Blak-blakan! Rasanya Bikin Kesepakatan Tarif Sama Trump: Syok, Kacau, Tapi Kok Gitu Doang?
Coba deh bayangin, lagi asyik-asyiknya bisnis, tiba-tiba di pagi hari lo bangun, ngecek berita, dan boom! Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan gaya khasnya, mengumumkan kebijakan tarif yang bikin seisi dunia geger. Tanggal 2 April itu jadi hari yang bikin deg-degan, apalagi buat negara-negara di Asia Tenggara. Kenapa? Karena ekonomi di kawasan ini itu dibangun di atas fondasi ekspor. Jadi, begitu ada guncangan di pasar global, terutama dari raksasa seperti AS, langsung terasa banget efeknya.
Wartawan BBC yang sudah puluhan tahun malang melintang di wilayah ASEAN sempat ngobrol langsung dengan para taipan, alias bos-bos besar yang jadi penggerak utama ekspor dari Asia Tenggara ke Amerika Serikat. Dari obrolan ini, terungkap gimana sih rasanya bernegosiasi dan mencapai kesepakatan tarif dengan seorang Donald Trump. Rasanya itu campur aduk: syok, kacau balau, dan ujung-ujungnya kok malah jadi kayak “kemenangan hampa” aja?
Awal Mula Guncangan Tarif: Dari Syok Sampai Pusing Tujuh Keliling¶
Kebijakan tarif yang diumumkan Trump itu memang bikin kaget. Bayangin aja, pungutan tarifnya bisa mencapai angka fantastis, sampai 49% di beberapa negara Asia Tenggara. Dampaknya? Langsung berasa ke mana-mana, menghantam berbagai industri kunci. Mulai dari para eksportir elektronik di Thailand dan Vietnam yang tiba-tiba harus mikirin harga jual yang makin mahal, produsen chip di Malaysia yang kepikiran biaya produksi, sampai pabrik baju di Kamboja yang omzetnya terancam anjlok. Semua jadi serba nggak pasti.
“Saya ingat sekali, saat bangun pagi-pagi dan melihatnya [Trump] berdiri di halaman Gedung Putih sambil bawa papan. Saya berpikir: ‘Saya tidak salah lihat, kan? 36%? Bagaimana mungkin?’” cerita Richard Han. Richard ini putra dari pendiri Hana Microelectronics, salah satu produsen elektronik gede banget di Thailand. Pasti rasanya campur aduk antara nggak percaya dan panik, ya kan? Tarif segitu tinggi jelas bikin pusing tujuh keliling.
Thailand Dapat Angin Segar, Tapi…¶
Untungnya, setelah serangkaian drama dan negosiasi yang bikin jantung copot, Thailand, yang awalnya kena tarif 36%, berhasil mencapai kesepakatan. Tarifnya turun jadi 19%, sama kayak kebanyakan negara tetangga. Tapi, jangan salah sangka, prosesnya nggak semudah itu. Negosiasi tarif ini berlangsung sengit, tegang, dan cuma disepakati dua hari sebelum batas waktu yang ditetapkan Trump, yaitu 1 Agustus. Detail kesepakatannya? Sampai sekarang masih abu-abu dan bikin bertanya-tanya.
ASEAN sebagai kawasan itu nggak main-main lho dalam urusan ekspor ke AS. Sepuluh negara di ASEAN secara total mengekspor barang senilai lebih dari Rp7.877 triliun (sekitar US$477 miliar) di tahun 2024. Angka sebesar itu tentu bikin Amerika Serikat melirik, dan kebijakan tarif ini jelas jadi alat tawar-menawar yang kuat.
Drama Negosiasi: Vietnam Jadi Pionir, Thailand Kena Tikung¶
Kalau ada satu negara yang paling terdampak oleh kebijakan tarif Trump, itu adalah Vietnam. Bayangin aja, nilai ekspor mereka ke AS mencapai Rp2.262 triliun (sekitar US$137 miliar). Angka segini itu setara dengan sekitar 30% dari total ekonomi (PDB) Vietnam! Jadi, nggak heran kalau pemerintah Vietnam jadi yang paling ngebut untuk bernegosiasi dengan AS. Mereka juga jadi negara pertama di kawasan yang berhasil memangkas tarif Trump dari 46% jadi 20%.
Sebagai “imbalan”, Trump bilang Vietnam nggak bakal lagi mengenakan tarif buat semua barang impor dari AS. Menariknya, para pemimpin Vietnam sendiri nggak berkomentar apa pun soal kesepakatan itu. Nggak ada detail, nggak ada dokumen tertulis atau yang ditandatangani, bahkan ada laporan yang bilang kalau Vietnam sebenarnya nggak sepakat dengan angka-angka yang dikoar-koarkan Trump. Tapi, apapun itu, angka-angka ini akhirnya jadi standar bagi negara-negara lain di Asia Tenggara. Indonesia dan Filipina menyusul, dengan kesepakatan tarif berkurang jadi 19%, meskipun kedua negara ini nggak terlalu bergantung banget sama ekspor ke AS.
Kenapa Thailand Malah Keteteran?¶
Padahal, Thailand ini termasuk eksportir besar ke AS. Tahun lalu, nilai ekspor mereka lebih dari Rp1.040 triliun (sekitar US$63 miliar), atau sekitar seperlima dari total ekspor mereka. Harusnya mereka jadi yang paling depan di Washington, memohon-mohon pengurangan tarif 36% yang ditetapkan Trump. Tapi kok malah Thailand jadi berada di barisan belakang, ya?
Nah, ini dia bedanya. Vietnam itu kan negara komunis satu partai. Jadi, keputusan penting bisa dibuat cepat oleh segelintir pemimpin, tanpa perlu pusing mikirin pendapat pebisnis atau rakyatnya. Beda jauh sama Thailand. Sama seperti Korea Selatan dan Jepang, yang kesepakatannya juga makan waktu dan debat panjang padahal mereka sekutu setia Amerika, Thailand juga harus berhadapan dengan politik dalam negeri dan opini publik yang beragam. Ditambah lagi, Thailand punya pemerintahan koalisi yang lemah dan terpecah belah, yang terikat pada berbagai kepentingan pribadi. Komplikasi banget, kan?
Video di atas hanya ilustrasi. Anda bisa mencari video relevan lainnya tentang perang dagang dan dampaknya.
Durian Runtuh yang Bikin Marah: Isu Non-Perdagangan Ikut Campur¶
Seakan masalah dalam negeri belum cukup, ada juga keputusan Thailand yang nggak ada hubungannya sama perdagangan, tapi malah bikin AS marah besar. Februari lalu, Thailand memulangkan 40 pencari suaka Uighur yang sudah tertahan lebih dari 10 tahun di sana, ke China. Langkah ini dianggap mengabaikan peringatan dari Menteri Luar Negeri AS saat itu, Marco Rubio. Seorang pejabat dagang Thailand bahkan bilang ke BBC kalau negosiator AS mengungkit masalah Uighur ini pas negosiasi tarif, Mei lalu. Bayangin, lagi bahas duit, eh malah nyerempet ke masalah kemanusiaan!
Selain itu, ada juga kasus di mana seorang komandan militer regional Thailand mengajukan gugatan lèse-majesté (penghinaan terhadap kerajaan) atas seorang akademisi AS. Warga AS itu akhirnya dipenjara dan kemudian dipaksa cabut dari Thailand. Jadi, alih-alih fokus ke masalah ekonomi, negosiasi Thailand ini malah dipersulit dengan isu-isu non-perdagangan yang bikin hubungan jadi panas dingin. Pantas saja Thailand jadi keteteran di barisan belakang.
Sektor Pertanian: Daging Babi dan Kotak Pandora¶
Kesulitan lain yang dihadapi tim perdagangan Thailand adalah permintaan AS agar mereka bisa masuk ke pasar pertanian Thailand. Pasar ini itu sangat dilindungi oleh pemerintah lokal. Makanan itu bisnis super besar di Thailand. CP Group, salah satu raksasa agribisnis dunia, adalah perusahaan terbesar di negara ini. Jadi, tuntutan AS ini berpotensi sangat merugikan Thailand kalau nggak hati-hati.
“Vietnam itu membuka kotak Pandora,” kata pejabat perdagangan Thailand lainnya. “Dengan menawarkan tarif 0% untuk semua impor AS, mereka mempersulit kami yang tidak bisa begitu saja membuka semua sektor untuk persaingan AS.” Pernyataan ini jelas menunjukkan dilema besar yang dihadapi Thailand.
Coba deh kita tengok Worawut Siripun, seorang peternak babi di Nakhon Nayok, tiga jam dari Bangkok. Dia punya sekitar 12.000 ekor babi, dan bisnisnya ini vital banget karena orang Thailand itu doyan banget makan daging babi. Worawut aktif di Asosiasi Peternak Babi Thailand dan sudah mati-matian melobi agar tarif daging babi AS nggak dihapuskan. “Peternak AS memproduksi dalam skala yang jauh lebih besar daripada kami dan biaya mereka lebih rendah. Jadi, harga daging babi mereka akan lebih rendah sehingga peternak Thailand tidak akan mampu bertahan,” keluhnya. Kekhawatiran ini bukan cuma bualan, lho. Akses ke pasar pertanian juga jadi kendala utama dalam negosiasi AS dengan Jepang (yang berupaya melindungi petani padinya) dan India.
Di Thailand, raksasa agribisnis seperti CP diyakini juga sudah melobi kuat agar tuntutan AS nggak dibuka di sektor lain seperti unggas dan jagung. Bayangin deh, di balik layar, pasti terjadi pertemuan yang menegangkan antara tim perdagangan dan menteri kabinet setiap kali selesai negosiasi tarif di Washington. Tekanan dari domestik dan internasional benar-benar bikin puyeng.
Suara Pengusaha: Antara Harapan dan Ketidakpastian¶
Di tengah semua drama ini, ada sekelompok pengusaha di Thailand yang sumbangan mereka ke ekonomi jauh lebih besar daripada sektor pertanian. Mereka itu yang butuh banget kesepakatan tarif ini, dan mereka butuh kepastian.
“Kalau dikenakan tarif 36%, ini akan sangat buruk bagi kami,” kata Suparp Suwanpimolkul, wakil direktur SK Polymer, sebelum kesepakatan diumumkan. Perusahaannya ini memproduksi beragam komponen dari karet dan bahan sintetis, buat mesin cuci, kulkas, dan pendingin ruangan. “Saya jamin Anda akan menemukan setidaknya satu produk kami di rumah Anda,” ujarnya penuh keyakinan. SK Polymer ini dimulai dari bisnis keluarga kecil ayah Suparp di tahun 1991, lalu berkembang pesat berkat pertumbuhan perdagangan global yang jadi fondasi ekonomi Thailand. Mereka itu bagian penting dari rantai pasokan global yang kompleks, di mana produk mereka digabung dengan komponen lain dari berbagai negara untuk bikin barang konsumsi, industri, atau medis buat ekspor.
Sekitar 20% pendapatan perusahaan ini langsung dari AS, tapi angkanya jauh lebih tinggi kalau produk yang mengandung komponennya juga dihitung. Tarif Trump jelas jadi hambatan. “Margin keuntungan kami kecil,” keluh Suparp. Ia bilang mereka masih bisa bertahan dengan tarif 20% atau bahkan 25%, asal mereka bisa memangkas biaya operasional. Tapi, buat Suparp, tantangan terbesarnya itu bukan angkanya, melainkan ketidakpastian. “Tolong, kepada pemerintah kami, dapatkan saja kesepakatannya, agar kami dapat merencanakan bisnis kami,” pintanya kala itu, jelas menunjukkan betapa gentingnya situasi.
Ternyata, tarif 20% juga masih bisa diterima oleh pabrik-pabrik elektronik, industri yang besar di Thailand. Richard Han, CEO Hana Microelectronics, yang perusahaannya memproduksi komponen dasar buat semua barang digital, dari papan sirkuit cetak, sirkuit terpadu, sampai label RFID, juga berpendapat sama. “Kalau semua pabrik di kawasan ini kena tarif sekitar 20%, para pembeli tidak akan mencari supplier lain. Itu hanya akan menjadi pajak, seperti PPN, bagi konsumen di AS,” jelasnya. Richard bilang cuma sekitar 12% produknya yang dikirim langsung ke AS, tapi seperti SK Polymer, proporsi yang dikirim secara tidak langsung sebagai bagian dari barang manufaktur lainnya jauh lebih tinggi.
Tabel Ringkasan Tarif (Contoh)¶
| Negara | Tarif Awal (% ) | Tarif Setelah Negosiasi (%) | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Vietnam | 46 | 20 | Klaim Trump: 0% untuk impor AS |
| Thailand | 36 | 19 | Negosiasi alot, isu non-dagang ikut campur |
| Indonesia | - | 19 | Klaim Trump: 0% untuk impor AS (dibantah) |
| Filipina | - | 19 | Klaim Trump: 0% untuk impor AS (dibantah) |
Masalah ‘Transhipment’ dan Ketergantungan pada China¶
Tapi, bukan cuma angka tarif yang bikin Richard Han khawatir. Kegelisahan terbesarnya adalah soal pemindahan muatan dari satu alat transportasi ke lainnya, atau yang sering disebut transhipment. AS menuduh China menghindari tarif dengan mengalihkan produksinya melalui Asia Tenggara. Trump bahkan pernah bilang Vietnam bakal kena tarif 40% – dua kali lipat dari tarif normal – untuk barang-barang yang dinilai AS sebagai transshipment.
Memang benar, baik Thailand maupun Vietnam mengalami peningkatan investasi asing yang signifikan setelah tarif diberlakukan terhadap China pada periode pertama pemerintahan Trump. Ekspor mereka ke AS juga meningkat. Sebagian dari peningkatan itu memang berasal dari perusahaan China yang memindahkan produksinya; sebagian lagi dari produk yang menggunakan lebih banyak komponen buatan China. Dan komponen-komponen ini nggak cuma dari China, lho.
Di pabrik elektronik lain, SVI, robot-robot mondar-mandir di jalur perakitan membawa ratusan komponen kecil untuk merakit papan sirkuit di mesin-mesin yang harganya ratusan ribu dolar. Kalau dilihat labelnya, komponen-komponen itu berasal dari Malaysia, Filipina, Taiwan, dan China. SVI sendiri memproduksi kamera keamanan, amplifier khusus, peralatan medis, dan apa pun sesuai spesifikasi pelanggan mereka, yang sebagian besar berasal dari Skandinavia.
“Asia Tenggara sangat bergantung pada China,” kata Richard Han. “China, sejauh ini, memiliki rantai pasokan terbesar untuk elektronik dan banyak industri lainnya, dan mereka adalah yang termurah.” Ini dia inti masalahnya. “Kami bisa membeli bahan baku dari belahan dunia lain. Tapi biayanya akan jauh lebih mahal. Dan hampir mustahil bagi Thailand, Vietnam, Filipina, atau Malaysia untuk mendapatkan ambang batas yang sangat tinggi, katakanlah 50-60% komponennya diproduksi di dalam negeri. Jika itu syarat untuk mendapatkan sertifikat asal barang dari AS, maka tidak akan ada yang mendapatkan sertifikat itu,” jelas Richard. Artinya, meskipun niatnya mau mandiri, realitanya nggak semudah itu.
Kemenangan Hampa dan Masa Depan yang Abu-abu¶
Saat ini, sangat sedikit detail yang terungkap dari kesepakatan tarif ini. Meskipun Presiden Trump mengeklaim telah mendapatkan tarif 0% untuk barang-barang AS yang masuk ke Filipina dan Indonesia, kedua negara tersebut dengan tegas mengatakan bahwa hal ini tidak benar, dan masih banyak yang perlu dinegosiasikan. Ini menunjukkan betapa ambigu dan mungkin one-sided-nya klaim Trump.
Bagi pemerintah Thailand, yang terlambat memulai dan kesulitan memenuhi tuntutan AS, mendapatkan kesepakatan saja sudah jadi kelegaan luar biasa. Mereka mungkin akan memikirkan gimana agar kesepakatan itu berhasil nanti, sementara detailnya dirampungkan – yang biasanya bisa makan waktu bertahun-tahun. Dan dalam hal ini, mereka nggak sendirian. Negara-negara maju dan berkembang sama-sama berjuang untuk mengimbangi kebijakan tarif Trump yang fluktuatif dan seringkali bikin geleng-geleng kepala.
“Pada titik tertentu ini harus dihentikan. Tentunya harus dihentikan?” kata Richard Han, menyuarakan kegelisahan banyak pihak. “Masalahnya, kita tidak tahu apa aturan mainnya nanti, jadi kita semua menunggu, hanya menunggu untuk mengetahui cara memainkan permainan baru ini.” Rasa syok, kacau, dan kemenangan yang terasa hampa ini mungkin akan terus membayangi dunia perdagangan sampai ada kejelasan yang pasti.
Bagaimana menurut kalian, apakah kebijakan tarif seperti ini efektif atau justru merugikan semua pihak dalam jangka panjang? Yuk, bagikan pendapat dan pengalaman kalian di kolom komentar!
Posting Komentar