Rojali Jadi Indikator Ekonomi Lesu? Ini Kata Pedas Kemendag!

Table of Contents

Jakarta, CNN Indonesia – Pernah dengar istilah “Rojali”? Pasti sering banget ya. Itu lho, singkatan dari “rombongan jarang beli” di pusat perbelanjaan. Fenomena ini belakangan sering banget jadi perbincangan, seolah-olah jadi sinyal kalau daya beli masyarakat kita lagi lesu-lesunya. Tapi, tunggu dulu! Kementerian Perdagangan (Kemendag) punya pandangan yang beda banget soal ini. Mereka bahkan membantah keras anggapan kalau Rojali adalah bukti daya beli menurun.

Menurut Kemendag, fenomena Rojali ini lebih tepat disebut sebagai bagian dari pergeseran pola konsumsi masyarakat yang semakin adaptif. Kita tahu kan, era digital ini bikin banyak hal berubah. Cara kita belanja pun ikutan berubah. Jadi, jangan buru-buru menyimpulkan daya beli melemah hanya dari orang yang cuma jalan-jalan di mal, ya!

Rojali Indikator Ekonomi Lesu Kemendag

Bukan Daya Beli yang Turun, Tapi Pola Konsumsi Berubah!

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen PDN) Kemendag, Bapak Iqbal Shoffan Shofwan, menegaskan kalau data bicara lain. Beliau bilang, daya beli masyarakat Indonesia justru menunjukkan peningkatan. “Daya beli itu kan ada peningkatan 1,9 persen year on year. Kalau dari data itu ya, artinya seharusnya daya beli kita enggak terganggu. Jadi saya bisa berargumen berdasarkan data itu saja. Ada peningkatan kan, berarti kita enggak bisa mengatakan itu jadi penurunan,” jelas Bapak Iqbal saat ditemui di kantor Kemendag, Jakarta Pusat, belum lama ini. Angka 1,9 persen ini bukan angka kecil lho, artinya ada pertumbuhan daya beli, bukan sebaliknya.

Peningkatan daya beli ini menunjukkan fondasi ekonomi kita sebetulnya cukup solid. Artinya, masyarakat punya kemampuan untuk membeli barang dan jasa. Isu utamanya bukan pada ketiadaan uang, melainkan bagaimana dan di mana uang itu dibelanjakan. Fenomena Rojali yang ramai dibicarakan ini, menurut Kemendag, adalah cerminan dari adaptasi konsumen terhadap beragam channel belanja yang kini tersedia.

Dulu, mal adalah satu-satunya tujuan utama untuk berbelanja. Tapi sekarang? Dengan menjamurnya e-commerce, marketplace online, dan bahkan fitur live shopping di media sosial, opsi belanja jadi jauh lebih bervariasi. Konsumen jadi punya pilihan untuk membandingkan harga, mencari diskon, atau sekadar melihat-lihat produk secara langsung di toko fisik sebelum memutuskan untuk membeli secara online demi kenyamanan atau penawaran yang lebih baik.

Mal Bukan Cuma Tempat Belanja

Bapak Iqbal juga menambahkan bahwa perubahan perilaku konsumen ini membuat mal kini tak lagi semata-mata menjadi tempat untuk berbelanja. Fungsi mal telah berkembang menjadi ruang publik, tempat bersosialisasi, bahkan pusat rekreasi bagi banyak orang. Jadi, wajar saja kalau banyak pengunjung yang datang hanya untuk window shopping, menikmati suasana, mencari hiburan, atau sekadar bertemu teman.

Ini adalah pergeseran yang sangat signifikan dalam fungsi pusat perbelanjaan modern. Dari sekadar “pusat perdagangan”, mal kini bertransformasi menjadi “pusat pengalaman”. Ada yang datang untuk makan di restoran favorit, menonton film, bermain di area arcade, atau bahkan hanya sekadar mencari udara sejuk dan WiFi gratis. Tentu saja, aktivitas-aktivitas ini tidak selalu berujung pada pembelian barang fisik dari toko-toko retail.

Fungsi mal sebagai destinasi rekreatif ini juga mendorong para pelaku usaha untuk berpikir ulang. Mereka harus beradaptasi dengan kenyataan bahwa tidak semua pengunjung akan menjadi pembeli langsung di toko fisik mereka. Ini memicu inovasi dan strategi baru agar bisnis tetap berjalan lancar di tengah perubahan lanskap belanja.

Strategi Omnichannel: Kunci Sukses di Era Digital

Perubahan perilaku konsumen ini, kata Bapak Iqbal, mendorong pelaku usaha untuk mengadopsi strategi omnichannel. Istilah omnichannel ini mungkin terdengar rumit, tapi sederhananya adalah menjual barang tidak hanya melalui toko fisik, tetapi juga secara daring melalui berbagai platform. Misalnya, dari toko di mal, mereka juga berjualan di TikTok Shop, Tokopedia, Shopee, atau bahkan punya situs web sendiri.

Strategi ini memungkinkan konsumen untuk berinteraksi dengan merek di berbagai titik sentuh, baik online maupun offline, secara mulus. Contohnya, mereka bisa melihat baju di mal, lalu membelinya secara online di rumah untuk mendapatkan diskon, atau sebaliknya. Bahkan, banyak juga yang datang ke toko fisik hanya untuk mencoba ukuran atau melihat kualitas barang secara langsung, lalu memutuskan untuk membeli lewat aplikasi karena lebih praktis atau ada promo eksklusif online.

Mengapa Omnichannel Penting?

  • Jangkauan Lebih Luas: Tidak hanya terbatas pada pengunjung mal, tapi juga ke seluruh pengguna internet.
  • Fleksibilitas Konsumen: Memberikan pilihan cara belanja yang sesuai dengan preferensi masing-masing.
  • Data dan Analisis: Memungkinkan pedagang mengumpulkan data perilaku konsumen dari berbagai channel untuk strategi pemasaran yang lebih tepat.
  • Efisiensi Stok: Pengelolaan stok bisa lebih terintegrasi antara toko fisik dan online.

Bapak Iqbal bahkan menjelaskan, Kemendag sudah mengonfirmasi langsung ke pusat-pusat perbelanjaan seperti Thamrin City dan ITC Mangga Dua. Kedua tempat ini, yang dikenal sebagai pusat grosir dan belanja masyarakat, juga mengalami transformasi konsep dan penataan ruang untuk meningkatkan traffic. Ternyata, di Thamrin City, sekitar 60-70 persen pedagang sudah menerapkan sistem penjualan omnichannel. Dan yang paling penting, transaksi mereka tetap berjalan normal, meski kunjungan fisik tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau masalah traffic itu bukan yang enggak penting ya, tapi bukan menjadi perhatian utama. Yang utama adalah transaksinya jalan atau tidak. Dan itu kita konfirmasi langsung ke pedagang maupun jasa ekspedisi di lokasi,” ujar Iqbal. Ini menunjukkan bahwa fokus utama bukan lagi sekadar jumlah orang yang masuk mal, melainkan berapa banyak transaksi yang berhasil dibukukan, dari mana pun asalnya.

mermaid graph TD A[Perubahan Perilaku Konsumen] --> B{Fungsi Mal Bergeser?}; B -- Ya, Jadi --> C[Pusat Rekreasi & Interaksi Sosial]; B -- Ya, Juga --> D[Platform Belanja "Showroom"]; C --> E[Pengunjung "Rojali" Meningkat]; D --> F[Pembelian Bergeser ke Online/Omnichannel]; E -- Bukan Indikator --> G[Daya Beli Menurun]; F -- Justru Indikator --> H[Adaptasi Bisnis & Konsumen]; style G fill:#f9f,stroke:#333,stroke-width:2px;
Diagram di atas menunjukkan bagaimana pergeseran perilaku konsumen tidak serta-merta berarti daya beli menurun, melainkan adaptasi terhadap cara berbelanja modern.

Transformasi mal ini tak hanya terjadi di pusat perbelanjaan mewah macam Grand Indonesia atau Senayan City. Bahkan strata mal seperti ITC pun mulai berbenah. Mereka kini menyediakan area makan, tempat hiburan, dan fasilitas lain untuk mendorong kunjungan dan pada akhirnya, konsumsi. Ini adalah bukti bahwa industri ritel fisik terus berinovasi untuk tetap relevan di tengah gempuran digital.

Fokus Kemendag: Ekosistem Pedagang dan UMKM

Sebagai regulator, Kemendag tidak hanya melihat dari sisi angka penjualan saja. Menurut Bapak Iqbal, fokus utama mereka adalah pada hubungan antara pedagang dan pengelola pusat belanja, serta bagaimana pelibatan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di ritel modern. Ini penting untuk memastikan ekosistem perdagangan di Indonesia tetap sehat dan inklusif.

“Kalau dari aspek bisnisnya, ya biarkan bisnis itu mencari tempatnya masing-masing. Karena ini bisnis,” tegasnya. Pendekatan Kemendag ini menunjukkan bahwa mereka memahami dinamika pasar dan membiarkan mekanisme pasar berjalan, sambil tetap mengawasi agar tidak terjadi praktik-praktik yang merugikan. Mereka lebih ingin memastikan ada keadilan dalam bermitra dan UMKM punya kesempatan yang sama.

Tentu saja, Kemendag juga tidak menampik bahwa fenomena nongkrong tanpa belanja bisa memberikan dampak tertentu pada kinerja penjualan toko fisik. Namun, sekali lagi, mereka menegaskan bahwa ini tidak bisa dijadikan kesimpulan tunggal bahwa daya beli masyarakat menurun secara keseluruhan.

“Indeks Penjualan Riil (IPR) kita di Mei 2025 tumbuh 1,9 persen yoy, dan Juni diperkirakan tumbuh lagi 2 persen. Jadi kondisi perekonomian kita membaik,” ucap Bapak Iqbal. Angka IPR ini adalah salah satu indikator penting yang digunakan pemerintah untuk mengukur daya beli. Pertumbuhan yang konsisten ini menjadi dasar argumen Kemendag.

Pandangan Berbeda dari APPBI: Rojali Tanda Daya Beli Melemah?

Meskipun Kemendag punya argumen kuat berdasarkan data makro, ada pihak lain yang punya pandangan berbeda. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Bapak Alphonsus Widjaja, justru menyebut fenomena Rojali ini mencuat kembali tahun ini karena adanya penurunan daya beli. Terutama, kata beliau, di kalangan kelas menengah ke bawah.

Bapak Alphonsus mengakui bahwa jumlah pengunjung mal memang naik sekitar 10 persen dibanding tahun lalu. Namun, peningkatan ini belum mencapai target yang diharapkan dan, yang lebih penting, tidak disertai dengan lonjakan omzet penjualan. Ini berarti, banyak orang yang datang, tapi sedikit yang benar-benar berbelanja dalam jumlah signifikan.

“Kan daya belinya berkurang, uang yang dipegang semakin sedikit, tetapi mereka tetap datang ke pusat perbelanjaan,” ujar Alphonsus saat ditemui di Pusat Grosir Cililitan, Jakarta Timur. Ia menjelaskan, sekitar 95 persen pengunjung mal berasal dari kelompok menengah ke bawah yang memang paling terdampak oleh pengetatan anggaran rumah tangga dan kenaikan harga kebutuhan pokok. Bayangkan saja, dengan inflasi dan kebutuhan yang terus meningkat, pengeluaran prioritas jadi lebih besar, membuat uang belanja untuk kebutuhan sekunder jadi lebih terbatas.

Tabel Perbandingan Sudut Pandang Fenomena Rojali

Aspek Kemendag (Iqbal Shoffan Shofwan) APPBI (Alphonsus Widjaja)
Penyebab Rojali Perubahan pola konsumsi, adaptasi terhadap model bisnis digital, mal sebagai ruang publik/rekreasi. Penurunan daya beli, khususnya kelas menengah ke bawah; pengetatan anggaran rumah tangga.
Indikator Ekonomi Daya beli meningkat (IPR tumbuh 1.9-2% yoy); transaksi jalan meski traffic berbeda. Pengunjung mal naik tapi omzet stagnan; mayoritas pengunjung dari menengah bawah.
Fokus Utama Transformasi bisnis (omnichannel), kelancaran transaksi, peran UMKM, hubungan pedagang-pengelola. Omzet tenant pusat perbelanjaan, dampak langsung pada pendapatan ritel fisik.
Proyeksi Optimis dengan pertumbuhan daya beli dan adaptasi pasar. Pertumbuhan pendapatan pusat perbelanjaan tipis (satu digit) di 2025.

Di sisi lain, Bapak Alphonsus juga menyoroti fenomena menarik: masyarakat berpenghasilan tinggi justru cenderung berbelanja ke luar negeri. Alasannya? Keterbatasan pasokan barang bermerek atau branded goods di dalam negeri. Ini menunjukkan adanya gap antara keinginan konsumen berpenghasilan tinggi dengan ketersediaan produk di pasar lokal.

APPBI memperkirakan pendapatan pusat perbelanjaan masih akan tumbuh di sepanjang tahun 2025, namun pertumbuhannya tipis, hanya di angka satu digit. Ini jauh dari harapan dan menunjukkan bahwa industri ritel fisik masih menghadapi tantangan serius untuk meningkatkan pendapatan secara signifikan. Pertumbuhan satu digit ini menggambarkan kondisi yang slow and steady, tidak ada lonjakan yang berarti.

Jadi, Mana yang Benar?

Melihat dua sudut pandang ini, kita bisa simpulkan bahwa kedua belah pihak punya argumen kuat dari kacamata masing-masing. Kemendag melihat gambaran besar ekonomi makro, dengan data Indeks Penjualan Riil (IPR) yang menunjukkan peningkatan daya beli secara nasional. Sementara itu, APPBI, sebagai perwakilan pengelola mal, lebih melihat pada realitas di lapangan dan data transaksi ritel di dalam mal yang stagnan.

Mungkin, kebenaran ada di tengah-tengah. Daya beli masyarakat secara keseluruhan mungkin memang meningkat, seperti yang ditunjukkan oleh IPR. Namun, peningkatan ini bisa jadi tidak merata atau didistribusikan ke channel belanja yang berbeda. Masyarakat memang punya uang, tapi mereka sekarang punya pilihan yang jauh lebih banyak untuk membelanjakannya, termasuk belanja online atau mencari pengalaman di luar belanja fisik.

Fenomena Rojali ini sebenarnya adalah wake-up call bagi pelaku usaha ritel. Mereka tidak bisa lagi hanya mengandalkan penjualan di toko fisik. Inovasi, adaptasi terhadap teknologi, dan menciptakan pengalaman belanja yang unik dan menarik, menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang ketat.

Masa Depan Ritel Indonesia

Bagaimana masa depan ritel di Indonesia? Pastinya akan semakin dinamis. Kolaborasi antara ritel offline dan online (omnichannel) akan menjadi norma. Pusat perbelanjaan mungkin akan terus bertransformasi menjadi experience hub yang menawarkan lebih dari sekadar barang dagangan, seperti area co-working, pusat kesehatan, atau bahkan studio kreatif.

Penting juga bagi pemerintah dan asosiasi untuk terus berdialog dan mencari solusi bersama. Memahami perbedaan perspektif antara data makro dan realitas mikro di lapangan akan membantu merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasih. Dukungan terhadap UMKM untuk go digital dan mengadopsi strategi omnichannel juga krusial agar mereka bisa bersaing.

Video di atas adalah contoh visualisasi tentang bagaimana perubahan perilaku konsumen memengaruhi lanskap bisnis saat ini.

Jadi, fenomena Rojali ini bukan sekadar orang yang cuma numpang lewat. Ini adalah sinyal dari perubahan besar dalam cara kita berbelanja dan berinteraksi dengan ruang komersial. Siap tidak siap, industri ritel harus terus beradaptasi!

Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian termasuk tim Rojali yang cuma jalan-jalan di mal, atau memang beralih ke belanja online? Yuk, bagi cerita dan pendapat kalian di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar