Gara-Gara Henry Cavill, James Gunn Ogah Garap Superman? Ini Alasannya!

Table of Contents

Henry Cavill Superman Man of Steel poster

Siapa sangka, takdir sutradara ternama James Gunn dengan karakter ikonik Superman ternyata punya cerita berliku. Sebelum akhirnya didapuk jadi bos besar DC Studios bareng Peter Safran dan menggarap film Superman terbaru, Gunn pernah menolak kesempatan emas ini jauh sebelum itu. Kejadiannya sekitar tahun 2018, momen yang cukup chaos di dunia DC Extended Universe (DCEU).

Menurut cerita James Gunn sendiri, tawaran itu datang tiba-tiba dari pihak Warner Bros dan eksekutif DC. Mereka ingin Gunn menggarap film Superman, tapi ada satu masalah besar yang menyertai tawaran tersebut. Masalah itu bukan soal cerita atau bujet, melainkan terkait sosok pemeran Man of Steel saat itu, yaitu Henry Cavill.

Situasinya rumit. Warner Bros punya keinginan kuat untuk mengganti Henry Cavill sebagai Superman, dan mereka ingin James Gunn yang memegang kendali dalam proses penting itu, termasuk mencari aktor penggantinya. Tugas casting inilah yang ternyata membuat Gunn merasa terbebani dan ragu.

Beban Casting dan Situasi Kacau di Balik Layar

Gunn blak-blakan mengakui bahwa tugas memilih aktor baru untuk peran sebesar Superman, apalagi menggantikan aktor yang sudah dikenal publik seperti Henry Cavill, terasa sangat berat. Dia menyebutnya “dihantui oleh tugas (casting)”. Ada ketidakpastian dan keraguan dalam dirinya saat itu tentang bagaimana cara melakukannya dengan benar.

Selain beban casting, kondisi di internal Warner Bros dan DC Films saat itu memang sedang tidak stabil. Ada banyak headline negatif, ketidakjelasan arah semesta, dan tensi tinggi di balik layar pasca-rilis film Justice League (2017). Semua itu membuat suasana terasa “kacau banget” menurut Gunn.

Dia memilih untuk tidak terlalu masuk ke detail ketegangan yang terjadi saat itu, tapi jelas situasinya jauh dari ideal untuk memulai proyek sebesar film Superman dengan mulus. Ditambah lagi, ada isu-isu seputar masa depan DCEU secara keseluruhan yang masih abu-abu.

Kenapa Memilih The Suicide Squad?

Melihat kondisi yang tidak kondusif dan tugas berat yang menanti, James Gunn akhirnya memutuskan menolak tawaran Superman di tahun 2018 itu. Sebagai gantinya, dia memilih untuk menggarap film lain yang terasa lebih familiar dan cocok dengan gaya serta energinya: The Suicide Squad.

Film The Suicide Squad (2021) memang terasa lebih “Gunn banget”. Gayanya yang nyeleneh, penuh humor gelap, karakter-karakter anti-hero yang unik, dan kebebasan kreatif dalam mengeksplorasi kekerasan dan plot yang tak terduga, sangat sesuai dengan signature Gunn yang sebelumnya sukses besar lewat Guardians of the Galaxy di Marvel.

Gunn merasa The Suicide Squad adalah pilihan yang lebih menyenangkan dan pas untuknya di momen itu. Dibandingkan harus berhadapan dengan drama di balik layar dan beban casting Superman, menggarap tim villain super dengan rating dewasa jelas terasa lebih ringan dan membebaskan secara kreatif. Ini membuktikan bahwa pilihan proyek film bagi seorang sutradara tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya karakter, tapi juga kondisi dan tantangan di baliknya.

Warner Bros yang Ingin Segera Move On

Memang benar, di sekitar tahun 2018, Warner Bros dikabarkan sudah merasa gemas dan ingin segera “move on” dari era Henry Cavill sebagai Superman. Meskipun Cavill sudah muncul di tiga film (Man of Steel, Batman v Superman, Justice League), penerimaan kritik dan performa box office film-film tersebut di bawah ekspektasi studio. Terutama setelah Justice League yang mengalami masalah produksi parah dan reshoot besar-besaran.

Keinginan studio untuk mengganti Cavill sangat kuat. Salah satu langkah yang sempat mereka ambil untuk memuluskan niat ini adalah dengan mengembangkan film Supergirl. Film Supergirl ini direncanakan berlatar masa remaja, sehingga tidak ada celah logis bagi Superman dewasa yang diperankan Cavill untuk muncul sebagai cameo. Ini semacam cara halus untuk menggeser fokus dan menyiapkan publik untuk ketiadaan Cavill.

Sumber dari The Hollywood Reporter saat itu juga mengutip pernyataan internal studio yang membandingkan Superman dengan karakter ikonik lainnya seperti James Bond. Analogi ini menyiratkan bahwa Superman adalah karakter yang lebih besar dari aktornya, dan cepat atau lambat, studio harus mencari aktor baru untuk terus menghidupkan karakternya di layar lebar, seperti halnya pergantian aktor James Bond dari waktu ke waktu. Ini menunjukkan bahwa pergantian pemeran memang sudah ada dalam agenda studio saat itu.

Meskipun ada keinginan kuat untuk mengganti aktor, juru bicara Warner Bros saat itu sempat memberikan pernyataan yang terdengar diplomatis. Mereka menyatakan bahwa “Meski belum ada keputusan apa pun tentang film-film Superman di masa mendatang, kami selalu menaruh hormat dan berhubungan baik dengan Henry Cavill. Itu tidak akan berubah.” Pernyataan ini mungkin dimaksudkan untuk meredam spekulasi, tapi di balik itu, rencana pergantian sudah matang.

Mengapa Casting Superman Begitu Berat?

Pernyataan James Gunn bahwa tugas casting Superman “menghantuinya” pada tahun 2018 menarik untuk dibahas lebih lanjut. Mengganti aktor untuk peran sebesar Superman memang bukan perkara mudah. Superman adalah simbol harapan, kebenaran, dan keadilan. Dia adalah salah satu karakter superhero paling ikonik dan dicintai di seluruh dunia, dengan sejarah panjang di komik, televisi, dan film.

Memilih aktor yang tepat membutuhkan pertimbangan yang luar biasa banyak. Sang aktor harus memiliki fisik yang meyakinkan, aura yang kuat namun lembut, kemampuan akting untuk menghidupkan dua sisi Clark Kent/Superman, dan yang paling penting, kharisma yang bisa meyakinkan penonton bahwa dialah pahlawan yang dibutuhkan dunia.

Pada tahun 2018, tugas itu bahkan lebih berat karena Henry Cavill, terlepas dari kritik terhadap filmnya, sudah dicintai oleh banyak penggemar sebagai Superman. Menggantinya berarti harus menghadapi potensi reaksi negatif dari basis penggemar setia. Ada tekanan besar untuk menemukan seseorang yang tidak hanya bisa memerankan Superman, tapi juga bisa menggantikan Henry Cavill di hati banyak orang.

Ini berbeda situasinya dengan, misalnya, merekrut aktor baru untuk karakter yang belum punya versi film ikonik, atau mengganti aktor setelah jeda waktu yang sangat panjang. Mengganti Cavill saat itu, di tengah kekacauan DCEU dan perdebatan sengit antar penggemar SnyderVerse dan non-SnyderVerse, adalah misi yang sangat sensitif dan berisiko. Mungkin ini yang membuat James Gunn merasa terbebani dan lebih memilih menghindar.

Jalan Berputar Menuju DCU yang Baru

Menariknya, penolakan James Gunn di tahun 2018 ini justru membawanya ke jalur yang berbeda sebelum akhirnya kembali ke Superman, bahkan dengan peran yang lebih besar. Setelah sukses dengan The Suicide Squad, Gunn juga menggarap serial Peacemaker yang sangat disukai kritikus dan penonton. Keberhasilan ini tampaknya meyakinkan Warner Bros (atau lebih tepatnya, Warner Bros. Discovery setelah merger) bahwa Gunn adalah sosok yang tepat untuk memimpin semesta DC yang baru.

Pada akhir 2022, James Gunn bersama produser Peter Safran resmi ditunjuk sebagai Co-CEO DC Studios, menggantikan Walter Hamada yang sebelumnya memimpin DC Films. Tugas mereka adalah membangun semesta DC yang terpadu dan koheren, yang kini dikenal sebagai DC Universe (DCU).

Salah satu pengumuman terbesar dari Gunn dan Safran adalah bahwa film Superman akan menjadi fondasi pertama DCU yang baru. Dan yang paling penting, film ini akan menampilkan Superman yang lebih muda, bukan Henry Cavill. Ini secara efektif mengkonfirmasi apa yang sudah direncanakan Warner Bros sejak 2018.

Ironisnya, James Gunn yang awalnya menolak tawaran casting Superman di 2018, kini justru memegang kendali penuh atas casting Superman yang baru untuk DCU-nya. Dia memimpin pencarian aktor yang akhirnya jatuh pada David Corenswet, aktor yang dianggap banyak orang memiliki kemiripan fisik dengan Cavill namun akan memerankan versi karakter yang berbeda.

Keputusan Warner Bros pada 2018 untuk ingin mengganti Henry Cavill, situasi kacau yang terjadi di balik layar DC saat itu, dan penolakan James Gunn karena beban casting, semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang karakter Superman di layar lebar. Ini menunjukkan betapa kompleksnya proses di balik pembuatan film-film blockbuster, apalagi yang melibatkan karakter dengan legacy sebesar Superman.

Era Henry Cavill sebagai Superman memang berakhir dengan kontroversi dan kekecewaan bagi sebagian penggemar. Namun, kisah ini juga membuka jalan bagi James Gunn untuk akhirnya mengambil peran sentral dalam membentuk masa depan seluruh semesta DC. Pengalaman di tahun 2018 mungkin memberinya pelajaran berharga dan perspektif yang berbeda saat dia kini harus membuat keputusan casting krusial, bukan hanya untuk Superman, tapi untuk seluruh karakter DCU.

Pada akhirnya, “takdir” James Gunn dengan Superman memang terwujud, hanya saja melalui jalan yang memutar dan di bawah kondisi yang sangat berbeda. Dari sekadar sutradara yang ditawari menggarap film dengan masalah casting, kini dia adalah arsitek utama yang membangun semesta DC dari nol, dimulai dengan film yang menampilkan Superman versi barunya.

Bagaimana pendapat kalian tentang cerita James Gunn menolak tawaran Superman di tahun 2018 karena beban casting Henry Cavill? Apakah kalian setuju dengan langkah Warner Bros saat itu? Yuk, kita diskusikan di kolom komentar!

Posting Komentar