Superhero Gokil Tapi Boncos! 10 Film Ini Gak Laku di Bioskop
Blue Beetle (2023)¶
Jaime Reyes hanyalah lulusan kuliah biasa yang hidupnya mendadak berubah drastis. Dia menemukan artefak alien super canggih bernama Scarab yang malah nempel permanen di punggungnya. Seketika, Jaime berubah jadi Blue Beetle, pahlawan baru dengan kostum berteknologi tinggi yang bisa muncul dari tubuhnya sendiri, lengkap dengan berbagai senjata keren. Sayangnya, kekuatan barunya ini juga menarik perhatian Victoria Kord, pengusaha jahat yang mengincar teknologi Scarab.
Film ini keren karena nunjukkin sisi lain dunia superhero, fokus ke keluarga dan komunitas Latin yang jarang banget. Penampilan Xolo Maridueña sebagai Jaime juga pas banget, ngasih vibe yang beda dari pahlawan DC kebanyakan. Ceritanya menyentuh dan aksinya seru, tapi sayangnya film ini kesulitan buat narik penonton di bioskop yang lagi rame banget sama film-film besar lainnya.
Penjualan tiket yang jauh dari harapan jadi pukulan telak buat masa depan Blue Beetle. Karakter ini belum begitu familiar buat banyak orang, beda sama Batman atau Superman. Di tengah rencana reboot DC Studios yang baru, nasib kelanjutan kisah Jaime Reyes di layar lebar masih abu-abu dan bikin cemas para penggemar.
Dredd (2012)¶
Bayangin masa depan di mana polisi punya kekuatan hakim, juri, sekaligus algojo di tempat. Itulah Judge Dredd, dan film Dredd tahun 2012 ini berhasil nangkep esensi brutal dan realistis dari komiknya. Film ini fokus pada satu misi Judge Dredd dan rekannya, Anderson, yang terjebak di gedung tinggi penuh penjahat yang dikuasai bandar narkoba kejam bernama Ma-Ma. Aksinya intens, sadis, dan nggak kompromi.
Film ini dipuji banget sama kritikus dan fans komiknya karena setia sama materi sumbernya dan punya gaya visual yang kuat, terutama efek slow-motion unik yang nunjukkin dampak obat-obatan baru. Karl Urban juga totalitas banget meranin Dredd, yang cuma nunjukkin separuh wajahnya sepanjang film. Dredd ngasih vibe film aksi sci-fi yang gritty dan nggak pasaran.
Sayangnya, meski disukai banyak orang yang udah nonton, Dredd gagal di box office. Pemasarannya kurang kuat, dan mungkin kurang menarik perhatian penonton umum yang nggak familiar sama karakternya. Budget produksinya lumayan besar, bikin film ini butuh pendapatan signifikan buat balik modal, sesuatu yang tidak terjadi. Statusnya kini jadi film cult classic yang terus menerus diharapkan sekuelnya, tapi peluangnya kecil banget.
Watchmen (2009)¶
Film Watchmen garapan Zack Snyder ini coba ngangkat salah satu novel grafis paling kompleks dan berpengaruh ke layar lebar. Ceritanya berlatar di realitas alternatif tahun 1985, di mana sekelompok pahlawan super (tapi kebanyakan tanpa kekuatan super) yang sudah pensiun harus menyelidiki pembunuhan salah satu dari mereka. Film ini nggak cuma nunjukkin aksi, tapi juga dalam banget ngulik psikologi para karakter dan mengkritisi konsep pahlawan super itu sendiri.
Snyder berhasil nyiptain visual yang mirip banget sama komiknya, adegan aksinya juga keren dan stylized. Para aktornya juga pas meranin karakter-karakter ikonik kayak Rorschach, Dr. Manhattan, atau The Comedian. Film ini berani buat tetep gelap dan nggak simplifikasi ceritanya, yang beda banget dari film superhero kebanyakan saat itu.
Watchmen punya budget yang gede banget buat produksi dan pemasaran. Meski dapet apresiasi dari kritikus tertentu dan fans fanatik komiknya, film ini nggak sukses secara finansial di box office. Durasi yang panjang dan ceritanya yang berat mungkin bikin penonton umum mikir dua kali. Film ini jadi contoh gimana setia sama sumber materi nggak selalu jamin sukses komersial, terutama buat cerita yang sulit dicerna massal.
Hellboy II: The Golden Army (2008)¶
Sekuel dari film Hellboy pertama ini disutradarai lagi sama Guillermo del Toro, yang terkenal sama visual fantastis dan makhluk-makhluk unik. Di film ini, Hellboy dan timnya dari B.P.R.D (Biro Penelitian dan Pertahanan Paranormal) harus ngadepin Nuada, pangeran elf dari dunia lain yang bertekad ngebangkitin pasukan mekanik kuno yang nggak bisa dihentikan: The Golden Army. Film ini penuh sama makhluk-makhluk ajaib, desain produksi yang wah, dan humor yang pas.
Del Toro nggak main-main soal visual. Setiap monster atau makhluk di film ini dibuat dengan detail yang luar biasa, ngasih pengalaman sinematik yang beda. Karakter-karakternya juga makin berkembang dan chemistry antar pemainnya makin kerasa. Hellboy II adalah film superhero yang berani tampil aneh dan fantastis, jauh dari formula mainstream.
Meski dipuji kritikus dan disukai fans film fantasi dan superhero, Hellboy II: The Golden Army kurang sukses di box office Amerika Utara dibanding film pertamanya. Pendapatan globalnya lumayan, tapi belum cukup buat nutup budget dan biaya pemasaran yang tinggi, apalagi buat bikin lanjutan yang diharapkan del Toro. Film ini jadi bukti kalau kualitas dan keunikan nggak selalu berbanding lurus sama keuntungan komersial besar.
Kick-Ass (2010)¶
Apa jadinya kalau orang biasa yang nggak punya kekuatan sama sekali nekat jadi pahlawan super? Itulah premis gokil dari Kick-Ass. Dave Lizewski, seorang remaja culun, memutuskan pake kostum dan beraksi melawan kejahatan, meskipun dia cuma modal nekat dan nggak punya skill apa-apa. Tapi petualangannya malah ngebawa dia ketemu superhero sungguhan yang nggak kalah gila kayak Hit-Girl dan Big Daddy. Film ini gelap, lucu, dan penuh adegan aksi brutal yang nggak terduga.
Film ini berani nampilin sisi realistis (atau setidaknya, lebih realistis) dari jadi pahlawan super. Adegan action yang melibatkan Hit-Girl (yang masih anak-anak tapi mematikan) menuai perdebatan tapi jelas nggak bisa dilupain. Gaya visualnya nyentrik dan humornya pas buat yang suka komedi hitam. Kick-Ass adalah film superhero yang anti-mainstream dan segar.
Sayangnya, sifatnya yang kontroversial dan kekerasan yang ekstrem mungkin membatasi jangkauan penontonnya. Kick-Ass nggak meledak di box office, meskipun budgetnya nggak terlalu besar. Film ini lebih sukses jadi fenomena kultural dan dapet penonton setia lewat home video. Kegagalannya di bioskop bikin sekuelnya dibuat dengan budget lebih kecil dan hasilnya juga nggak sesukses yang diharapkan.
Mystery Men (1999)¶
Jauh sebelum film superhero mendominasi Hollywood, ada Mystery Men, sebuah komedi superhero yang unik dan kocak. Film ini nyeritain sekelompok pahlawan super level dua (atau bahkan level sepuluh!) yang nggak punya kekuatan spektakuler tapi nekat mau menyelamatkan pahlawan super sungguhan bernama Captain Amazing dari penjahat nyeleneh bernama Casanova Frankenstein. Ada Mr. Furious yang cuma kuat kalau marah, The Shoveler yang andal pake sekop, dan lain-lain.
Film ini dipenuhi aktor-aktor komedi papan atas yang cocok banget sama karakter-karakter aneh mereka. Humornya absurd dan gak terduga, ngolok-olok klise-klise film superhero jauh sebelum genre ini sepopuler sekarang. Desain kostum dan markas mereka jelas bukan yang high-tech, justru kelihatan murahan tapi kreatif, nambah kesan konyol filmnya. Mystery Men adalah film superhero yang berani beda dan lucu banget.
Namun, pada saat dirilis, genre superhero belum sebesar sekarang, dan humornya yang aneh mungkin nggak nyambung sama selera penonton umum. Mystery Men gagal total di box office, jadi salah satu flop paling kentara di akhir 90-an. Film ini baru dapet apresiasi belakangan dan dianggap sebagai komedi superhero underrated yang patut ditonton sampai sekarang.
Birds of Prey (2020)¶
Setelah putus dari Joker, Harley Quinn memutuskan buat hidup mandiri dan bikin ulah sendiri di Gotham City. Film Birds of Prey ini nyeritain petualangannya yang semrawut saat dia terlibat masalah sama gembong kriminal kejam bernama Black Mask. Akhirnya, dia gabung sama superhero dan anti-hero wanita lainnya seperti Huntress, Black Canary, dan Renee Montoya buat ngadepin musuh bersama. Film ini penuh warna, gaya, dan aksi yang cepet.
Film ini menonjol berkat gaya visual yang unik dan enerjik, mirip sama kepribadian Harley Quinn yang liar. Margot Robbie kembali memukau meranin Harley, jadi pusat perhatian yang menarik. Film ini juga berani ngasih panggung buat karakter-karakter wanita DC yang kuat. Adegan action-nya dikoreografi dengan baik dan menyenangkan buat ditonton.
Meski dapet review yang cukup bagus dari kritikus dan dicintai beberapa fans, Birds of Prey nggak berhasil mencetak angka box office yang fantastis. Pendapatannya dianggap kurang memuaskan dibanding budgetnya yang lumayan. Rilisnya diikuti pandemi, yang mungkin ikut berpengaruh negatif. Film ini dianggap di bawah ekspektasi finansial buat film sekelas ini dan nggak sekuel langsung yang jelas sampai sekarang.
The Suicide Squad (2021)¶
James Gunn dikasih kebebasan total buat nge-reboot tim penjahat super yang dipaksa kerja buat pemerintah ini. Hasilnya? Film yang lebih gila, lebih brutal, lebih lucu, dan lebih berdarah. Amanda Waller ngirim tim baru (campuran karakter lama dan superaneh kayak Polka-Dot Man atau King Shark) ke sebuah pulau terpencil buat menghancurkan sebuah proyek rahasia. Film ini penuh kejutan, karakter yang nggak terduga, dan aksi yang nggak ada remnya.
The Suicide Squad dipuji banget sama kritikus karena visinya yang kuat, skenarionya yang pintar dan lucu, serta penggunaan adegan kekerasan yang nyeleneh tapi stylish. James Gunn sukses ngasih nyawa buat karakter-karakter antagonis yang nggak terkenal. Film ini beda banget dari film superhero biasa dan menawarkan sesuatu yang segar.
Namun, film ini dirilis pas lagi puncak-puncaknya pandemi COVID-19 dan juga tayang bareng di layanan streaming (HBO Max). Kombinasi faktor ini bikin The Suicide Squad nggak bisa mendulang keuntungan box office yang besar seperti yang diharapkan seharusnya film sekelas ini. Meskipun dianggap sukses secara kritik dan menambah basis fans James Gunn, finansialnya kurang memuaskan.
Shazam! Fury of the Gods (2023)¶
Billy Batson dan keluarga angkatnya yang juga jadi superhero kembali buat ngelawan ancaman baru: para Daughter of Atlas. Mereka adalah dewa-dewi kuno yang marah dan datang ke Bumi buat ngambil kembali kekuatan yang dicuri dari ayah mereka oleh penyihir Shazam. Film ini masih ngasih campuran aksi superhero seru sama komedi yang ngena, plus nuansa keluarga yang kuat.
Shazam! Fury of the Gods tetap menawarkan hiburan yang ringan dan menyenangkan, cocok buat penonton keluarga. Chemistry antar anggota keluarga superhero masih jadi nilai jual utama film ini. Ada makhluk-makhluk mitologi yang unik dan adegan pertarungan yang lumayan spektakuler. Film ini coba ngembangin mitologi Shazam lebih jauh.
Sayangnya, film ini mengalami kegagalan besar di box office. Pendapatannya jauh di bawah film pertamanya dan tidak bisa menutupi biaya produksi dan pemasaran yang tinggi. Banyak faktor yang disalahkan, mulai dari persaingan yang ketat, minimnya antusiasme publik, sampai ketidakjelasan arah DC Universe secara keseluruhan. Film ini jadi contoh lain gimana sekuel dari film yang disukai pun bisa flop kalau momentumnya nggak pas.
The Flash (2023)¶
Barry Allen, alias The Flash, punya kemampuan buat lari lebih cepat dari kecepatan cahaya. Di film solonya ini, dia memanfaatkan kekuatan itu buat pergi ke masa lalu demi nyelamatin ibunya yang meninggal. Tapi tindakannya ini malah ngerusak garis waktu dan nyiptain realitas alternatif yang kacau balau. Film ini ngasih banyak momen nostalgia dan kembalinya Batman versi Michael Keaton yang ikonik.
The Flash dipuji karena konsep multiverse yang menarik dan penggunaan karakter-karakter lama yang ngasih fanservice berkesan. Adegan action yang melibatkan kecepatan super dirancang dengan kreatif. Film ini coba ngasih campuran drama pribadi Barry sama petualangan skala besar lintas semesta.
Namun, di balik hype dan review awal yang lumayan, The Flash jadi salah satu flop terbesar dalam sejarah film superhero. Film ini menghabiskan biaya yang sangat besar, tapi pendapatannya di box office jauh di bawah ekspektasi. Masalah di balik layar yang melibatkan pemeran utamanya, strategi promosi yang kurang kuat, dan mungkin kelelahan penonton terhadap genre ini disinyalir jadi penyebab. Film ini jadi pelajaran mahal buat studio.
Constantine (2005)¶
John Constantine bukan pahlawan super biasa. Dia adalah detektif paranormal yang merokok berat, sinis, dan bisa lihat makhluk-makhluk setengah malaikat dan setengah iblis yang berkeliaran di Bumi. Di film ini, dia terlibat dalam kasus yang ngancam batas antara neraka dan surga, sambil berjuang melawan kanker terminal yang dideritanya. Film ini punya atmosfer yang gelap, visual yang suram, dan campuran aksi supernatural yang keren.
Meskipun banyak perbedaan dari versi komiknya yang ikonik (terutama soal asal karakter), Keanu Reeves sukses ngasih penampilan yang kuat sebagai Constantine. Visual dunianya yang kelam dan penuh simbolisme religius jadi nilai tambah. Film ini berani mengeksplorasi tema-tema berat kayak iman, takdir, dan pengampunan dalam bungkusan film aksi fantasi.
Constantine mendapat review yang campur aduk saat dirilis dan tidak berhasil menjadi super hit di box office secara global. Pendapatannya cukup moderat, tidak cukup untuk menjamin dibuatnya sekuel dengan segera. Meskipun begitu, film ini mengembangkan basis penggemar setia selama bertahun-tahun dan kini dianggap sebagai adaptasi komik yang cukup baik dan patut diperhitungkan.
Gimana nih menurut kalian? Ada film superhero gokil tapi boncos lainnya yang ketinggalan di daftar ini? Cerita dong di kolom komentar!
Posting Komentar