Cemas Gegara Demo? Kata Dokter, Ini Lho Gejala Anxiety yang Wajib Kamu Tahu!

Table of Contents

Belakangan ini, jagat maya dan kehidupan nyata kita kayaknya lagi diuji banget, ya? Mulai dari info demo, kerusuhan, sampai kabar-kabar kekerasan yang beredar di mana-mana bikin banyak dari kita jadi “lelah mental” alias anxiety. Rasanya tuh kayak otak capek banget, bawaannya was-was terus, dan kadang sampai takut buat cek media sosial lagi. Siapa di sini yang ngerasain hal yang sama? Kamu nggak sendiri, kok!

Situasi di luar sana memang seringkali bikin hati dag dig dug. Informasinya deras banget, apalagi di era digital sekarang. Tiap buka HP, ada aja kabar yang bisa bikin kita mikir macem-macem. Wajar kalau akhirnya jadi gampang cemas, merasa nggak aman, atau bahkan jadi kepikiran terus-menerus. Ini adalah respons alami tubuh dan pikiran terhadap situasi yang dianggap mengancam atau tidak pasti.

Ilustrasi Gejala Anxiety

Salah satu contohnya kayak Risa (25), seorang karyawan swasta di Jakarta Selatan. Dia ngaku belakangan ini jadi lebih sering cemas dan kepikiran banget setelah banyak banget informasi demo berseliweran di medsos. Risa jadi selektif banget sama apa yang dia lihat. “Jadi jarang buka sosmed. Kalau misalnya buka, sosmed terkait demo selalu di-skip, jadi lihat (postingan) makanan aja,” kata Risa sambil tertawa getir. Dia bahkan sampai harus skip story orang kalau isinya tentang demo, semata-mata buat menenangkan dirinya sendiri.

Senada dengan Risa, Dwi (29), karyawan swasta di Jakarta Timur, juga merasakan hal serupa. Aksi unjuk rasa, berita kekerasan, sampai kabar kematian bikin dia down dan lelah secara mental. “Khawatir dan ngeri atas kekerasan yang dilakukan, meski terbiasa melihat kekerasan di film, namun apabila terjadi di dunia nyata, lebih menimbulkan perasaan tidak enak dan marah,” ungkap Dwi. Bayangin aja, yang biasanya cuma terjadi di layar lebar, sekarang terasa begitu dekat dengan realitas.

Meskipun begitu, Dwi memilih untuk tidak jadi apatis sepenuhnya. Dia tetap coba main media sosial, tapi dengan batasan yang jelas. Tujuannya buat cari tahu informasi lanjutan dari gelombang demonstrasi yang terjadi. “Namun masih dalam batasan yang wajar. Sekiranya sudah terlalu fatal, langsung menutup sosmed,” katanya. Ini adalah salah satu cara cerdas untuk menjaga kesehatan mental di tengah banjir informasi.

Menguak Lebih Jauh Soal Anxiety

Nah, sebenarnya apa sih itu anxiety atau kecemasan? Menurut dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, seorang spesialis kedokteran jiwa, perasaan cemas akibat kondisi negara yang lagi bermasalah itu wajar banget, kok. Itu adalah reaksi emosi alami yang sebetulnya positif. Kita jadi waspada, jadi lebih hati-hati. Tapi, ada tapinya nih. Kalau responsnya berlebihan atau jadi reaktif, itu yang bisa berubah jadi gangguan cemas (ansietas).

Jadi, bedanya cemas biasa sama gangguan cemas itu tipis tapi penting banget. Cemas biasa datang dan pergi, biasanya terkait dengan pemicu spesifik kayak ujian, wawancara kerja, atau ya, demo ini. Setelah pemicunya lewat, kecemasannya juga mereda. Tapi, kalau gangguan cemas, perasaan cemasnya itu persisten, intens, seringkali nggak proporsional sama pemicunya, dan yang paling penting, mulai mengganggu kehidupan sehari-hari kita. Ini yang harus kita perhatikan baik-baik.

Kenapa Demo atau Kondisi Sosial Bisa Bikin Kita Cemas?

Ada beberapa alasan kenapa situasi seperti demo besar-besaran atau ketidakpastian sosial bisa memicu anxiety pada banyak orang:
* Rasa Tidak Aman: Melihat berita kekerasan, penjarahan, atau konflik bisa membuat kita merasa lingkungan sekitar tidak aman, bahkan jika kita tidak berada di lokasi kejadian. Pikiran bawah sadar kita bisa menganggap ini sebagai ancaman.
* Ketidakpastian Masa Depan: Kondisi sosial yang bergejolak seringkali menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan, stabilitas ekonomi, atau keamanan personal. Ketidakpastian ini adalah lahan subur buat kecemasan.
* Informasi Berlebihan (Overload Informasi): Medsos yang tanpa filter bisa menyajikan informasi (dan misinformasi) secara masif dan cepat. Terlalu banyak terpapar berita negatif atau provokatif bisa bikin otak kewalahan dan memicu stress serta anxiety.
* Empati dan Solidaritas: Kita sebagai manusia punya empati. Melihat penderitaan orang lain, bahkan di berita sekalipun, bisa membuat kita ikut merasakan duka atau khawatir, apalagi jika itu terjadi di negara kita sendiri.

Gejala Anxiety yang Wajib Kamu Tahu!

Penting banget buat kita mengenali gejala-gejala kecemasan ini, biar kita bisa tahu kapan saatnya harus mulai waspada atau mencari bantuan. Gejala anxiety itu nggak cuma perasaan khawatir aja, tapi bisa juga muncul dalam bentuk fisik dan perilaku. Yuk, kita cek bareng-bareng!

Gejala Fisik

Gejala fisik ini seringkali jadi yang paling pertama kita rasakan, kadang tanpa kita sadari kalau itu bagian dari kecemasan.
1. Jantung Berdebar Kencang: Rasanya kayak habis lari maraton padahal lagi duduk manis. Detak jantung jadi lebih cepat dan kadang nggak beraturan.
2. Keringat Dingin atau Gemetar: Telapak tangan jadi basah, tubuh sedikit gemetar, bahkan di ruangan ber-AC sekalipun.
3. Sesak Napas atau Napas Pendek: Rasanya sulit banget buat bernapas dalam-dalam, kayak ada beban di dada. Ini seringkali bikin panik.
4. Otot Tegang: Pundak, leher, atau rahang jadi kaku dan nyeri. Ini karena tubuh kita secara refleks bersiap untuk “melawan” atau “kabur” (respons fight-or-flight).
5. Pusing atau Sakit Kepala: Sensasi pusing, kepala terasa berat, atau migrain bisa jadi tanda kecemasan yang berlebihan.
6. Gangguan Pencernaan: Perut mules, mual, diare, atau sembelit mendadak bisa juga karena cemas. Usus dan otak itu terhubung erat, lho!
7. Sulit Tidur: Pikiran terus berputar, susah banget buat memejamkan mata atau tidur nyenyak, akhirnya jadi begadang terus.
8. Cepat Lelah: Meskipun nggak ngapa-ngapain, badan rasanya capek banget. Ini karena pikiran yang terus bekerja keras di bawah tekanan kecemasan.

Gejala Emosional

Selain fisik, ada juga perubahan emosional yang bisa kita rasakan.
1. Merasa Gelisah atau Khawatir Berlebihan: Perasaan was-was yang nggak hilang-hilang, bahkan terhadap hal-hal kecil.
2. Iritabilitas: Gampang marah, tersinggung, atau merasa kesal tanpa alasan yang jelas. Rasanya pengen marah-marah terus.
3. Sulit Konsentrasi: Susah fokus saat kerja, belajar, atau bahkan nonton film favorit. Pikiran terus melayang ke hal-hal yang bikin cemas.
4. Merasa Terancam atau Takut: Perasaan takut yang intens, seolah ada bahaya besar yang akan datang padahal tidak ada ancaman nyata.
5. Merasa Tidak Berdaya: Perasaan bahwa kita tidak bisa mengendalikan situasi atau apa yang terjadi di sekitar kita.

Gejala Perilaku

Kecemasan juga bisa mengubah cara kita bertindak.
1. Menghindari Situasi Tertentu: Misalnya, Risa yang menghindari berita demo atau Dwi yang membatasi medsos. Ini adalah mekanisme coping tapi kalau berlebihan bisa jadi masalah.
2. Sulit Melakukan Tugas Sehari-hari: Karena pikiran terdistraksi atau badan lelah, aktivitas rutin jadi terhambat.
3. Menarik Diri dari Sosial: Nggak mau ketemu orang, lebih suka menyendiri, atau menghindari percakapan yang mungkin memicu kecemasan.

Kapan Butuh Bantuan Profesional?

Seperti yang dr. Lahargo Kembaren bilang, cemas itu wajar. Tapi, apabila direspons secara berlebihan atau reaktif sampai mengganggu kualitas hidup, ini saatnya kita mulai mempertimbangkan bantuan profesional. Lalu, seperti apa sih tanda-tanda kecemasan yang “berlebihan” itu?

Kamu sebaiknya mencari bantuan profesional jika:
* Kecemasanmu Sudah Mengganggu Aktivitas Sehari-hari: Misalnya, jadi sulit tidur berhari-hari, nggak bisa fokus kerja atau belajar, jadi sering bolos, atau bahkan jadi sulit bersosialisasi karena terus-menerus cemas.
* Gejala Fisik Kecemasan Terlalu Intens atau Sering Terjadi: Kamu sering mengalami serangan panik (rasa takut yang intens dan tiba-tiba disertai gejala fisik parah), jantung berdebar kencang tanpa henti, atau sesak napas yang membuatmu khawatir.
* Merasa Tidak Mampu Mengatasi Kecemasan Sendirian: Kamu sudah mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, tapi rasanya nggak ada yang berhasil dan kecemasan itu terus menghantui.
* Mulai Menyalahgunakan Alkohol atau Obat-obatan: Beberapa orang mencoba “meredakan” kecemasannya dengan cara yang tidak sehat, seperti minum alkohol berlebihan atau menggunakan obat-obatan terlarang. Ini adalah tanda bahaya serius.
* Memiliki Pikiran untuk Menyakiti Diri Sendiri atau Orang Lain: Ini adalah tanda darurat. Jika kamu atau orang yang kamu kenal memiliki pikiran seperti ini, segera cari bantuan medis atau profesional kesehatan mental.

Jangan ragu untuk mencari pertolongan dari psikolog atau psikiater. Mereka adalah ahli yang bisa membantumu memahami apa yang terjadi, memberikan diagnosis yang tepat, dan menawarkan strategi penanganan yang efektif, seperti terapi bicara (cognitive behavioral therapy atau CBT) atau, jika diperlukan, pengobatan. Ingat, mencari bantuan itu bukan tanda kelemahan, tapi justru kekuatan dan langkah cerdas untuk menjaga diri.

Cara Mengelola Kecemasan di Tengah Kegalauan Sosial

Oke, jadi kita sudah tahu gejala-gejalanya dan kapan harus ke profesional. Tapi, ada nggak sih cara yang bisa kita lakukan sendiri untuk mengelola kecemasan ini sehari-hari, apalagi di tengah situasi yang lagi bikin hati dag dig dug? Tentu saja ada! Ini dia beberapa tips yang bisa kamu coba:

1. Batasi Paparan Informasi Negatif

Mirip seperti yang dilakukan Risa dan Dwi. Coba deh, batasi waktu kamu scroll media sosial atau nonton berita. Kamu nggak perlu tahu setiap detail dari setiap kejadian yang lagi ramai. Pilih satu atau dua sumber berita yang terpercaya dan tentukan waktu spesifik untuk mengeceknya, misalnya cuma 15 menit di pagi hari dan 15 menit di malam hari. Selebihnya, fokus pada hal lain.

2. Fokus pada Apa yang Bisa Kamu Kendalikan

Banyak hal di luar sana yang memang di luar kendali kita. Tapi, kita selalu bisa mengendalikan respons kita sendiri. Fokus pada hal-hal kecil yang bisa kamu lakukan, misalnya menjaga kesehatan diri, menyelesaikan tugas-tugasmu, atau melakukan hobi yang kamu suka. Ini bisa memberi kita rasa kendali yang sangat dibutuhkan.

3. Latihan Pernapasan dan Meditasi

Ini basic banget tapi powerful! Saat cemas, napas kita cenderung pendek dan cepat. Coba deh teknik pernapasan dalam: tarik napas perlahan lewat hidung selama 4 hitungan, tahan 7 hitungan, lalu buang napas perlahan lewat mulut selama 8 hitungan. Ulangi beberapa kali. Ada banyak aplikasi meditasi juga yang bisa membantu kamu menenangkan pikiran.

Kalau kamu penasaran, coba deh cari video tutorial pernapasan yang menenangkan di YouTube. Misalnya, ada banyak tutorial tentang box breathing atau pernapasan 4-7-8 yang gampang banget diikuti!

4. Jaga Gaya Hidup Sehat

Ini klise tapi benar banget! Tidur yang cukup (7-9 jam), makan makanan bergizi seimbang, dan rutin berolahraga. Olahraga itu pelepasan stres alami paling ampuh, lho! Nggak perlu yang berat-berat, jalan kaki 30 menit sehari juga sudah bantu banget.

5. Hubungan Sosial yang Kuat

Jangan mengisolasi diri! Ngobrol sama teman, keluarga, atau pasangan. Ceritakan apa yang kamu rasakan. Kadang, cuma dengan cerita aja sudah bisa melegakan hati. Mereka juga mungkin punya tips atau pengalaman serupa yang bisa kamu jadikan pelajaran.

6. Lakukan Hobi atau Aktivitas yang Menyenangkan

Alihkan perhatianmu dari sumber kecemasan. Lakukan hal-hal yang kamu suka, entah itu baca buku, nonton film, berkebun, main musik, atau masak. Ini bisa jadi stress reliever yang ampuh dan mengembalikan mood positifmu.

7. Buat Jurnal Bersyukur

Meskipun di tengah kekacauan, selalu ada hal baik yang bisa kita syukuri. Coba tuliskan 3-5 hal yang kamu syukuri setiap hari. Ini bisa melatih otak kita untuk fokus pada hal positif dan mengurangi overthinking.

Mengelola anxiety di tengah situasi yang tidak menentu memang nggak mudah, tapi bukan berarti nggak mungkin. Kita semua berhak untuk memiliki kesehatan mental yang baik. Ingat, it’s okay not to be okay, tapi penting untuk mengambil langkah-langkah untuk menjadi lebih baik.

Gimana, ada nggak gejala anxiety yang sering kamu rasain juga? Atau mungkin kamu punya tips lain buat ngatasinnya? Yuk, share pengalaman dan ceritamu di kolom komentar di bawah! Siapa tahu ceritamu bisa membantu teman-teman lain yang lagi berjuang.

Posting Komentar