentah bisa jadi solusi logistik, tapi menimbulkan persoalan baru terkait pemanfaatan dan kesetaraan.

Kejadian di Tangsel ini menjadi semacam early warning bagi BGN dalam menyusun juknisnya. Aturan main untuk periode libur sekolah harus sangat detail dan mempertimbangkan berbagai skenario. Mungkin ada opsi kombinasi, seperti memberikan paket bahan pokok yang tahan lama ditambah snack atau susu siap minum. Atau mungkin ada sistem voucher yang bisa ditukarkan di warung tertentu.

Penting juga adanya panduan yang jelas tentang seperti apa bentuk “kreativitas” yang diperbolehkan. Kreativitas dalam menyajikan menu matang tentu beda dengan kreativitas dalam mengganti bentuk penyaluran dari matang menjadi mentah. Komunikasi yang efektif antara BGN dan SPPG di daerah sangat krusial agar tidak terjadi penafsiran ganda yang berujung pada kebingungan dan potensi kritik dari masyarakat.

Menimbang Manfaat dan Tantangan

Memberikan MBG dalam bentuk matang di sekolah memiliki manfaat utama yaitu memastikan anak langsung mengonsumsi makanan bergizi dengan komposisi yang sudah dihitung. Ini menghilangkan PR bagi orang tua dan menjamin kualitas gizi yang diterima anak. Tantangannya muncul saat sekolah tidak beroperasi normal, seperti saat libur. Makanan matang rentan basi dan butuh jadwal distribusi yang ketat.

Sementara itu, memberikan MBG dalam bentuk bahan mentah, seperti yang terjadi di Tangsel, punya keunggulan dari sisi logistik. Bahan pokok seperti beras bisa disimpan lebih lama, mengurangi risiko terbuang. SPPG juga mungkin merasa ini cara paling efektif untuk menjangkau ribuan siswa di 18 sekolah saat mereka tidak hadir rutin. Namun, kekurangannya jelas: memindahkan beban memasak ke orang tua dan tidak ada jaminan 100% bahwa bahan tersebut akan diolah menjadi makanan bergizi untuk anak.

Kondisi ini menunjukkan bahwa program MBG membutuhkan fleksibilitas, tetapi juga aturan yang rigid agar manfaatnya tetap sampai ke target. Terutama di masa transisi atau kondisi khusus seperti libur sekolah, panduan teknis yang sangat detail dari pusat menjadi kunci.

Melihat ke Depan: Menanti Juknis Final

Saat ini, BGN sedang finalisasi juknis pelaksanaan MBG selama libur sekolah. Kejadian di Tangsel ini bisa jadi pelajaran berharga bagi mereka. Harapannya, juknis yang akan terbit nanti bisa menjawab tantangan penyaluran saat sekolah libur dengan skema yang paling efektif dan tetap menjaga prinsip pemerataan serta keberlanjutan gizi bagi anak-anak.

Koordinasi yang lebih baik antara BGN, kementerian terkait (seperti Kemendikbudristek dan Kemenag untuk sekolah), serta SPPG di daerah juga sangat penting. Semua pihak harus punya pemahaman yang sama tentang cara kerja program, terutama dalam situasi tidak biasa. Tujuannya cuma satu: memastikan anak-anak Indonesia, penerima program MBG, tetap mendapat asupan gizi terbaik demi tumbuh kembang mereka.

Kejadian viral ini mengingatkan kita bahwa pelaksanaan program sebesar MBG, yang melibatkan jutaan anak di seluruh Indonesia, pasti punya kompleksitas di lapangan. Perbedaan pemahaman atau kurang jelasnya panduan di masa-masa tertentu bisa menimbulkan masalah.

Yuk, Ngobrol!

Gimana menurut kalian, gengs? Pembagian MBG dalam bentuk bahan mentah saat libur sekolah ini oke nggak sih? Atau justru lebih baik menunggu juknis BGN yang baru? Share pendapat kalian di kolom komentar!

Posting Komentar